'Jalan Ninja' Benyamin Sueb Adalah Bermusik

Tim Editor

Aktor, pelawak, dan ikon Betawi, Benyamin Sueb.

ERA.id - Benyamin Sueb dikenal sebagai ikon budaya Betawi sekaligus aktor, pelawak, dan sutradara film di era 70an-90an. Namun, bila ditilik kembali benang merah dari kehidupan pria kelahiran Batavia, 5 Maret 1939 ini, tentu akan ditemukan satu elemen yang konsisten dijalankan Ben, yaitu bermusik.

Bermusik adalah jalan ninja Benyamin Sueb. "Jalan ninja" sendiri adalah terjemahan harafiah dari kata Nindō 忍道 yang mengacu pada aturan pribadi atau prinsip yang dibuat oleh kaum ninja (shinobi 忍び) di Jepang. Bila didefinisikan secara lebih spesifik menjadi ungkapan Shinobi no Ikikata 忍びの生き方, yaitu cara hidup yang dipegang teguh oleh para ninja untuk mencapai tujuan hidup mereka.

Ketika dibawa ke kultur Indonesia, seperti yang selama ini kerap diucapkan di media sosial ("Inilah jalan ninjaku"), meski kadang dalam konteks berseloroh, ungkapan ini mensinyalkan cara hidup yang dipraktekkan sehari-hari. Dalam hal inilah bisa dikatakan bahwa jalan ninja Bang Ben adalah bermusik.

Gedombreng Orkes Kaleng

Ben sudah bermusik sejak kecil. Bungsu dari 8 bersaudara, Ben telah kehilangan ayahnya Suaeb ketika masih berumur dua tahun. Maka, karena kondisi keluarga yang tak menentu, sejak umur tiga tahun Ben sudah diijinkan untuk ngamen di sekitaran kampungnya di Kemayoran, Jakarta, dan hasilnya untuk membiayai sekolah para kakaknya. Konon, lagu Ujang-Ujang Nur jadi lagu favoritnya. Ia bernyanyi sambil bergoyang, dan setelah asyik tertawa para tetangga akan memberi dia uang 5 sen dan sepotong kue sebagai imbalan.

Cucu dari dua seniman Betawi - yaitu peniup klarinet Saiti dan pemeran seni Dulmuluk Haji Ung - Ben kecil bahkan sudah mendirikan kelompok musik orkes melayu bersama 7 kakaknya. Kelompok inilah yang dinamai Orkes Kaleng.

Saat kecil, Ben dan para kakaknya akan membuat alat musik dari perkakas dan barang bekas. Contohnya, rebab dari kotak obat, stem bas dari kaleng drum minyak, keroncong dari kaleng biskuit. Dengan alat-alat musik seperti itu, mereka akan memainkan lagu-lagu Belanda tempo dulu.

Sejak kecil Ben dikenal memiliki suara yang merdu dan bakat inilah yang membangun jalan karirnya di masa depan. Belakangan, seperti akan diakui oleh kawan-kawannya sesama seniman seperti Ateng dan Bing Slamet, Ben ternyata juga piawai mencipta lagu.

Naik Daun Setelah "Nonton Bioskop"

Tak lama setelah menikah dengan perempuan bernama Nonnie pada tahun 1959, Ben bersama teman-teman sekampungnya di Kemayoran mendirikan kelompok musik Melody Ria. Di situ Ben bernyanyi sambil memainkan alat musik pukul bongo.

Lompatan besar terjadi pada hidup Ben di dekade 1970an setelah ia diperkenalkan oleh Ateng, yang merupakan teman SMP-nya di Taman Madya Cikini, ke pelawak dan seniman Bing Slamet. Seperti ditulis di buku Kompor Mleduk Benyamin S (Wahyudi, 2007) mereka bertemu di studio rekaman milik Dimita Records, dan di situ Ben memperkenalkan lagu "Malam Minggu" agar dinyanyikan oleh Bing. Akhirnya, dengan sedikit revisi pada nada dan lirik, Bing setuju menyanyikan lagu itu, yang kemudian dirilis dengan judul "Nonton Bioskop".

Lagu tersebut kemudian meledak di pasaran. Ben pun juga kecipratan tenar karena begitu lagu "Nonton Bioskop" diperkenalkan ke publik, Bing Slamet juga mengimbuhi, "Ini lagu milik adik saya, Benyamin."

Bing Slamet juga berkontribusi membuka karir Ben sebagai penyanyi ketika ia menolak menyanyikan lagu "Si Jampang" yang ditulis oleh Ben. Berbeda dengan "Nonton Bioskop", lagu terbaru yang disodorkan Ben ini lebih upbeat. Alih-alih menerima untuk menyanyikan lagu itu, Bing justru mendorong Ben untuk menyanyikan sendiri lagu buatannya itu. Dan lagu tersebut populer di pasaran. Lagunya rancak, berlirik jenaka (di awal ada pantun ala pesilat Betawi), dan iramanya membuat orang asyik bergoyang.

Sambil perlahan-lahan naik daun di industri musik nasional, Ben mencoba berbagai jenis genre musik. Di band Melody Ria, Ben memainkan lagu-lagu Rock 'n Roll. Jejak musiknya juga merambah medan jazz, blues, dan gambang kromong. Namun, memang salah satu lagunya yang paling terkenal adalah "Kompor Mleduk" (1970). Majalah Rolling Stones pada tahun 2009 bahkan menasbihkan lagu ini sebagai lagu nomor 12 dalam 150 lagu terbaik di Indonesia versi majalah tersebut.

Selain bernyanyi solo, Benyamin Sueb juga diketahui pernah berduet dengan penyanyi seperti Rita Zahara dan Lilis Suryani. Namun, lagu-lagu duetnya dengan Ida Royani, seperti "Hujan Gerimis", "Tukang Kridit", dan "Ondel-Ondel" dianggap yang paling terkenal.

Mimpi Museum Karya Benyamin Sueb

Di akhir hayatnya, yaitu pada 5 September 1995, tercatat Benyamin Sueb telah menciptakan atau terlibat dalam produksi 50 judul film, 45 single lagu solo, 37 single duet, dan 10 album kompilasi. Saking banyak dan berharganya karya-karya sang ikon budaya Betawi ini, anak-anak Benyamin sampai berniat untuk mendirikan museum seluruh karyanya.

"Banyak masyarakat yang menginginkan adanya museum karya dari Benyamin Sueb, supaya para penggemarnya lebih mudah melihat lagi karya-karyanya," kata Biem Triani Benjamin, anak ketiga Benyamin Sueb, pada tahun 2015.

Pada tahun 2015 itu, bersamaan dengan 20 tahun kepergian Ben, keluarga berencana membangun museum di kantor Bens Radio yang ada di Jalan Jagakarsa no 39, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Itu pun juga karena Bens Radio merupakan satu karya yang diwariskan oleh Benyamin Sueb. Seluruh karya akan dikumpulkan, diduplikat dan dipamerkan.

Masyarakat hingga kini masih menanti realisasi museum Benyamin Sueb tersebut. Bila jadi, tentu itu akan menjadi warisan berharga bagi warga Jakarta karena banyak momen dan kisah di Batavia, lantas Jakarta, yang direkam oleh karya-karya Ben. Dan terlebih lagi, arsip museum itu akan mengabadikan semangat bermusik Benyamin Sueb, jalan ninja yang terus ia pegang hingga akhir hayatnya.

Tag: sejarah jakarta Betawi

Bagikan: