Mengenang Sukitman, Saksi Pembunuhan para Jenderal di Lubang Buaya

| 28 Sep 2022 10:08
Mengenang Sukitman, Saksi Pembunuhan para Jenderal di Lubang Buaya
Sukitman (Twitter)

ERA.id - Sukitman adalah seorang polisi yang lahir pada tanggal 30 Maret 1943 dan menjadi saksi sejarah terjadinya Gerakan 30 September tahun 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Melalui artikel ini mari mengenang Sukitman sang penemu sumur Lubang Buaya.

Sukitman saat bertugas (Twiiter)

Perlu diketahui, Sumur Lubang Buaya adalah tempat pembuangan jenazah ketujuh perwira Pahlawan Revolusi yang disiksa dan dibunuh oleh simpatisan PKI dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S).

G30S sendiri merupakan peristiwa bersejarah dengan latar belakang kudeta yang terjadi selama satu malam pada tanggal 30 September hingga 1 Oktober 1965.

Dilansir dari buku Propaganda and the Genocide in Indonesia: Imagined Evil kudeta diakhiri dengan tentara Indonesia kembali menguasai Bandara Halim, setelah didahului oleh pertempuran kecil yang terjadi pada dini hari tanggal 2 Oktober.

Pentolan PKI Aidit diketahui terbang ke Yogyakarta, dimana dia bersembunyi. Kemudian dalam beberapa minggu Aidit ditemukan dan ditembak oleh tentara, tanpa membuat pernyataan publik.

Kemudian mayat-mayat para jenderal yang terbunuh digali secara terbuka tiga hari kemudian. Otopsi yang berlangsung di RS Angkatan Darat pada tanggal 4 Oktober dan dilakukan oleh personel militer ditandatangani oleh Jenderal Suharto dan Presiden Sukarno.

Adapun otopsi merinci penyebab kematian seperti tembakan senjata dan trauma yang mungkin disebabkan oleh pukulan senjata, dan mencatat kerusakan yang terjadi pada tubuh yang telah terbaring selama beberapa hari di tempat basah di daerah tropis.

Keadaan tersebut membuat mata para korban dalam kondisi yang sangat buruk. Namun, temuan otopsi tidak dipublikasikan dan hanya setelah sejarawan Anderson menerbitkannya temuan tersebut muncul kembali di arena publik.

Mengenang Sukitman Orang yang Tidak Sengaja Terlibat

Sukitman sebelumnya tidak ada dalam agenda kudeta. Hanya saja ketika komplotan penculik yang kembali dari rumah Jenderal Pandjaitan dengan truk dan Lubang Buaya, mereka bertemu dengan seorang polisi yang tidak lain adalah Sukitman.

Pada waktu itu, Sukitman yang sedang melakukan tugasnya namun ia kemudian ikut dibawa ke lapangan pelatihan. Di sana Sukitman melihat bagaimana tiga jenderal yang belum mati dibunuh dan mayat mereka semua dibuang ke dalam sumur.

Sukitman tinggal di Lubang Buaya sampai dia ditemukan di sebuah truk 'dalam keadaan bingung' pada sore hari tanggal 1 Oktober oleh tentara RKPAD. Kemudian pada tanggal 2 Oktober Sukitman dibawa ke hadapan Sarwo Edhie dan berhasil menggambar peta yang menunjukkan lokasi sumur.

Atas dasar informasi Sukitman, sumur Lubang Buaya ditemukan dan mayat-mayat jenderal digali secara terbuka keesokan harinya.

Sukitman dan Gadis Gerwani

Tidak hanya Sukitman yang kebingungan, ada orang lain yang hadir di Lubang Buaya dan menjadi saksi yaitu sekitar 60 gadis yang merupakan anggota Gerwani (organisasi wanita sayap PKI).

Para saksi mengaku terbangun di tengah malam karena suara bisingan yang dibuat oleh para  komplotan penculik, hingga mereka menyaksikan pemukulan dan penembakan ketiga jenderal yang datang masih hidup yang kemudian mayatnya dibuang di sumur.

Sebagian besar dari saksi kemudian melarikan diri dari lokasi yang dilanda kepanikan, mereka lari ke rumah atau ke markas Gerwani. Mereka kemudian membangunkan Ibu Sulami dan Ibu Sudjinah.

Sukitman Selamat dari Pembunuhan

Pada mulanya Sukitman juga akan ikut dibunuh, namun pasukan Cakrabirawa yang bernama Ishak Bahar mencegahnya. Sukitman pun dianggap tidak berbahaya bagi para pasukan penculik.

Sukitman yang merasa sakit kepala pada akhirnya memutuskan untuk tidur di kolong truk dengan helm polisinya. Hingga akhirnya Sukitman ditemukan pasukan DPKAD dan kemudian dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Selanjutnya, Sukitman dibawa ke Markas Resimen Cakrabirawa dan diperiksa oleh Letnan Kolonel Ali Ebram, Perwira Intelijen Cakrabirawa. Sukitman kemudian menceritakan betapa mengerikannya situasi pada saat G30S.

Setelah pemeriksaan itu, Sukitman kemudian dibawa ke Cijantung untuk bertemu dengan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) untuk selanjutnya membantu RPKAD menemukan sumur Lubang Buaya.

Selain mengenang sukitman, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Kalo kamu ingin tahu informasi menarik lainnya, jangan ketinggalan pantau terus kabar terupdate dari ERA dan follow semua akun sosial medianya! Bikin Paham, Bikin Nyaman

Rekomendasi