Teka-teki Penemuan Puluhan Mayat dalam Truk Kontainer di Inggris

| 24 Oct 2019 16:51
Teka-teki Penemuan Puluhan Mayat dalam Truk Kontainer di Inggris
Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Kemarin, masyarakat Inggris digegerkan dengan penemuan puluhan mayat dalam sebuah truk kontainer di kawasan industri Essex, dekat London. Sampai sekarang, teka-teki soal penemuan puluhan mayat itu belum terjawab.

Pada Rabu (24/10) sekitar pukul 01.40 pagi waktu setempat, layanan darurat melaporkan kepada kepolisian ada penemuan 39 mayat dalam sebuah truk kontainer yang diyakini berasal dari Bulgaria. Kabar ini sontak membuat kawasan industri Waterglade di sebelah timur Kota London itu ramai dikunjungi awak media dan warga sekitar.

Kepolisian Inggris dalam pernyataannya yang dikutip AFP mengungkapkan, indikasi awal dari penemuan puluhan mayat itu terdiri dari 38 jasad orang dewasa dan satu jasad remaja. Saat ini, kepolisian masih melakukan penyelidikan meluas untuk melihat apakah ada jaringan kejahatan terorganisir dalam operasi penyelundupan manusia ke Inggris.

Sang sopir truk yang disebut oleh warga lokal dengan nama Mo Robinson ini telah ditangkap oleh kepolisian atas tuduhan pembunuhan. Belum diketahui apakah pria yang berasal dari Portadown di Irlandia Utara ini mengetahui bahwa truknya membawa orang menyebrang ke Inggris. 

Baca Juga:  Serangan Supremasi Kulit Putih pada Kaum Yahudi Marak di AS

Truk kontainer itu disebutkan memiliki mesin pendingin di dalamnya, di mana media lokal menduga hal itu menyebabkan para imigran mati membeku dalam suhu terendah -25 derajat Celcius.

Awalnya polisi mengatakan truk memasuki Inggris melalui pelabuhan Holyhead di Wales utara. Namun kini dikonfirmasi bahwa kontainer yang ada di bagian belakang truk itu dikirim dari Zeebrugge ke Purfleet, Essex, dan tiba di wilayah Thurrock pada pukul 12.30 waktu setempat. Sementara bagian depan truk, melakukan perjalanan terpisah dari Irlandia Utara. 

Kementerian Luar Negeri Bulgaria mengatakan, truk itu telah terdaftar di Varna, sebuah kota di pantai timur negara itu, dengan nama perusahaan milik warga negara Irlandia. Penemuan puluhan mayat ini adalah yang terburuk sejak 58 jasad warga Tiongkok ditemukan dalam sebuah kontainer di Dover, Kent pada tahun 2000.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan, dirinya terkejut saat mendengar kabar temuan kontainer penuh jenazah itu dan menyampaikan simpatinya kepada keluarga korban. "Saya terkejut dengan insiden tragis di Essex ini. Saya turut berduka cita terhadap para korban yang para keluarga yang ditinggalkan," kata Johnson.

Migrasi ke Eropa

Inggris dan Republik Irlandia tidak masuk dalam zona Uni Eropa tanpa perbatasan Schengen, namun memiliki sejarah Wilayah Perjalanan Bersama, di mana tidak memberlakukan pemeriksaan terhadap pergerakan barang maupun orang yang menyebrang. Area ini sebagian besar berfungsi sebagai yurisdiksi tunggal untuk tujuan perjalanan internasional, dengan kebijakan visa bersama.

Dilansir The Guardian, Kamis (24/10/2019), setiap harinya ratusan pencari suaka dari Suriah, Pakistan, Afghanistan, dan Iran berusaha untuk melintasi rute Balkan untuk mencapai Eropa barat. Mayoritas dari mereka tiba di Bulgaria usai melakukan perjalanan melalui Turki. Dari sana, mereka mencoba melintasi Serbia, Bosnia, dan Kroasia, dan berharap mencapai Slovenia sebelum akhirnya menuju ke Italia, Austria, atau Jerman.

Para migran yang melintasi rute Balkan sering menghadapi kekerasan brutal. Para migran yang tergabung dalam kelompok biasanya melakukan perjalanan saat malam hari untuk menghindari polisi. Jika tertangkap, para migran seringkali dipukul mundur secara ilegal, dan kembali mencoba di hari berikutnya.

Karena negara-negara Eropa timur, seperti Hongaria telah menutup perbatasan mereka, penyeberangan menjadi semakin berbahaya bagi para migran. Sering kali, satu-satunya cara untuk melanjutkan perjalanan adalah menggunakan truk yang dikelola oleh penyelundup.

Baca Juga: Toleransi Tinggi di Tengah Aksi Demonstrasi Hong Kong

Sejak 2014, Organisasi Internasional untuk Migrasi telah mencatat jumlah migran yang meninggal dalam perjalanan. Dalam enam tahun terakhir, angka menunjukkan lebih dari 33.700 kematian. Angka ini dianggap sebagai indikasi dari migrasi yang tidak aman. Sementara itu, menurut PBB lebih dari 1,9 juta migran telah menyeberangi Mediterania ke Eropa sejak 2014. Dan lebih dari 1.000 migran dan pengungsi tewas di laut Mediterania pada tahun ini. 

Tercatat setidaknya 92 kematian imigran terjadi di daratan Eropa pada tahun 2018, dan sebelum penemuan 39 mayat dari Bulgaria ini, 58 kematian telah tercatat untuk tahun 2019, 22 di antaranya berasal dari insiden yang sama, yakni penyelundupan imigran dengan truk. Dikutip BBC, Badan Kejahatan Nasional Inggris mengatakan kepada BBC semua pelabuhan Inggris pernah dipakai untuk menyelundupkan manusia.

Metode penyelundupan manusia yang tergolong paling berbahaya adalah memakai kargo. Metode yang paling umum adalah bersembunyi di bagian belakang kontainer, namun kontainer pengapalan kian sering digunakan bahkan kontainer berpendingin udara. Risiko kematian sangat nyata bagi para migran yang bisa membayar Rp180 juta untuk disembunyikan di dalam kontainer.

Tags : liga inggris
Rekomendasi