Duka di Balik Gemerlap Industri Film Indonesia

Tim Editor

Ilustrasi (Mahesa/era.id)

Jakarta, era.id - Sebuah utas duka cita muncul di jagat Twitter. Utasan yang diunggah oleh akun Satyani Adiwibowo (@MissSatyani) ini cukup menarik perhatian, lantaran mengisahkan perjuangan dan suka duka pekerja industri film.
 
Diceritakan bahwa seorang pekerja seni bernama Adit meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Kejadian bermula saat Adit --yang merupakan crew film-- sedang bertugas memasang  tracking point untuk bagian green screen. Namun nahas, Adit yang bukan tim special effect atau stunt untuk pekerjaan tersebut malah terjatuh dari scaffolding atau steger pada pukul 03:00 WIB. 

Adit dinyatakan meninggal dunia. Unggahan @MissSatyani pun dibanjiri beragam komentar dan rasa prihatin atas kejadian yang menimpa Adit.
 


Lalu bagaimana sebenarnya sistem kerja dan keselamatan para pekerja film di Indonesia? 

Tim era.id mencoba menginterviu AM (Nama disamarkan), seorang pekerja seni di industri perfilman Indonesia, khususnya sinetron dan FTV. Hampir setiap hari AM bekerja tanpa jam kerja yang pasti. Dalam tugasnya, ia bekerja untuk bagian properti.

“Jam kerjanya tuh enggak pasti. Bukan kayak orang kantoran yang 8 jam. Di sini bisa masuk jam 8 pagi selesai jam 4 pagi,” kata AM 

Pekerjaan yang tak kenal waktu itu pun terpaksa dilakukan AM demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan tak jarang ia kelelahan dan jatuh sakit lantaran porsi kerja yang berlebihan. 

“Kalau sakit yaudah jadinya libur tiga hari. Biayanya ya ditanggung sendiri. Enggak ada BPJS dari kantor,” ungkapnya.

Dalam mengerjakan satu buah judul sinetron atau FTV, lanjut AM, biasanya memakan waktu hingga tiga hari. Nantinya bayaran atau upah untuk syuting FTV tersebut akan diakumulasikan dengan nominal tertentu selama tiga hari. Misalnya, per hari upah AM Rp100 ribu, maka tiga hari bayaran yang diterimanya adalah Rp300 ribu.

Sementara untuk syuting sinetron biasanya menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan. Hal ini juga menjadi pertimbangan bagi AM lantaran upah yang diterimanya akan lebih besar dibandingkan syuting FTV.

“Kalau enggak masuk sehari karena sakit, yaudah berati enggak masuk tiga hari atau satu judul. Liburnya cuma sehari dalam seminggu. Ya cuma hari sabtu saja liburnya,” kata AM

Untuk waktu kerja pembuatan sinetron, AM mengaku lebih menyukainya. Hal ini lantaran waktu kerja pembuatan sinetron lebih masuk akal dibandingkan pembuatan FTV. 

“Kalau sinetron tuh lebih enak waktunya. Misal masuk jam 9 pagi pulang bisa jam 11 malam. Jarang pagi ketemu pagi lagi syutingnya. Bayarannya juga enakan sinetron karena per episode. Sehari biasanya bisa satu atau dua episode," kata AM. 


Ilustrasi (Mahesa/era.id)

AM juga pernah terlibat langsung dalam urusan sinetron atau FTV. Di mana dia terpaksa berperan sebagai figuran lantaran tidak adanya orang yang mau atau bisa terlibat. 

“Iya jadi figuran pernah karena enggak ada orang yang mau sih. Tapi jarang-jarang itu. Biasanya jadi figuran kaya sopir taksi, orang yang suka nabrak, jadi stunt man juga pernah,” tuturnya

Tidak hanya itu saja, lokasi syuting yang kerap berganti setiap hari pun menjadi tantangan tersendiri bagi AM dalam melakukan pekerjaannya. Misalnya satu hari syuting di kawasan Bogor, besoknya syuting di kawasan Cibubur. Hal ini berlaku setiap hari untuk setiap judul. 

“Semoga pelaku PH atau industri film lebih ngerti gimana risiko pekerja kaya gini yang enggak ada waktu. Paling enggak BPJS dibayarin kantor lah,” tutup AM.

Manajemen yang buruk

Lain lagi dengan FH, seorang kru film yang kerja di bagian editing. Sebelum memulai kisah dukanya di industri film, FH terlebih dahulu membuka ceritanya kepada kami tentang awal mula bekerja di industri film.

Pada tahun 2011, FH mengaku kesulitan ekonomi untuk membiayai kuliahnya. Akhirnya dia berkenalan dengan Doni (Nama disamarkan) seorang editor film yang cukup senior. FH yang sebelumnya tidak ada background sama sekali di dunia broadcasting khususnya editing akhirnya memutuskan berguru dengan Doni.

Setelah dirasa cukup mahir, dia akhirnya bergabung dalam industri film. Bekerja dari PH ke PH mulai dilakoninya --PH merupakan kepanjangan dari production house. Saat itu, dia mulai merasa bahwa waktunya habis tersita untuk pekerjaannya tersebut. Berkarier di industri film yang semula niatnya untuk membiayai kuliah malah membuatnya di-drop out (DO) dari kampus lantaran sering bolos.

"Waktu gue habis tersita untuk syuting, yang jam kerjanya enggak tentu dan lokasinya sering berpindah-pindah."

FH pun akhirnya bisa berdamai dengan diri sendiri dan menganggap hal itu sebagai risiko pekerjaan. Namun, yang tidak bisa dimaafkan adalah buruknya manajemen dari sebuah PH. Dia mengaku sering telat digaji, bahkan sering juga tidak dibayar.

"Sampai sekarang masih ada duit gue yang belum dibayarin. Udah coba ditagih, baik lewat WhatsApp, telpon, sampai ketemu langsung tapi belum juga ada hasil. Jawabannya selalu sama, 'belum ada uangnya', 'belum dibayar sama pihak PH', dan macam-macam," tutur FH.

Hampir sembilan tahun bergelut di industri film, baru pada tahun ini FH memutuskan untuk keluar dari dunia perfilman dan berkarier di bidang lain. Keputusan itu bulat-bulat diambil FH karena tak sanggup lagi dengan pekerjaan yang penuh ketidakpastian.

Saat ini, dia pun bekerja sebagai staf administrasi di salah satu perusahaan swasta. Kendati, belum ada pengalaman sebelumnya, FH mencoba untuk melakoni profesi barunya ini demi menghidupi keluarga.

Tag: azab-azaban

Bagikan: