John Kei is Back

Tim Editor

John Refra Kei. (Ilham/era.id)

Jakarta, era.id - John Refra Kei, terpidana kasus pembunuhan berencana terhadap Tan Harry Tantono alias Ayung akhirnya bisa menghirup udara segar. Kamis, 26 Desember 2019, John Kei dinyatakan bebas bersyarat setelah menghuni Lapas Permisan Nusakambangan selama lima tahun.

"Narapidana atas nama John Refra alias John Kei telah bebas menjalani pembebasan bersyarat pada tanggal 26 Desember 2019," ujar Kabag Humas dan Protokol Ditjen Pemasyarakatan Kemkumham Ade Kusmanto dalam keterangannya di Jakarta, seperti dikutip Antara, Kamis (27/12/2019).

Bebas bersyarat tersebut berdasarkan surat keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor Pas-1502.PK.01.04.06 Tahun 2019 tertanggal 23 Desember 2019. Sebelumnya, Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta menjatuhkan vonis 12 tahun penjara kepada John Kei pada persidangan tanggal 27 Desember 2012.

Dalam persidangan itu, majelis hakim menyatakan bahwa John Kei terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap Direktur Sanex Stell Mandiri, Tan Harry Tantono alias Ayung yang ditemukan tewas di kamar 2701 Swiss-Belhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada tanggal 26 Januari 2012.

Dalam kasus tersebut, John Kei dinyatakan melanggar Pasal 340 juncto Pasal 55 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Akan tetapi setelah mengajukan banding, Mahkamah Agung (MA) justru menambah vonis terhadap John Kei menjadi 16 tahun penjara.

Setelah mendapat remisi 36 bulan 30 hari, berdasarkan perhitungan, John Kei akan bebas pada 31 maret 2025. Namun, setelah memenuhi persyaratan, John Kei diberikan program pembebasan bersyarat sejak 26 desember 2019 dan masa percobaan hingga 31 maret 2026.

Awal Karier John Kei di Dunia Hitam

John Refra lahir di Pulau Kei, Maluku Tenggara, 10 September 1969. Kata 'Kei' di belakang nama lapangannya merujuk pada kampung kelahirannya itu. 

Pada tahun 1990 ia pergi merantau ke ibu kota Jakarta. Kemudian setahun setelahnya, ia mendirikan sebuah organisasi bernama AMKEI (Angkatan Muda Kei). Organisasi ini terbentuk pascakerusuhan di Tual, Pulau Kei pada bulan Mei tahun 2000.

Melalui organisasi AMKEI ini, John memulai bisnisnya sebagai debt collector. Dia dikenal memiliki banyak pendukung dan kabarnya memiliki koneksi dengan sejumlah pejabat dan bos-bos dunia malam. Kariernya sebagai debt collector semakin berkibar setelah kematian Basri Sangaji, tokoh pemuda asal Maluku Utara yang juga salah satu debt collector di Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan. Sebelumnya kelompok John Refra Kei dan Basri Sangaji saling bersaing memperebutkan nama besar di Jakarta.


Infografik (Ilham/era.id)

Nama Jon Kei kerap dikaitkan dengan pembunuhan Basri Sangaji. Ini bermula usai terjadinya bentrokan antara kelompok John Refra dengan kelompok Basri Sangaji. Saat itu, kelompok Basri Sangaji sedang bertugas sebagai security di Diskotek Stadium di Jakarta Barat. Dua anak buah Basri Sangaji tewas dan belasan terluka. Kasus ini kemudian disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Saat persidangan meletuslah bentrokan yang menewaskan Walterus Refra Kei alias Semmy Kei yang merupakan kakak dari John Refra. Hal inilah yang diduga memicu pembunuhan terhadap Basri Sangaji.

Namun, di balik kehidupan John Kei yang kelam, dia adalah sosok penyayang. Contoh kedermawanan John, dengan adanya pembangunan sebuah gereja dan rumah pastor di kampung halamannya di Pulau Kei. Di sana John Kei menjadi penasihat pembangunan gereja, demikian seperti dikutip merdeka.com. 

Selain membangun rumah ibadah, John juga memutuskan untuk membantu 20 rumah warga di Pulau Kei yang masih beratapkan jerami. Dia juga sempat membantu Umar Kei, keponakan John Kei, dengan memberikan lampu-lampu taman di halaman masjid. 

Tag: premanisme

Bagikan: