Setahun Kematian Khashoggi: Siapa Berani Lawan Tirani Saudi?

Tim Editor

Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. (Twitter/Remaaxxx_)

Jakarta, era.id - Tahun lalu, kehadiran Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) dalam KTT G20 di Argentina mendapat sambutan dingin dari para pemimpin dunia. Kehadiran MBS kala itu hanya selang sebulan sejak kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi, ditemukan tewas saat memasuki gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. 

Selama sesi family photo, MBS terlihat berdiri di ujung kelompok. Putra Raja Salman bin Abdulaziz itu kemudian terlihat berjalan keluar tanpa menyalami atau sekadar basa-basi dengan para pemimpin ekonomi global yang mengabaikannya.

Berita kematian Khashoggi memang memicu respons global. Berbagai laporan pemerintah Barat telah menuding bahwa Pangeran Mahkota Arab Saudi menjadi dalang di balik pembunuhan keji itu.
 

Namun, respons negatif para pemimpin dunia terhadap MBS perlahan pudar. Pada sesi family photo yang sama di KTT G20 di Osaka pada Juni 2019 atau setahun sejak KTT G20 di Argentina, raut wajah Pangeran Mahkota Arab Saudi itu tampak sumringah. Ia disambut hangat dalam pertemuan puncak kali ini. Bahkan posisinya berdiri diapit Perdana Menteri Jepang dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump bukan satu-satunya pemimpin yang memuji MBS di tengah-tengah kemarahan global atas pembunuhan brutal Jamal Khashoggi. Pakistan bahkan telah memberi kehormatan sipil tertinggi kepada MBS usai kesepakatan investasi senilai 20 miliar dolar Amerika. Dunia seakan tutup mata akan kasus pelanggaran hak asasi manusia yang menimpa jurnalis itu.

Baca Juga: Setahun Pembunuhan Khashoggi dan Misteri yang Menyelimutinya

Jamal Khashoggi merupakan seorang wartawan Arab yang berbasis di Amerika Serikat. Ia tewas di dalam Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, setahun yang lalu, karena dibunuh oleh para agen nakal yang dikirim dari Riyadh. Sampai saat ini, jasadnya tidak pernah ditemukan.
 

Kendati demikian, Arab Saudi tahun depan dipilih sebagai tuan rumah KTT G20. Bulan ini kerajaan juga sedang sibuk mempersiapkan KTT tahunan yakni Davos in the Desert --konferensi tinggi eksekutif dunia untuk investasi-- yang pada Oktober silam tak banyak dikunjungi perusahaan besar. Hal itu dinilai sebagai ungkapan keprihatinan mereka atas hilangnya Jamal Khashoggi.

Bagaimanapun juga, tahun ini para pelaku bisnis global diperkirakan akan kembali mengunjungi Riyadh dalam konferensi tinggi itu, termasuk menantu Donald Trump Jared Khusher dan penasihat Gedung Putih.

"Ada risiko yang tak dapat dipungkiri bahwa dengan acara besar yang berlangsung di Arab Saudi pada 2020, seperti KTT G20, hubungan antar negara dapat dinormalisasikan kembali," demikian pernyataan bersama 19 organisasi termasuk Amnesty Internasional dan Index on Censorship pada Selasa (2/10/2019), dikutip Al Jazeera.
 

Grup tersebut menganggap kembalinya pelaku bisnis global ke Riyadh membuat kematian Jamal Khashoggi sia-sia. "Hanya sedikit harapan dari ratusan aktivis yang dihilangkan secara ilegal, ditahan, disiksa atau dieksekusi yang kasusnya gagal menarikk perhatian internasional di tingkat yang sama".

Baca Juga: Diam-Diam Arab Saudi Jual Bangunan Tempat Eksekusi Jamal Khashoggi

Sementara itu, Bessma Momani yang merupakan profer ilmu politik di University of Waterloo di Kanada mengatakan, bahwa para pemimpin dunia telah memberikan Pangeran Mahkota 'kelonggaran', meskipun terdapat sejumlah bukti yang telah memberatkan MBS atas pembunuhan Khashoggi

Ia merujuk pada sebuah laporan yang dirilis pada Juni oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), di mana dalam laporan independen disertai dengan bukti yang kredibel menyebutkan bahwa Pangeran Mahkota bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi.

"Tidak hanya disambut dalam forum dunia, ia (MBS) juga terus mengadakan pertemuan tatap muka dengan para pemimpin dunia, termasuk negara-negara demokrasi liberal," ujar Momani.

Kembalinya Mohammed bin Salman dalam satu tahun ini telah membuktikan kekuatan Arab Saudi di panggung dunia sebagai produsen minyak dan importir senjata utama dunia, di mana Saudi dan Barat kerap melakukan pembelian senjata militer bernilai miliaran dolar.

Selain itu, Momani juga berpendapat bahwa keputusan untuk tidak mengambil langkah hukum terhadap Arab Saudi atas pembunuhan Khashoggi juga mencerminkan adanya peningkatan diktator populis-nasionalis secara global.

Tag: jamal khashoggi putra mahkota mohammed bin salman

Bagikan: