Misteri Tewasnya Maulana Suryadi Saat Demo di DPR

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Maulana Suryadi (23) tewas saat aksi demosntrasi di sekitar gedung DPR, Rabu (25/9). Di media sosial, kematian Suryadi mendapat sorotan. Dia disebut sebagai korban kekerasan aparat. Bahkan, foto yang beredar, jasadnya yang ditutupi kain kafan penuh dengan bekas darah.

Informasi penganiayaan terhadap Suryadi dibantah polisi, lewat Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono. Argo menegaskan, secara tampilan, pemuda yang dikenal sebagai juru parkir itu, tidak ditemukan bekas luka. Bahkan, sebelum dibawa pulang, jasad korban sempat diperiksa oleh ibundannya, Maspupah.

"Ibu kandung almarhum atas nama Maspupah datang ke Rumah Sakit Polri melihat jenazah anaknya untuk dibawa pulang. Ibu kandung melihat sendiri jenazah anaknya, dan melihat tidak ada tanda-tanda kekerasan apapun," ucap Argo saat dikonfirmasi, Jumat (4/10/2019).

Argo menambahkan, dari informasi sang ibunda, diketahui Suryadi mengidap penyakit sesak napas alias asma. Namun, penyebab kematian tidak bisa disimpulkan karena Maspupah menolak autopsi terhadap jasad anaknya tersebut.

"Kemudian ibu kandung tidak mau di autopsi karena memang anaknya mempunyai riwayat sesak napas. Ada pernyataan di tandatangani di atas meterai 6.000," kata Argo.

Dilansir Antara, Maspupah ingat betul perjumpaan terakhir dengan sang anak. Sebelum pergi berdemo, Yadi--panggilan Maulana Suryadi--sempat memijat dan mencium tangannya sembari minta maaf. 

"Terus cium tangan, maafin Yadi ya bu, cium tangan lagi," kata Maspupah di Jakarta, Jumat.

Yadi adalah tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal dunia. Kata Maspupah, penyakit sesak napas yang mendera Yadi adalah turunan dari sang ayah.

Informasi ini pula yang dia tuangkan dalam surat pernyataan bahwa Yadi meninggal akibat terkena gas air mata dan penyakit asma. Surat itu dibuat saat dia datang mengurus jasad Yadi di RS Polri Kramat Jati. Dia pun diberi uang Rp10 juta yang kata polisi sebagai biaya jenazah.

"Abis itu saya dipanggil sama polisi ke kamar, ngasih amplop buat ngurus biaya jenazah Yadi, Rp10 juta. Saya enggak banyak omong, takut," ujarnya.

Saat menjemput jenazah Yadi di RS Polri, dia melihat banyak darah keluar dari telinga sang anak. Dia sempat menanyakan itu, dan dijawab petugas karena penyakit asma.

Kata Maspupah, saat dimakamkan pun, jasad Yadi masih mengeluarkan darah. Sementara, tak ada petugas polisi yang hadir dalam pemakaman ini.

Yadi sempat ditangkap polisi

Yadi bersama rekannya, Aldo ditangkap polisi saat kerusuhan terjadi. Mereka ditangkap di sekitar Slipi, Jakarta Barat.

Dari penjelasan Aldo, Maspupah menuturkan, saat itu Aldo dan Yadi sedang berada di flyover Slipi, kemudian ditangkap polisi dan dimasukkan ke dalam mobil.

Di dalam mobil terdapat beberapa orang, kemudian Aldo dan Yadi tidak sadarkan diri. Setelah siuman, Aldo sudah berada di dalam penjara sedangkan keberadaan Yadi tidak diketahui.

Selanjutnya, polisi menghubungi Maspupah untuk memberi kabar. Saat itu, Maspupah berada di rumah usai pulang kerja.

Aldo sempat mendekam di penjara selama tiga hari dan membantah ikut demo. Aldo beralasan kepada polisi hanya lihat aksi demonstrasi yang rusuh dan tidak ikut terlibat.

Pada Kamis (26/9) sekitar pukul 20.00 WIB, Maspupah kedatangan delapan orang yang menumpang dua mobil dan diperlihatkan jasad Yadi.

"Polisi ngajak makan dulu. Enggak ah makasih sudah kenyang. Polisi bilang Maulana sudah enggak ada, sabar ya. Saya kaget, nangis," ujar Maspupah.

Namun, jika benar Yadi tewas dianiaya, Maspupah mengecam peristiwa ini. Dia tidak terima anaknya dipukuli dipukuli hingga meninggal dunia karena dituduh ikut demo yang berujung ricuh.

"Dunia akhirat saya tidak terima. Tapi kalau anak saya meninggal karena dari Allah, saya ikhlas," ujar Maspupah.

Tag: aksi mahasiswa 23-24 demo pelajar polri

Bagikan: