Hari Santri Nasional: Berikut Tokoh Nasional yang Berlatar Belakang Santri

Tim Editor

Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Nadjib, dan Yusril Ihza Mahendra dalam diskusi buku Islam Demokrasi Atas Bawah di Jakarta tahun 1998. (Foto: Commons Wikimedia)

ERA.id - Hari ini bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober. Penetapan itu berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Pemilihan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional merujuk pada sebuah peristiwa bersejarah yakni seruan jihad umat Islam melawan penjajah yang dibacakan oleh pahlawan nasional KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945. 

Sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, peran santri memang patut diperhitungkan. Selain turut membantu melawan agresi militer dari penjajah, para santri juga turut berkontribusi terhadap pembangunan bangsa dan negara. Salah satunya para tokoh berikut, yang ternyata berasal dari kalangan santri.

Abdurrahman Wahid

Dr.(H.C.) K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia keempat dari tahun 1999 hingga 2001.

Gus Dur tercatat pernah belajar di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng yang sudah berdiri sejak 1899. Beliau juga cucu dari pendiri Ponpes Tebuireng, --sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU)--K.H Hasyim Asy’ari dan putra dari K.H Wahid Hasyim.  

Pada tahun 1974 Gusdur sempat bekerja di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas. Satu tahun kemudian ia menambah pekerjaannya dengan menjadi Guru Kitab Al Hikam.

Gus Dur saat masih muda. (Foto: Commons Wikimedia)

 

Pada tahun 1977, Gusdur bergabung ke Universitas Hasyim Asy'ari sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam. Universitas ingin agar Gusdur mengajar subjek tambahan seperti syariat Islam dan misiologi. Namun, kelebihannya menyebabkan beberapa ketidaksenangan dari sebagian kalangan universitas.

Gusdur juga berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Pada saat itu, pesantren berusaha keras mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Gusdur merasa prihatin dengan kondisi itu karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan ini. 

Gusdur juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Pada waktu yang sama ketika mereka membujuk pesantren mengadopsi kurikulum pemerintah, pemerintah juga membujuk pesantren sebagai agen perubahan dan membantu pemerintah dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Gusdur memilih batal belajar luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.

Din Syamsuddin

Tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin ternyata juga seorang santri. Ia tercatat pernah belajar di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, pada tahun 1975.

Pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, ini terkenal dengan penerapan disiplin, penguasaan bahasa asing (Arab dan Inggris), kaderisasi dan jaringan alumni yang sangat kuat.

Din pernah Menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015, jabatannya ini lalu digantikan oleh Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si. Istrinya bernama Fira Beranata, dan memiliki 3 orang anak. Ia diamanati untuk menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat menggantikan Dr (HC). KH. Sahal Mahfudz yang meninggal.

Pria kelahiran di Sumbawa, NTB pada 31 Agustus 1958 itu belakangan juga turut bersama mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mendeklarasikan gerakan moral KAMI pada 18 Agustus 2020 di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat.

Din Syamsuddin. (Foto: Commons Wikimedia)

 

Hasyim Muzadi

Hasyim Muzadi adalah seorang tokoh Islam Indonesia dan mantan ketua umum Nahdlatul Ulama yang menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 19 Januari 2015.

Ia juga pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam di Malang, Jawa Timur, sebelumnya dia sempat mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor (1956-1962).

Muzadi menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950, melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Gontor Ponorogo, ia lalu menuntaskan pendidikan tingginya di Institut Agama Islam Negeri Malang, Jawa Timur pada tahun 1969.

Dia telah disebut-sebut sebagai pendamping Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden Indonesia pada awal November 2003. Ia resmi maju bersama Megawati pada 6 Mei 2004. Dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2004, Megawati dan Muzadi meraih 26.2 persen suara di putaran pertama, tetapi kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla di putaran kedua.

Hasyim Muzadi. (Foto: Commons Wikimedia)

 

Ma'ruf Amin

Wakil Presiden Indonesia Ma'ruf Amin juga diketahui sebagai seorang santri. Dia pertama kali belajar di sekolah rakyat di Kecamatan Kresek dan melanjutkan pendidikannya di Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, sebuah pondok pesantren berpengaruh yang didirikan oleh pendiri NU Hasyim Asy'ari (1958-1967). 

Ma'ruf Amin kemudian menerima gelar sarjana dalam bidang filsafat Islam dari Universitas Ibnu Khaldun di Bogor, Jawa Barat. Ia juga mendapat pendidikan khusus di sebuah pesantren di Banten pada tahun 1963.

Tak lama setelah lulus dari perguruan tinggi, Ma'ruf melakukan tugas dakwah di Jakarta. Pada saat itu, NU masih merupakan partai politik yang aktif dan Ma'ruf terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dalam pemilihan umum legislatif 1971. 

Ma'ruf Amin. (Foto: Commons Wikimedia)

 

Enam tahun kemudian, pada tahun 1977, ia terpilih menjadi anggota DPRD DKI Jakarta sebagai anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk satu periode (1977–1982) dan menjabat sebagai pemimpin fraksi PPP. Di akhir masa jabatannya, Ma'ruf kembali ke kampus dan aktivisme sosial. 

Pada tahun 1989, ia ditunjuk sebagai katib 'aam, posisi senior dalam syuriah NU, dewan pemimpin tertinggi. Dia kemudian naik menjadi salah satu dari ra'is, pemimpin, mengawasi kepemimpinan eksekutif Abdurrahman Wahid.

Hidayat Nur Wahid

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid juga diketahui pernah menjadi santri. Pendidikan formal dimulainya dari SD Negeri Kebondalem Kidon, lulus pada tahun 1972. Ketertarikan mendalami Islam membuatnya mendaftar ke Pondok Pesantren Wali Songo di Ngabar, Siman, Ponorogo, sebelum melanjutkan pendidikannya di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, lulus tahun 1978.

Selama di bangku sekolah, Hidayat sudah gemar berorganisasi. Dia menjadi salah satu staf koordinator kesekretariatan Pramuka di Gontor pada tahun 1978, ketika duduk di kelas lima pesantren tersebut. Dia juga tercatat sebagai anggota Pelajar Islam Indonesia (PII).

Setelah lulus dari Gontor pada tahun 1978, Hidayat mendaftar masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Meskipun Hidayat sebelumnya ingin melanjutkan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, tetapi dia kemudian memutuskan untuk mendalami ilmu agama Islam. Dia memilih masuk fakultas syariah dan sempat mengikuti pelatihan kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam di kampus tersebut.

Hidayat Nur Wahid. (Foto: Commons Wikimedia)

 

Setahun kemudian, Hidayat mendapat beasiswa untuk studi sarjana di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Dia memilih masuk ke fakultas dakwah dan ushuluddin, dan lulus dengan predikat cum laude pada tahun 1983.

Setelah lulus sarjana, ia melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang magister (lulus 1987) dan doktor (lulus 1992) di universitas yang sama. Di Madinah, ia aktif berorganisasi hingga terpilih sebagai Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Arab Saudi periode 1983-1985.

Tag: Hari Santri Nasional Pesantren

Bagikan: