Korban yang Terlupakan dari Demo 'Reformasi Dikorupsi'

Tim Editor

Aksi demonstrasi di sekitar gedung DPR menolak UU KPK dan RUU KHUP (Mery/era.id)

Jakarta, era.id - Aksi demonstrasi menolak pengesahan RUU KUHP bermasalah UU KPK di depan kompleks DPR RI oleh mahasiswa beberapa waktu lalu meninggalkan noda hitam. Tindak kekerasan menghiasi aksi itu. Bahkan, beberapa di antaranya meregang nyawa lantaran diduga jadi korban dari tindak represif aparat keamanan.

Satu per satu korban kekerasan yang terjadi di dalam aksi demonstrasi berakhir ricuh itu menuju tempat peristirahatan abadi. Hanya saja, tak ada satu pun sebab yang jelas atas tewasnya para korban.

Satu sisi, mengklaim bahwa korban tewas dalam demonstrasi diakibatkan tindak kekerasan yang membabi buta dari aparatur negara, terutama pihak kepolisian. Sementara, Polri membantah soal tindak kekerasan dengan menyebut faktor lain yang menjadi penyebab tewasnya korban.

Teriknya matahari di Minggu siang tak menyurutkan semangat sekelompok wanita yang menamakan dirinya sebagai 'Solidaritas Emak-Emak Seluruh Indonesia'. Mereka merupakan salah satu elemen masyarakat yang menggelar aksi untuk menuntut Polri membuka akses secara terbuka dan memaparkan data terkait penyebab jatuhnya korban jiwa.


Aksi damai menolak lupa (Rizky/era.id)


Depan kompleks Polda Metro Jaya menjadi lokasi yang dipilih. Puluhan wanita dari berbagai usai mengenakan pakaian hitam dan berkumpul di sana. Poster dengan berbagai tuntutan diangkat ke udara.

Di hadapan mereka, tergeletak pakaian seragam putih abu-abu dengan noda merah yang melambangkan darah. Beberapa wanita secara bergantian berbicara lantang yang dibantu dengan pengeras suara.

"Hentikan kekerasan, bebaskan anak kami," kata seorang orator.

Di tengah orasi yang menggema, seorang wanita lainnya menaburkan sekantong kembang berwarna merah putih diatas baju seragam itu. Air mata sempat menetes di pipinya diliputi debu jalan. Lagu perjuangan terdengar tipis mengiringi penaburan bunga.


Aksi damai menolak lupa (Rizky/era.id)


Depan kompleks Polda Metro Jaya menjadi lokasi yang dipilih. Puluhan wanita dari berbagai usai mengenakan pakaian hitam dan berkumpul di sana. Poster dengan berbagai tuntutan diangkat ke udara.

Di hadapan mereka, tergeletak pakaian seragam putih abu-abu dengan noda merah yang melambangkan darah. Beberapa wanita secara bergantian berbicara lantang yang dibantu dengan pengeras suara.

"Hentikan kekerasan, bebaskan anak kami," kata seorang orator.

Di tengah orasi yang menggema, seorang wanita lainnya menaburkan sekantong kembang berwarna merah putih diatas baju seragam itu. Air mata sempat menetes di pipinya diliputi debu jalan. Lagu perjuangan terdengar tipis mengiringi penaburan bunga.


Tuntutan

Aksi pun berakhir tak lebih dari satu jam. Salah seorang koordinator aksi, Wiwin Warsiati mengatakan bahwa aksi yang dilakukan itu merupakan wujud dari solidaritas terkait jatuhnya korban jiwa dalam demo mahasiswa 23-24 September lalu.

Dengan wajah penuh emosi, dia menyebut siapapun yang menyuarakan demokrasi tak boleh ditindak atau bahkan ditembak. "Siapa pun yang mengatakan hal demokrasi, pemerintah wajib melindungi, tapi tidak menembaki," katanya.


Di kesempatan yang sama, lima tuntutan disuarakan oleh mereka.

1. Bebaskan anak-anak kami (mahasiswa dan pelajar) yang masih ditahan oleh pihak kepolisian

2. Menuntut Polda Metro Jaya untuk membuka akses secara terbuka dan transparan data-data tentang mahasiswa dan pelajar yang masih ditahan. Berikan kemudahan akses bagi orang tua dan keluarga untuk mengetahui keadaan anak-anaknya dan berikan jaminan bagi mahasiswa dan pelajar untuk mendapatkan pendampingan hukum

3. Hentikan segala bentuk kekerasan terhadap aksi mahasiswa, pelajar dan seluruh rakyat yang menyuarakan hak-hak demokratisnya

4. Menuntut agar Mendikbud, Menristekdikti, KPAI dan Dinas Pendidikan untuk menghentikan segala pelarangan mahasiswa/pelajar menyuarakan pendapatnya dan menghentikan ancaman drop out (DO) bagi mereka

5. Hentikan kriminalisasi terhadap pejuang demokrasi, usir polisi dan tentara dari jabatan sipil


Menolak lupa

Dari catatan era.id, beberapa kasus menonjol terkait jatuhnya korban jiwa yang disebabkan adanya dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Meninggalnya Maulana Suryadi, salah satunya.

Suryadi meregang nyawa pascaterlibat dalam aksi demonstrasi pada (25/9). Dia disebut jadi korban kekerasan polisi. Dugaan itu muncul setelah beredar foto yang memperlihatkan jasadnya yang ditutupi kain kafan penuh dengan bekas darah.

Namun, Informasi tekait dugaan penganiayaan terhadap Suryadi dibantah polisi. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, tak ditemukan bekas luka di jasad pemuda yang berprofesi sebagai juru parkir itu.

Konon, Suryadi meninggal lantaran memiliki riwayat penyakit sesak napas. Bahkan, sebelum dibawa pulang, jasad korban sempat diperiksa oleh ibundanya, Maspupah.

"Ibu kandung almarhum atas nama Maspupah datang ke Rumah Sakit Polri melihat jenazah anaknya untuk dibawa pulang. Ibu kandung melihat sendiri jenazah anaknya, dan melihat tidak ada tanda-tanda kekerasan apapun," ucap Argo saat dikonfirmasi, Jumat (4/10).


Aksi demonstrasi di sekitar gedung DPR menolak UU KPK dan RUU KHUP (era.id)


Kasus lain yang juga menjadi perhatian adalah kematian Akbar Alamsyah. Dia merupakan salah satu korban kekerasan pada kericuhan di sekitar gedung DPR RI. Bahkan, sosoknya sempat dinyatakan hilang.

Akbar akhirnya ditemukan dengan kondisi luka parah. Tempurung kepalanya retak. Akbar juga sempat koma selama empat hari di ruangan CICU RSPAD Gatot Subroto.

Namun, polisi justru mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Pemuda 19 tahun itu dinyatakan sebagai tersangka oleh polisi lantaran diduga ikut terlibat dalam kericuhan.

"Para perusuh yang kita tangkap di Polres atau di Polda, kita lakukan pemeriksaan dan tentunya ada saksi yang sudah kita periksa. Yang ikut kita amankan sebagai tersangka ada yang menyatakan bahwa yang bersangkutan (Akbar Alamsyah) ikut melempari, ikut merusak dan sebagainya waktu itu," kata Argo.

Kemudian, dua korban lainnya, yakni Yusuf Kardawi (19) dan Hilmawan Randi (21) yang merupakan mahasiswa Universitas Halu Oleo. Mereka adalah peserta unjuk rasa ribuan mahasiswa penolak UU KPK di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara pada Kamis (26/9).

Randi, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Halu Oleo, meninggal dunia akibat luka tembak di dada sebelah kanan Kamis (26/9) sekitar pukul 15.30 WITA. Sedangkan Yusuf Kardawi meninggal dunia setelah menjalani operasi akibat luka serius di bagian kepala di RSUD Bahteramas pada Jumat (27/9) sekitar pukul 04.00 WITA.

Tag: aksi mahasiswa 23-24

Bagikan: