Peran Besar Greta Thunberg untuk Perubahan Iklim Global

Tim Editor

Greta Thunberg. (Twitter @GretaThunberg)

Jakarta, era.id - Aktivis muda asal Swedia, Greta Thunberg membuktikan bahwa anak muda juga memiliki peran penting dalam mengatasi perubahan iklim global.

Hari ini, Thunberg akhirnya bisa duduk bersama anggota dewan Kongres Amerika Serikat (AS) setelah menghabiskan berhari-hari melakukan aksi protes di depan Gedung Kongres, Mahkamah Agung, dan Gedung Putih. 

Dalam pertemuannya dengan para politikus AS, Thunberg berkesempatan untuk menyampaikan pesan khusus untuk para politisi yang ada di House of Representatives Ways and Means Committee.

Baca Juga : Jerat Mudarat Sampah Plastik

Dengan lantang, Thunberg mengawali pesannya dengan mengatakan "I don't want you listen to me. I want you listen to the scientist."

"Ini bukan waktu yang tepat untuk bermimpi. Ini adalah waktu yang tepat untuk bangun," kata Thunberg, sepeti dikutip Reuters, Kamis (19/9/2019).
 

Dilansir Al Jazeera, Thunberg merupakan satu dari empat siswa yang diundang untuk memberikan pandangan generasi milenial tentang perubahan iklim dalam sidang bersama Sub Komite Urusan Luar Negeri di Eropa, Eurasia, Energi, dan Lingkungan dan Komite untuk Krisis Iklim.

Sebelumnya, Thunberg telah bertemu dengan Barack Obama di Capitol Hill pada Selasa, 17 September 2019. Obama menggambarkan gadis ini sebagai salah satu pendukung besar di Bumi.

Siapa Greta Thunberg?

Gadis belia yang punya nama lengkap Greta Tintin Eleonora Ernman Thunberg atau dikenal Greta Thunberg dalam akun media sosialnya menggambarkkan diri sebagai aktivis lingkungan berusia 16 tahun dengan sindrom Asperger.

Dilansir alodokter.com, sindrom asperger adalah gangguan neurologis atau saraf yang tegolong ke dalam gangguan spektrum autisme. Hal itu memengarugi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sindrom ini umunya menyerang anak-anak dan bertahan hingga mereka dewasa.

Hingga kini, pihak medis juga belum menemukan obat untuk mengatasi gangguan sistem saraf tersebut. Kendati mengakui bahwa dirinya mengidap sindrom asperger, namun Thunberg malah membuktikan kepiawaiannya dalam berinteraksi dalam kampanye perubahan iklim. 

Baca Juga : Menguji Keseriusan Pemerintah Perangi Polusi Plastik

Ia terkenal usai memprakarsai gerakan global terkait perubahan iklim yang dimulainya sejak bulan Agustus 2018. Awalnya, Thunberg melakukan aksi berdiri di depan gedung parlemen Swedia dengan papan bertuliskan skolstjerk for klimatet (pemogokan sekolah untuk iklim).
 

Meski telah kehilangan banyak pelajaran karena aksinya setiap hari Jumat, usahanya telah mencuri perhatian dunia, dan mendapatkan kesempatan untuk berbicara dalam Pertemuan Iklim PBB di Polandia dan Forum Ekonomi Dunia di Davos pada Januari lalu.

"Tentang perubahan iklim, kita harus akui bahwa kita telah gagal," kata Thunberg kepada pemimpin ekonomi global, seperti dikutip BBC. 

Gerakan itu kemudian meluas dan dikenal sebagai 'Fridays For Future', di mana para murid-murid melakukan pemogokan sekolah dan melakukan aksi menuntut pemerintah bertindak untuk mengatasi perubahan iklim dunia.  Sejauh ini, pemogokan dilakukan sejumlah siswa di seluruh dunia, termasuk Jerman, Belgia, Inggris, Prancis, Australia, Jepang, dan Amerika Serikat. 

Ia juga melakukan perjalanan dalam kampanyenya di sejumlah negara, salah satunya di Amerika Serikat. Thunberg melakukan perjalanan lintas-Atlantik untuk mencapai New York dan bergabung dalam aksi protes yang digelar di depan Gedung Putih.

Baca Juga : Kita yang Tak Bisa Lepas dari Plastik

"Amerika adalah satu-satunya negara di dunia yang menandatangani sekaligus keluar dari Perjanjian Iklim Paris. Ini adalah kesepakatan terburuk Amerika," katanya di depan Gedung Putih, kemarin, seperti dikutip Al Jazeera.

Gerakan masif perubahan iklim Thunberg telah membawanya dinominasikan oleh tiga anggota parlemen Norwegia sebagai kandidat untuk menerima hadiah Nobel Perdamaian 2019. Jika menang, ia akan menjadi nobel termuda.

Insipirasi bagi milenial

Gerakan yang dilakukan Thunberg ternyata menjadi inspirasi bagi anak di seluruh dunia. Salah satunya adalah Lilly, aktivis cilik asal Thailand. Setiap harinya, pemilik nama Ralyn Satidtanasarn melewatkan kelas paginya untuk membersihkan sampah yang menumpuk di aliran air di sekitar rumahnya.

Bocah berusia 12 tahun ini bahkan berhasil membujuk Central yang merupakan supermarket terbesar di Bangkok, dan 7 Eleven untuk berhenti memberikkan kantong plastik di tokonya setiap satu minggu sekali.

Dilansir dari Channel News Asia, Lilly yang dijuluki Greta Thunberg ala Thailand ini mengaku dirinya melakukan itu karena terinspirasi oleh gerakan Thunberg untuk perubahan iklim dunia. "Di saat orang dewasa tidak melakukan apa-apa, itu terserah pada kita anak-anak untuk bertindak," ucapnya. 


Ralyn Satidtanasarn saat membersihkan sampah di sungai. (Foto: Istimewa)

Aksi Thunberg juga memicu timbulnya gerakan anak-anak muda di 12 kota Indonesia. Mereka akan mengikuti seruan aksi iklim gadis asal Swedia itu dengan turun ke jalan dalam kegiatan bertajuk "Jeda untuk Iklim" guna mendukung Global Climate Strike pada 20 September 2019.

Baca Juga : Unggahan Leonardo Dicaprio yang Menyoroti Sampah Jakarta

Di Jakarta, seribu lebih pelajar, mahasiswa, dan orang dewasa yang mengambil cuti kerja sudah mendaftar secara daring di situs  globalclimatestrike.net untuk mengikuti aksi iklim dengan berjalan dari Masjid Cut Mutia menuju Balai Kota DKI Jakarta lalu bergerak ke titik akhir Taman Aspirasi.

Kegiatan serupa juga akan dilakukan di Aceh, Medan, Bengkulu, Pekanbaru, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bali, Palangkaraya, Kupang, Makassar, Palu, dan Palembang. 

Di kawasan Asia Pasifik, jumlah peserta yang mendaftar paling banyak di Indonesia dan Filipina. Aksi iklim global di Filipina juga akan diikuti sekitar 200 perusahaan, termasuk bank, yang akan menutup operasi setengah hari untuk mendukung kegiatan tersebut.

Tag: perubahan iklim aktivis mahasiswa greta thunberg

Bagikan: