Polemik Yamko Rambe Yamko dan Ancaman Kepunahan Bahasa Asli Papua

Tim Editor

    Ilustrasi tarian adat Papua. (Bea Amaya dari Pixabay)

    Jakarta, era.id - Setiap anak yang mengenyam Sekolah Dasar di Indonesia umumnya mengenal lagu Yamko Rambe Yamko. Lagu berirama riang ini diperkenalkan di mata pelajaran seni musik sebagai lagu daerah Papua.

    Identitas lagu Yamko Rambe Yamko telah diterima begitu saja. Ibaratnya, seperti lagu Lir-Ilir di Jawa Tengah, atau Gelang Sipaku Gelang di Sumatera Barat. Sampai suatu pertanyaan dilayangkan oleh pemilik akun @PapuaItuKita di Twitter.
     
    Dalam kicauannya pada tanggal 26 Juni 2020, akun #PapuaItuKita mempertanyakan kembali siapa yang memperkenalkan lagu Yamko Rambe Yamko sebagai lagu daerah Papua. “Coba cek tanya ke orang Papua itu lagu dari Papua mana, bahasa Papua mana?” tulisnya. “Orang Papua tidak tau & tidak mengakui itu sebagai lagu daerah. Siapa Paksa jadi lagu Papua?

    Pada hari ini, postingan tersebut sudah di retweet 5.597 kali dan disukai lebih dari 13,9 ribu pengguna Twitter.

    Di utas kicauan yang sama, akun #PapuaItuKita juga mengutip pengalaman seorang tetua Papua, Simon Patric Morin, yang pada Mei 1963 menyaksikan lagu Yamko Rambe Yamko dimainkan oleh sekelompok seniman dan musisi dari Jakarta. Mereka datang tak lama setelah Papua diserahkan kepada pasukan United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA). Saat itu, Morin masih duduk di kelas III SMP Belanda.

    Kepada laman suarapapua.com, Morin menduga lagu tersebut dinyanyikan oleh seorang pendidik dan pencipta lagu anak-anak bernama Pak Kasur. “Jadi, Pak Kasur yang menyanyikan lagu itu di Biak pertama kali.”
     


    Morin, seorang tokoh Papua, masih mempertanyakan apakah ada daerah di Papua yang sudah mengklaim lagu Yamko Rambe Yamko. Diperkirakan saat ini ada 200 lebih bahasa yang dituturkan di Papua.

    Kepala UPT Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Papua, Dessy Polla Usmani, mengatakan masih akan meneliti asal usul lagu tersebut, dibantu parkar linguistik. “Mungkin itu ditulis orang mana tapi dikatakan oleh orang Papua,” kata Dessy, akhir pekan lalu.

    Tapi Dessy juga tidak memungkiri bila lagu Yamko Rambe Yamko bisa saja berasal dari salah satu bahasa yang terancam punah di Papua. “Bukan berarti bukan berasal dari Papua. Bisa saja dari Papua, tapi mungkin dari bahasa yang penuturnya semakin berkurang dan sisa beberapa orang,” kata Dessy. “Sehingga, tidak ada lagi orang yang ngerti bahasa itu kecuali mereka. Dan mereka itu ada di mana, itu yang sedang kita cari.”

    Fakta ancaman kepunahan bahasa di Papua sudah dirasakan sejak lama. Organisasi Pendidikan, Sains, dan Budaya PBB (UNESCO) dalam rilis edisi ketiga arsip digital Atlas of the World’s Languages in Danger of Extinction menyebut dari 6.900 bahasa di dunia, 2.498 sedang mendapat ancaman kepunahan. Dalam angka itu, seperti dimuat dalam laman PACE, “Seluruh bahasa di Papua saat ini mendapat label terancam punah.”


    Ilustrasi (Ianknabel66 dari Pixabay)

    Ancaman kepunahan bisa bervariasi. Saat ini setengah dari bahasa-bahasa dunia hanya memiliki 2.500 penutur. Ilmu sosial memperkirakan dibutuhkan minimal 100 ribu penutur agar suatu bahasa bisa bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Melihat kembali polemik lagu Yamko Rambe Yamko di tengah kondisi bahasa-bahasa dunia yang terancam punah, tidak mengherankan bila masih sulit menemukan akar bahasa dari lagu tersebut. Apalagi ketika, para penuturnya selama ini jarang terdengar suaranya.

    Seperti ditulis Made Supriatma di laman Facebook miliknya, kenapa selama ini tidak ada yang memberitahu bahwa lagu tersebut bukan dari Papua? Dengan cukup satire, Made menulis, “Jawabnya sederhana: Apakah kalian pernah mendengar orang Papua bicara?

    Tag: kkb papua

    Bagikan :