Fakta Tembang "Lingsir Wengi" yang Dicap Menyeramkan

Tim Editor

Ilustrasi Kuntilanak (Foto: Istimewa)

ERA.id - Pernah tahu tembang "Lingsir Wengi"? Tembang ini sangat populer di Indonesia setelah ditampilkan dalam sebuah film bergenre horor, Kuntilanak tahun 2006. Dalam film tersebut, tambang "Lingsir Wengi" dinyanyikan oleh Julie Estelle yang berperan sebagai Samantha. Tembang tersebut, dalam film Kuntilanak, dianggap sebagai lagu pemanggil jin, terutama kuntilanak.

Para penikmat film Kuntilanak kemudian menganggap tembang "Lingsir Wengi" memang memiliki kekuatan untuk memanggil jin atau setan atau arwah gentayangan. Perlahan-lahan, mitos tembang "Lingsir Wengi" sebagai pemanggil jin tersebar luas. Banyak orang yang percaya bahwa tembang tersebut memiliki daya magis untuk memanggil jin sehingga kesan menyeramkan menempel kuat.

Orang yang tadinya tidak tahu, tiba-tiba ikut takut karena mendengar cerita dari orang-orang di sekitarnya. Jangankan untuk mendengar atau menyanyikannya, mendengar atau membaca tulisan "lingsir wengi" saja telah membembuat orang tersebut mendapat gambaran yang menyeramkan.

Uniknya, bagi yang mendapat informasi berdasarkan "katanya", kemudian tak pernah menonton film Kuntilanak, serta tak ingin mencari tahu kebenarannya, kadang salah sangka hingga menyamakan tembang "Lingsir Wengi" dalam film Kuntilanak dengan tembang "Lingsir Wengi" yang dipopulerkan oleh almarhum Didi Kempot. Padahal, ini jelas sangat berbeda!

Film Kuntilanak 2006. (Foto: Wikipedia)

 

Dalam satu judul tembang saja, telah memunculkan dua salah kaprah yang menyebar luas di masyarakat. Pertama mengenai pemaknaan dari tembang "Lingsir Wengi", yang kedua, tembang Lingsir Wengi dalam film Kuntilanak disamakan dengan tembang "Lingsir Wengi" yang dipopulerkan oleh Didi Kempot. Ya, pemaknaan. Benarkah tembang Lingsir Wengi, dalam film Kuntilanak memang digunakan untuk memanggil jin? Mari kita simak sejarahnya.

Sejarah Lingsir Wengi, Tembang Gubahan Sunan Kalijaga

Beberapa orang mengatakan bahwa tembang "Lingsir Wengi" yang ada di dalam film Kuntilanak sebenarnya merupakan tembang yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Disebutkan bahwa tembang tersebut digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menolak bala.

Sunan Kalijaga lahir sekitar tahun 1450 SM. Nama kecilnya adalah Raden Said. Sunan Kalijaga adalah salah satu wali di Jawa yang memiliki tugas untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa. Dia termasuk salah satu wali yang unik karena mengajarkan ajaran Islam pada masyarakat Jawa menggunakan budaya Jawa yang telah digunakan dan dekat dengan masyarakat Jawa.

Ilustrasi wajah Sunan Kalijaga. (Foto: Istimewa)

 

Ini adalah strategi penyebaran agama yang bagus karena masyarakat bisa mencerna dan menerima ajaran baru (Islam) dengan lebih baik dan lebih mudah. Beberapa media yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan ajaran Islam antara lain, seni ukir, wayang kulit, tembang, dan gamelan. Nah, salah satu satu tembang yang dibuat oleh Sunan Kalijaga, katanya adalah Lingsir Wengi. 

Meski begitu, hal tersebut pun sepertinya belum bisa dipastikan kebenarannya. Dalam acara Bukan Empat Mata, Sujiwo Tedjo—budayawan—ragu bahwa tembang "Lingsir Wengi" yang ada di dalam film Kuntilanak merupakan tembang gubahan Sunan Kalijaga.

Liriknya, menurut Tedjo, tidak pas juga dianggap sebagai hasil gubahan dari Sunan Kalijaga. Berikut ini adalah lirik Lingsir Wengi dalam film Kuntilanak dikutip dari puspitasarinisablog.wordpress.com.

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno

Ojo Tangi nggonmu guling

awas jo ngetoro

Aku lagi bang wingo wingo

Jin setan kang tak utusi

Jin setan kang tak utusi

Dadyo sebarang

Wojo lelayu sebet  

Lirik tersebut jika dalam bahasa Indonesia menjadi seperti berikut ini.

Menjelang malam, dirimu (bayangmu) mulai sirna

Jangan terbangun dari tidurmu

Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)

Aku sedang gelisah,

Jin setan ku perintahkan

Jadilah apapun juga,

Namun jangan membawa maut

Tedjo lebih percaya bahwa tembang yang dibuat atau digubah oleh Sunan Kalijaga untuk menolak bala adalah Rumekso ing Wengi. Mungkin orang akan menganggap bahwa lirik "Lingsir Wengi" dan "Rumekso ing Wengi" memiliki kemiripan. Untuk mengetahui seperti apa tembang "Rumekso ing Wengi", berikut ini kami kutip dari suaramerdeka.com.

Ana kidung rumekso ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara 

Luputa bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluhan tan ana wani

Niwah panggawe ala

Gunaning wong luput

Geni atemahan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing mami

Guna duduk pan sirno

Arti dari tembang tersebut dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

Ada sebuah kidung doa permohonan di tengah malam 

Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit

Terbebas dari segala petaka

Jin dan setanpun tidak mau mendekat

Segala jenis sihir tidak berani

Apalagi perbuatan jahat, guna-guna tersingkir

Api menjadi air

Pencuripun menjauh dariku

Segala bahaya akan lenyap

Nah, tembang tersebutlah yang lebih dipercaya oleh Sujiwo Tedjo sebagai tembang gubahan Sunan Kalijaga sebagai penolak bala. Tembang tersebut katanya sering dinyanyikan oleh Sunan Kalijaga ketika malam hari setelah melakukan salat Tahajud. Kemudian, tembang yang terkenal sebagai "Lingsir Wengi" dalam film Kuntilanak belum diketahui kebenaran mengenai siapa yang membuat. 

Katanya, tembang "Lingsir Wengi" dibuat dengan pakem Durma. Durma adalah bentuk komposisi tembang jeni macapat (ada di Jawa, Sunda, Bali) yang biasanya digunakan untuk menggambarkan atau melukiskan cerita-cerita keras, seperti perang dan perkelahian (KBBI).

Dikutip dari Kompasiana, durma berasal dari kata dalam bahasa Jawa Klasik/bahasa Kawi yang memiliki arti ‘harimau’. Dalam bahasa Jawa Kawi, dur memiliki arti ala atau ‘buruk’. Berdasarkan pengartian tersebut, tembang durma memiliki watak, sifat, atau biasa digunakan untuk menggambarkan suasana seram.

Namun, durma juga bisa diartikan sebagai darma. Maksudnya adalah sifat ingin berderma atau ingin memberi, dengan kata lain keinginan untuk menolong sesama. Jadi, durma juga memiliki sifat yang berhubungan erat mengenai hubungan antarmanusia. 

Dalam kaitannya dengan tembang "Lingsir Wengi" dalam film Kuntilanak, tembang tersebut memiliki kesan yang agak mengerikan karena memang nada yang digunakan adalah nada-nada dalam durma. Kemudian, kesan tersebut semakin kental ketika digunakan dalam film Kuntilanak.

Malahan, sebenarnya film tersebutlah yang membuat kesan menyeramkan melekat kuat dalam tembang "Lingsir Wengi". Pertama, tembang tersebut menjadi salah satu pusat perhatian dari film horor, kedua, tembang tersebut dinyanyikan dengan nada yang lebih menyeramkan untuk membangun suasana film, ketiga, tembang tersebut dinyanyikan dengan menambahkan efek-efek suara yang ditujukan untuk membangun kesan mengerikan, keempat, mitos yang dilekatkan pada tembang tersebut, yaitu tembang untuk memanggil kuntilanak.

Di sisi lain, mitos mengenai kuntilanak memang sudah melekat kuat di benak masyarakat Indonesia. Jadi, masyarakat akan jadi lebih cepat mendapatkan kesan menyeramkan ketika mendengar, membaca, menyanyikan, bahkan melihat tulisan "lingsir wengi".

Ilustrasi Kuntilanak. (Foto: Istimewa)

 

Lalu, apakah tembang "Lingsir Wingi" yang ada di film Kuntilanak memiliki hubungan dengan lagu "Lingsir Wengi "yang dipopulerkan oleh Didi Kempot? Baiklah, berikut ini kita akan membahas hal tersebut agar Anda memiliki gambaran yang lebih jelas.

Lagu "Lingsir Wengi" Sukap Jiman dengan "Lingsir Wengi" dalam Kuntilanak

Siapa yang tak mengenal lagu "Lingsir Wengi" yang dinyanyikan Godfather of Broken Heart Didi Kempot? Hampir semua orang mengenal lagu tersebut, terutama masyarakat Jawa dan para penikmat musik keroncong.

Lagu tersebut membuat banyak orang menyukai musik keroncong. Tempo yang pelan dan diksi penuh cinta dalam lagu Lingsir Wengi bisa membuat orang-orang yang mendengarkan lagu ini cepat merasakan suasana yang ingin disampaikan. Tahukah Anda bahwa lagu tersebut bukanlah lagu yang diciptakan oleh Didi Kempot? Lalu siapa yang membuatnya?

Sukap Jiman, kira-kira berumur 85 tahun, dialah penulis lagu "Lingsir Wengi". Meski lagunya telah dikenal oleh banyak orang, sayangnya kehidupan Sukap tak secemerlang karyanya. Dikutip dari Kumparan, kondisi Sukap bisa dibilang sangat memprihatinkan. Tubuhnya telah bertahun-tahun digerogoti oleh penyakit.

Dia juga tidak bisa melakukan aktivitas dengan normal karena kakinya mengalami pengecilan yang disebabkan oleh penyakit saraf.  Dia juga mengidap penyakit prostatnya sehingga dirinya tidak bisa buang air kecil secara normal. Dia terpaksa menggunakan selang untuk bisa buang air kecil.

Orang yang telah sangat berumur ini ternyata memiliki 14 lagu, namun yang paling terkenal dari karya-karyanya adalah "Lingsir Wengi". Lagu tersebut dia buat pada 1995, namun baru terkenal tahun 2000. Lagu "Lingsir Wengi" tidak hanya dinyanyikan oleh Didi Kempot. Terdapat beberapa penyanyi lain yang juga menyanyikan lagu tersebut, seperti Ani Suyanti, Wuryanti, Agus Zakaria, dan Nurhana.

Nah, bagaimana sejarah Lingsir Wengi milik Sukap Jiman ini?

Lagu "Lingsir Wengi" sebenarnya menceritakan kisah seorang pemuda yang jatuh cinta. Ketika malam hari datang, pemuda tersebut terngiang-ngiang atau terbayang-bayang dengan gadis yang ia sukai. Lebih lanjut, ternyata dia menulis lagu-lagu berdasarkan pengalaman pribadi. Selain Lingsir Wengi, lagu-lagu yang dia ciptakan memiliki tema cinta dan pengorbanan.

Kemudian, bagaimana dengan lagu Lingsir Wengi yang ada di dalam film Kuntilanak? Sukap menegaskan bahwa lagu yang ada di dalam film tersebut bukanlah lagu yang dia ciptakan. Nah, bagi yang merasa bingung mengenai lagu Lingsir Wengi ciptaan Sukap Jiman, berikut ini adalah penggalan liriknya.

Lingsir Wengi

Sepi durung biso nendro

Kagodho maring wewayang

Kang ngreridhu ati

Kawitane

Mung sembrono njur kulino

Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno

Untuk memahami maksudnya, berikut ini adalah penggalan lirik dalam bahasa Indonesia.

Menjelang malam

Sepi belum bisa tidur

Tergoda akan bayanganmu

Yang memenuhi hatiku

Awalnya

Hanya bercanda kemudian biasa

Tidak mengira bakal jadi cinta 

Lirik lagu "Lingsir Wengi" yang digubah oleh Sukap jelas sangat berbeda dengan lirik tembang yang ada di film Kuntilanak. Pesan yang disampaikan pun sangat berbeda. Lingsir Wengi yang digubah oleh Sukap Jiman benar-benar memiliki suasana yang sendu dengan tema percintaan antara pemuda terhadap sesosok perempuan.

Tak ada kaitannya sama sekali dengan tembang pemanggil jin, kuntilanak, atau makhluk gaib yang lain. Itu adalah curahan hati seorang pemuda yang sedang kasmaran.

Jika masih merasa ragu, berikut ini adalah lirik lagu Lingsir Wengi gubahan Sukap Jiman secara lebih lengkap.

Lingsir wengi

Sepi durung biso nendro

Kagodho mring wewayang

Kang ngerindhu ati

 

Kawitane

Mung sembrono njur kulino

Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno

 

Nanging duh tibane

Aku dewe kang nemahi

Nandang bronto

Kadung loro

Sambat sambat sopo

 

Rino wengi

Sing tak puji ojo lali

Janjine mugo biso tak ugemi

 

Lingsir wengi

Sepi durung biso nendro

Kagodho mring wewayang

Kang ngerindhu ati

 

Kawitane mung sembrono njur kulino

Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno

 

Nanging duh tibane

Aku dewe kang nemahi

Nandang bronto

Kadung loro

Sambat sambat sopo

 

Rino wengi

Sing tak puji ojo lali

Janjine mugo biso tak ugemi

Dengan penjelasan seperti ini, tampaklah bahwa tembang "Lingsir Wengi" yang dinyanyikan dalam film Kuntilanak bukanlah lagu "Lingsir Wengi" yang liriknya seperti ini. Sebab, lagu tersebut adalah lagu cinta yang diciptakan oleh Sukap Jiman berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri.

Tag: film horor kuntilanak horor Sunan Kalijaga lingsir wengi fakta lingsir wengi lirik lingsir wengi lingsir wengi pemanggil kuntilanak sejarah lingsir wengi

Bagikan: