Wota dan Larisnya Eskapisme ala Idol Group

Ilustrasi (Raga/era.id)

Insiden kepergok pacaran bisa saja menghasilkan hukuman. Ini sempat terjadi pada tahun 2013, ketika seorang anggota AKB48 Minami Minegishi harus rela rambutnya digundul sebagai bentuk permintaan maaf kepada fan, hanya karena tertangkap basah bertemu dengan pacarnya. 

 

Dibentuk oleh 48Group pada tahun 2011 sebagai sebuah idol group ala kultur Jepang, identitas JKT48 kerap kali justru didefinisikan lewat basis penggemarnya yang fanatik. Semua itu bermula dari ide penulis lirik sukses asal Jepang, Yasushi Akimoto, yang pada tahun 2005 menciptakan sebuah idol group di Akihabara, Jepang, bernama AKB48.

Kultur 'idol' sendiri bukan hal yang baru di Jepang; publik negara Matahari Terbit itu sudah mengenal idol group lainnya seperti Onyanko Club di era 1980-an. Maka, ketika AKB48 mentas ke panggung pop culture Jepang, mereka sebenarnya hanya mengisi ruang yang sudah jadi di negara itu.

Namun, yang berbeda dari AKB48 adalah konsep yang diusung. Grup yang berisi perempuan cantik berusia remaja ini dipermak dalam label 'idol yang bisa ditemui.' Penggemar tidak berjarak dengan idolnya, terutama bila mereka punya uang lebih untuk ikut sesi jabat tangan atau foto bersama. Dan para penggemar idol group pun, seperti ditulis di Japan Info, adalah "supportive groups", yang dengan antusias mengikuti dan mendukung perkembangan idol mereka.

Penggemar idol group pun berkembang di luar pakem dan gelombang obsesi hobi kultur anime dan manga Jepang, yang dikenal dengan istilah 'otaku'. Dan secara kreatif fans idol grup muncul dengan nama Wota.

Ilustrasi (Raga/era.id)


Mereka inilah yang datang ke konser-konser idol group memakai kaos, topi, handuk, atau pin bertemakan idol group kesukaan mereka. Tak lupa juga tentunya lightstick yang selalu siap di tangan dan menyemarakkan koreografi audiens, atau wotagei. Bisa dibilang, dalam konser-konser idol group, keatraktifan para wota adalah keunikan sampingan selain para idol yang ada di panggung.

Ketika franchise AKB48 melebarkan sayap secara internasional pada tahun 2011, dan memilih Jakarta sebagai sasaran Japan wave mereka lewat JKT48, kultur wota pun ikut menyebar seperti cendawan di musim hujan.

Para penggemar fan JKT48 tak ubahnya para wota di mana-mana. Mereka memiliki obsesi yang khas, dan kadang fatal, terhadap para 'oshi', yaitu sebutan untuk anggota idol group pujaan mereka. Mereka rela menggelontorkan uang untuk membeli CD rilisan fisik seharga 35-45 ribu rupiah agar bisa berjabat tangan langsung dengan idolanya. 

Seperti namanya, anggota idol group seperti JKT48 dipermak dan dipasarkan sebagai sosok idola yang membawa unsur kultur 'kawai' atau imut. Idol group yang per Mei 2020 beranggotakan 71 orang ini terdiri dari perempuan-perempuan manis, atraktif, ramah, lucu, dan pekerja keras. Mereka dilarang untuk berpacaran atau bekerja di luar profesinya sebagai anggota idol group.

Baca Juga : Mendalami Tren Operasi Plastik di Korea Selatan

Insiden kepergok berpacaran dengan seseorang bisa saja menghasilkan hukuman. Hal ini sempat terjadi pada tahun 2013, ketika seorang anggota AKB48 Minami Minegishi harus rela rambutnya digundul sebagai bentuk permintaan maaf terhadap fans, hanya karena tertangkap basah bertemu dengan pacarnya. 

Dan dari perimeter yang ketat, ekspektasi pun membumbung di antara para wota atas para idolanya. Tidak jarang perilaku mereka bisa menggambarkan fantasi yang berlebihan atas sosok idola mereka.

Tak jarang seorang wota harus merogoh kocek sangat dalam untuk memberi impresi positif pada idolanya. Bila digambarkan secara finansial, kita bisa melihat Akihabara, "Mekkahnya kultur idol", yang konon merupakan pusat bisnis yang bisa meraup keuntungan hingga 1 miliar dolar atau 14,6 triliun rupiah, setiap tahunnya. 

Baca Juga : Fanatisme Militan Pemuja K-Pop

Dan perlu diketahui juga bahwa para wota tidak terbatas pada kelompok remaja. Tidak jarang lelaki atau perempuan paruh baya, yang sudah berumur 30-40an tahun, akan ikut antrean berjabat tangan dengan para perempuan belia di pusat-pusat event seperti JKT48 Theatre di mall FX Sudirman, Jakarta.

Obsesi memang sering tidak masuk akal. Namun, ini tak menghentikan orang untuk bertanya: Kenapa para penggemar idol group rela menguras modal, tenaga, dan waktunya demi sang idola? Apa alasan di balik obsesi tersebut?

Psikolog Kasandra Putranto mengungkapkan bahwa tren sikap berlebihan pada sosok idola memang sudah melekat di industri musik itu sendiri.

"Tren ini diciptakan oleh industri, memanfaatkan kecintaan fans kepada artis idolanya," ungkap Kasandra.

Budaya mengoleksi rilisan fisik album, foto, lightstick, dan berbagai merchandise, adalah perilaku yang biasa di kultur idol group. Kita bisa melihat pola yang sama di skena genre musik lainnya. Berapa banyak remaja yang memasang poster Link Park di tahun 90’an? 

Fan JKT48. (Nurul/era.id)


Namun, fanatisme para wota JKT48, sebagai bagian kultur idol group, memiliki beberapa faktor pemicu. "Banyak hal, terutama profil psikologis dasarnya, yang ditandai dengan kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial. Sebaiknya diimbangi dengan nilai-nilai universal, nilai budaya, kultural, dan spiritual," kata Kasandra.

Eric Prideaux mungkin bisa menjelaskan pernyataan sang psikolog ketika ia menulis tentang ‘eskapisme’ yang digamit para fans fanatik idol group. Alih-alih menghadapi realitas yang ribet, para wota terlanjur nyaman hidup dalam fantasi bersama idolanya.

Itulah kenapa kata wota mengandung sifat peyoratif, karena penggemar fanatik idol group umumnya tidak terlalu mudah bersosialisasi seperti orang pada umumnya.


Di samping itu, ada pula alasan-alasan ekonomi yang melatari obsesi para wota. Menurut Akio Nakamori, kepopuleran grup idol di Jepang dimulai oleh peristiwa resesi yang terjadi di negara itu. 

"Ada paralel antara London di tahun 1970 dengan Tokyo hari ini,” kata Nakamori. “Ekonomi stagnan dan skena kultur pun mati. Orang-orang mencari sesuatu yang baru. London menciptakan Sex Pistols, sementara jawaban dari Jepang adalah kultur idol."

Ketika kita melihat kultur wota saat ini, dengan sifat eksentrik mereka, kita mungkin ingin melihatnya sebagai peristiwa dua dimensi, sebuah obyek tanpa kedalaman. Kita mudah bersikap menuduh atau meremehkan.

Namun, eskapisme hanya laku di masyarakat yang dipenuhi tuntutan. Dan barangkali JKT48 hadir tidak hanya membawa kultur wota saja, tapi juga cermin yang kita butuhkan untuk melihat sudut-sudut sempit dari wajah peradaban kita.

Tag: jkt48 wota kpop oshi dan obsesi

Bagikan :