Film Bumi Manusia di Mata Partai Politik

Tim Editor

    Iqbaal dalam set Bumi Manusia (Instagram/film.bumimanusia)

    Jakarta, era.id - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menganggap film Bumi Manusia yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer relevan dengan permasalahan yang terjadi di Indonesia saat ini pascakemerdekaan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum PSI, Grace Natalie usai nonton bareng bersama para kadernya.

    "Ternyata, 74 tahun kita sudah merayakan kemerdekaan, problem diskriminasi, ketidakadilan terhadap setiap orang masih kita rasakan hari ini," kata Grace kepada wartawan di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019).

    Film yang berdurasi 181 menit ini mengambil latar belakang cerita di tahun 1900-an. Saat itu, Indonesia masih dalam masa penjajahan Belanda dan pribumi mendapat perlakuan diskriminasi karena dianggap tak sejajar dengan orang Belanda asli maupun blasteran.

    Grace mengatakan, setelah 74 tahun merdeka, ternyata kejadian diskriminasi ini malah terjadi di Kota Surabaya. Diskriminasi dan tindak rasialisme ini dirasakan oleh mahasiswa Papua yang tengah menjalankan pendidikan di kota pahlawan tersebut. 

    Hal ini dianggapnya sebagai salah satu bentuk diskriminasi. "Kita mendengar kata-kata yang enggak pantas diucapkan, juga mengucapkan kalimat monyet pada sodara kita," jelasnya.

    Grace mengatakan, permasalahan soal diskriminasi dan intoleransi memang belum selesai sampai saat ini di Indonesia. Bahkan, dia mengatakan, seringkali para politisi menggunakan praktik rasisme dan diskriminasi untuk mencapai tujuan politiknya. 

    "Dalam kontestasi politik hal ini dimanfaatkan sehingga tanpa sadar bangsa kita kemudian permisif dengan hal-hal semacam itu. Jadi ini PR kita bersama dan jadi tantangan yang harus kita hadapi bersama-sama," tegas dia.


    Durasi tiga jam

    Sutradara film Bumi Manusia, Hanung Bramantyo juga ikut hadir dalam acara nonton bareng yang diadakan oleh partai besutan Grace Natalie ini. Hanung sempat bercerita, masih banyak orang termasuk milenial yang takut menonton film ini. Sebabnya karena durasi.

    "Banyak orang terutama generasi milenial takut buat nonton karena durasinya tiga jam," kata Hanung disela-sela acara nonton bareng tersebut.

    Selain soal durasi, Hanung juga tak menampik banyak orang yang menganggap remeh film yang disutradarainya. "Bukanlah asing (yang jadi musuh sineas) tapi kita sendiri under estimate dengan karya anak bangsa," ungkapnya.

    "Ini bukan salah mereka, karena banyak dari kami (sineas) yang membuat film asal-asalan dan membuat penonton khususnya anak muda kecewa," tambah Hanung.

    Sehingga, dia mengajak anak muda dan orang-orang yang tertarik menonton film Bumi Manusia ini untuk segera menuju ke bioskop terdekat. Apalagi, banyak film baru Indonesia yang tayang di bioskop tiap hari Kamis dan film Hollywood baru yang tayang setiap hari Rabu.

    Buat yang belum tahu, film ini berkisah soal kisah percintaan Minke (Iqbaal Ramadhan) dan Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh). Kisah cinta kontroversial ini terjadi karena Minke seorang pribumi, sementara Annelies blasteran Indonesia-Belanda. 

    Dalam ceritanya, Minke digambarkan sebagai laki-laki yang berwawasan, logis dan berwibawa. Tak hanya itu, dia mendapat previlage menempuh pendidikan di sekolah prestisius, HBS. 

    Sejak film ini diputar, terasa betul Hanung berusaha menampilkan adegan yang menegaskan adanya perbedaan derajat orang Belanda, blasteran dan pribumi. Tak hanya soal cinta-cintaan, film ini juga menyoroti upaya Minke bersama ibunda Annelies, Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febrianti) memperjuangkan hak kaum pribumi.

    Tag: bumi manusia film indonesia

    Bagikan :