Sedihnya TKI di Singapura Tak Bisa Mudik Tahun Ini

Tim Editor

Sri Sunarni dan Majikan (Straits Times)

Jakarta, era.id - Bertahun-tahun merantau di negeri seberang, membuat momen mudik Lebaran menjadi saat yang ditunggu-tunggu para pekerja migran Indonesia di Singapura. Tapi tahun ini, sekitar 250.000 orang TKI di Singapura terpaksa harus menunda tradisi mudik karena pandemi.

Sri Sunarni misalnya, ia akan menaati anjuran pemerintah untuk tidak mudik ke kampung halaman hingga pandemi COVID-19 berakhir. Apalagi, Singapura adalah salah satu episentrum penyebaran virus korona baru di Asia.

Ia kini hanya bisa berkomuniaksi dengan keluarganya di aplikasi pesan WhatsApp. Keluarga di kampung juga sepakat untuk menunda perayaan Hari Raya sampai situasi membaik.

"Menghabiskan waktu dengan orang yang saya cintai tentu saja merupakan momen yang berharga tetapi pada saat ini, kesehatan dan hidup saya lebih berharga," kata wanita asal Boyolali, Jawa Tengah itu seperti dikutip dari Straits Times, Kamis (23/4/2020).

Meski demikian, hatinya hancur saat harus melewatkan Hari Raya bersama kedua orang tuanya, kedua anak dan dua cucunya. Terlebih ia hanya bisa pulang ke kampung halamannya setahun sekali.

Majikan Sri, Veronica Ng bilang, tak ada masalah jika wanita 46 tahun itu merayakan Hari Raya di rumah mereka. Keluarganya tetap akan memberi hari libur untuk Sri saat Idul Fitri.

"Dia tidak bisa pulang untuk Hari Raya, tetapi kami akan menganggapnya sebagai hari libur. Dia sangat baik, selalu bertanya apakah kami membutuhkan bantuannya selama hari libur, tetapi kami akan mengatakan kepadanya 'Tidak, kamu istirahat'," ujar Warga Negara Singapura berusia 29 tahun itu.

Sedangkan TKI lainnya, Ani Rustiati juga akan menunda pulang kampung ke Sukabumi, Jawa Barat. Ia lebih khawatir apabila ia kembali ke Indonesia saat pandemi, akan susah lagi untuk kembali ke Singapura. Sementara, ia masih butuh mengais dolar Singapura untuk memenuhi kebutuhan ia dan keluarganya.

"Kita harus menjaga pikiran kita tetap terbuka. Saya bukan satu-satunya yang terpengaruh, semua orang berjuang. Jika saya kembali ke Indonesia, apakah saya dapat kembali ke Singapura? Saya masih membutuhkan pekerjaan ini di Singapura," ujar Wanita 47 tahun itu.

Selain itu, ia merasa lebih aman berada di Singapura. Pemerintah di Negeri Singa dinilainya lebih serius menghadapi wabah virus korona baru.

"Saya merasa lebih aman di sini. Saya tahu pemerintah Singapura menganggap serius virus ini," tambah wanita yang sudah 21 tahun merantau di Singapura itu.

Sebelumnya, KBRI Singapura juga aktif memberi informasi soal perkembangan penularan virus korona baru kepada para WNI. Duta Besar Indonesia untuk Singapura Ngurah Swajaya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Singapura dan para majikan atas perlakuan baik kepada parapekerja rumah tangga Indonesia di masa pandemi korona.
 


Saat ini ada sekitar 127.000 WNI yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di Singapura. Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah sudah meminta agar para Pahlawan Devisa itu tidak mudik tahun ini. "Saya mengerti Anda merindukan orang tua Anda, saya mengerti Anda ingin bertemu keluarga Anda, tetapi sekarang, keselamatan dan kesehatan Anda serta keluarga Anda melampaui segalanya," katanya.

Singapura adalah negara dengan kasus penularan COVID-19 terbanyak di Asia Tenggara yakni mencapai 10.141 kasus, dan memiliki angka kematian 12 korban jiwa. Sedangkan, 49 WNI dinyatakan positif COVID-19 di sana dan dua diantaranya meninggal dunia.
 

Tag: nasib pilu tki

Bagikan: