Tak Ada Open House pada Lebaran Tahun ini

Tim Editor

Presiden Jokowi saat ‘Open House’ Idulfitri Tahun 2018 di Istana Negara. (Foto: setkab.go.id).

Jakarta, era.id - Hari Raya Idulfitri biasanya dijadikan momentum untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Di Indonesia tradisi ini dikenal dengan sebutan 'halal bi halal'. Biasanya orang yang lebih tua atau tokoh masyarakat akan menggelar open house dengan membuka rumahnya bagi para tamu.

Lalu bagaimana dengan lebaran tahun ini? 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar masyarakat tidak melakukan kunjungan ke rumah kerabat pada saat lebaran. Alasannya tentu karena pandemi COVID-19 yang kini tengah merebak di Indonesia.

"Kita meminta masyarakat untuk tidak melakukan acara saling kunjung mengunjungi usai salat Idulfitri seperti yang biasa kita lakukan. Karena melakukan itu dalam masa COVID-19 jelas berisiko sangat tinggi," kata Sekjen MUI Anwar Abbas melalui keterangan tertulisnya, Jumat (15/5/2020).

Anwar juga meminta masyarakat untuk tidak berjabat tangan atau bersalaman seperti lazimnya dilakukan saat hari raya. Apalagi, bersalaman menjadi cara penyebaran COVID-19 yang paling efektif selama ini.

Sehingga sebagai alternatif, kata dia, acara silaturahmi dan saling bersalam-salaman dapat dilakukan dengan cara lain seperti melalui pesan singkat, telepon, ataupun video call. Hal ini sebagai upaya saling menjaga dan melindungi diri dari virus.



"Apalagi dalam agama, menjaga diri untuk tidak terjatuh ke dalam bencana dan malapetaka itu hukumnya wajib sementara bersalaman itu hukumnya hanya sunnah," kata Anwar.

Tak hanya berjabat tangan dan berkunjung ke rumah kerabat saja, MUI juga telah menerbitkan fatwa yang memuat ketentuan salat di rumah baik berjemaah maupun sendiri.

Melalui Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan salat Idulfitri saat pandemi COVID-19 disebutkan, salat ini hukumnya sunah muakad atau sangat dianjurkan. Salat ini disunahkan untuk dilakukan di tanah lapang, masjid, atau musala secara berjemaah.

Namun, di tengah pandemi seperti sekarang, MUI menjelaskan salat di tanah lapang, masjid, dan musala bisa dilakukan bila kawasan itu aman dari penyebaran virus korona. Hal ini ditandai dengan angka penularan menurun dan didukung kebijakan pelonggaran aktivitas yang memungkinkan terjadinya kerumunan.

Jika hingga saat Idulfitri hal ini tidak terjadi maka, masyarakat di kawasan tersebut bisa melaksanakan salat di rumah masing-masing. "Salat Idulfitri boleh dilaksanakan di rumah dengan berjemaah bersama anggota keluarga atau sendiri, terutama yang berada di kawasan penyebaran COVID-19 yang belum terkendali," kata MUI dalam fatwa tersebut.

Pelaksanaan salat di rumah ataupun di masjid (bagi wilayah yang dianggap aman), tetap harus melaksanakan protokol kesehatan guna mencegah potensi penularan dengan memperpendek bacaan salat dan pelaksanaan khotbah.

Masyarakat yang ingin salat berjemaah di rumah juga diatur jumlah minimalnya yaitu empat orang dengan rincian satu orang imam dan tiga orang makmum. Misalnya jumlah ini tak tercukupi, maka, tetap boleh salat berjemaah dan khotbah juga tak wajib dilakukan bila tak ada yang bisa melakukannya.

Tag: lebaran

Bagikan: