Gagal Lakukan Operasi Katarak RS Mulya Disomasi

Tim Editor

Sejumlah warga melayangkan somasi ke Rumah Sakit Mulya (Jaenudin/era.id)

Tangerang, Era.id - Belasan warga Tangerang bersama dengan kuasa hukum mendatangi Rumah Sakit Mulya di Jalan KH Hasyim Ashari, Kota Tangerang. Kedatangan mereka bukanlah untuk berobat tapi untuk melayangkan somasi ke Management RS Mulya pada Kamis, (28/2) malam hari. 

Rupanya kedatangan beberapa orang yang menggandeng pengacara ini geram atas kejadian yang menimpa keluarga mereka. Seorang warga Yuni yang juga hadir pada kesempatan itu mengaku orangtuanya Maryam menjadi korban dari tindakan operasi katarak yang dilakukan Rumah Sakit Mulya.

"Sudah sebulan kami hanya di PHP. Sekrang kami sudah habis kesabaran," ungkap dia pada era.id Kamis, (28/2/2018).

Usut punya usut, rupanya belasan orang yang hadir ini merupakan perwakilan dari pasien operasi katarak yang dianggap gagal. Bagaimana tidak, operasi yang dilakukan pada 27 Januari 2019 lalu itu berniat untuk menyembuhkan penglihatan pasien. 

Akan tetapi, kata Yuni, setelah melakukan operasi justru ibunda tercintanya terpaksa harus kehilangan sebelah bola matanya. Yuni bilang awal kejadian itu terjadi pada operasi katarak yang dilakukan secara serentak bersama 16 orang lainnya. Tetapi usai operasi kebanyakan dari mereka malah tidak berhasil alias gagal.

"Operasinya bulan lalu. Dari 17 orang yang operasi hanya 2 yang berhasil. Bahkan 4 diantaranya terpaksa harus melakukan operasi pengangkatan mata akibat infeksi, salah satunya ya ibu saya," kata wanita berhijab itu.

Yuni bilang setelah itu pihak rumah sakit merujuk pasien ke RSCM untuk mendapatkan tindakan dari tim ahli. Berjalannya waktu pihak Rumah Sakit Mulya bilang akan bertanggungjawab penuh atas apa yang terjadi.

"Kami sering ketemu pihak RS dan tidak pernah menemui titik temu. Ini udah sebulan mereka masih juga belum punya penjelasan," ujarnya. 


Salah satu penderita katarak yang dioperasi di RS Mulya (Jaenudin/era.id)

Padahal, Yuni bilang kebanyakan dari perwakilan pasien hanya ingin mengetahui sebab dari kegagalan operasi tersebut. Bukan malah mendapat penjelasan pihak rumah sakit malah mengiming imingi sejumlah uang.

"Dari awal kami hanya mau tau penyebab kenapa keluarga kami bisa kaya gini. Tapi mereka malah belum dapat hasil, kemarin sempat nawarin tiket umrah yang harganya cuma Rp25 juta, terus naik jadi Rp50 juta dan tadi terakhir Rp75 juta, apa pantas bagian tubuh ini dibandrol? Jelaskan dulu pada kami kenapa ini bisa terjadi, barulah mereka tanggungjawab," ungkap dia.

Akibat sudah geram diombang-ambing, akhirnya semua keluarga pasien sepakat untuk melanjutkan perkara tersebut ke ranah hukum. Pasalnya pihak keluarga mengaku belum ada itikad baik dari pihak RS untuk mengakui kesalahannya. 

"Ya sengaja kami datang sekarang untuk minta ke pengacara kami kasih somasi dan menempuh jalur hukum," tegas dia.


RS Mulya (Jaenudin/era.id)

Dijumpai di tempat yang sama Koordinator dari Tim Kantor Hukum Indonesia Muda yang juga menjadi kuasa hukum keluarga pasien Hika Putera menganggap tidak menemui solusi ihwal permasalahan yang menyebabkan kebutaan pada 4 orang pasien dan 6 orang lainnya.

"Dari 15 yang sudah dinyatakan bersih ada 5 sedangkan sisanya 4 sudah diangkat sebelah bola matanya dan 6 masih dirawat. Kami sering ke sini (RS Mulya) untuk mediasi. Tapi kami rasa ini upaya terakhir kita karena tidak menemui titik terang dari mediasi mediasi sebelumnya," bilang Hika di halaman RS Mulya.

Hika menyebut meskipun melalui proses panjang mediasi bersama pihak keluarga korban, pihak rumah sakit tidak bisa memenuhi tuntutan keluarga pasien. Maka dari itu pihaknya selaku kuasa hukun kali ini melayangkan somasi bersama keluarga pasien. 

"Sebelumnya kita sudah mengadakan pertemuan. Dan pihak keluarga merasa tidak menemui solusi, karena mereka juga tidak bisa menerangkan ihwal penyebab gagalnya operasi waktu itu," ucapnya. 

Hika membenarkan pada pertemuan kali ini pihak rumah sakit mengimingi keluarga pasien dengan uang sejumlah 75 juta untuk kerugian inmateril yang diderita korban. Hal tersebut justru ditolak pihak keluarga, pasalnya pihak keluarga juga belum dapat mengetahui penyebab kebutaan yang dialami keluarganya pasca operasi. 

"Kalau memang mereka merasa tidak bersalah kenapa mereka menyebut nominal 75 juta untuk keluarga. Kami hanya ingin mengetahui penyebab dan meminta pertanggungjawaban pihak rumah sakit," jelas Hika.


Sejumlah warga melayangkan somasi ke Rumah Sakit Mulya (Jaenudin/era.id)

Dalam somasi kali ini, Hika bilang pihaknya melayangkan beberapa poin dalam surat somasi yang diberikan pihak RS. Diantaranya yakni meminta penjelasan terperinci terhadap penyebab atas kejadian luar biasa ini.

"Kemudian kami meminta pertanggungjawaban dan ganti rugi baik materil maupum immateril," ucapnya. 

Hika menambahkan pada somasi yang dilayangkan tersebut pihaknya memberikan waktu untuk upaya baik rumah sakit memenuhi permintaan keluarga pasien. Apabila hal tersebut tidak diindahkan pihak rumah sakit maka proses selanjutnya akan ditempuh dengan jalur hukum.

"Apabila dalam 3x24 Jam tidak ada itikad baik dari pihak rumah Sakit Mulya maka akan kita lakukan proses Hukum sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tukasnya. 

Terpisah Ketua Ombudsman RI Perwakilan Banten Bambang P Sumo bilang sudah mengetahui permasalahan gagalnya operasi ini. Pasalnya dia bilang sudah memanggil pihak terkait dalam kasus ini. 

"Kami sudah memanggil pihak terkait dan sudah dijelaskan sama mereka. Jadi kita tunggu hasil investigasi dari tim gabungan," singkat dia.

Tag: malpraktik

Bagikan: