Peringatan 20 Tahun Reformasi: Tragedi Trisakti, di Mana Soeharto?

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi kerusuhan 1998 (Foto: Reuters)

Jakarta, era.id - Hari ini, tepat 20 tahun lalu, desakan agar Presiden Soeharto segera mundur makin gencar. Di Jakarta, kerusuhan terjadi. Mahasiswa di berbagai titik di Ibu Kota bentrok dengan aparat kepolisian. Di Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, empat mahasiswa tewas ditembak aparat keamanan.

Pertanyaan masih meliputi berbagai fakta dan peristiwa meliputi tragedi yang terjadi hari itu, termasuk di mana Presiden Soeharto berada, ketika di Jakarta, mahasiswa beradu nyawa dengan para aparat.

Menurut berbagai literasi, ketika peristiwa berlangsung, Soeharto tengah menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) 15 negara nonblok (G-15) di Kairo, Mesir. Bersama rombongan delegasi Republik Indonesia (RI), Presiden Soeharto berangkat pada Sabtu pagi, 9 Mei 1998.

Satu hari pascabentrokan yang terjadi pada 12 Mei 1998, Soeharto langsung menggelar konferensi pers dari Kairo, selang beberapa saat setelah ditutupnya KTT. Dalam konferensi pers itu, Soeharto membantah sebuah kabar yang menyebut dirinya bakal mundur dari kursi Presiden Republik Indonesia.


Infografis "Tragedi Trisakti" (Wildan Alkahfi/era.id)

Soeharto batal mundur

Kemudian, 15 Mei 1998, tiga hari setelah keterangan pers itu dibuat dari Kairo, Menteri Penerangan Alwi Dahlan menyampaikan kabar yang sontak membuat frustasi banyak orang di Tanah Air. Bagaimana tidak, harapan mereka akan mundurnya Soeharto bagai kandas seketika itu juga.

"Beliau menyatakan, kalau saya boleh kutip, 'sebetulnya kalau masyarakat tidak lagi memberi kepercayaan, tidak apa apa, Kalau tidak percaya, ya sudah. Saya tidak akan mempertahankan dengan menggunakan senjata'" ujar Alwi dilansir dari Kompas, 16 Mei 1998.

Sebelum kabar itu disampaikan Alwi di Jalan Cendana, sejumlah pimpinan negara menggelar rapat terbatas di Bandara Halim Perdanakusuma, pada pukul 04.41 WIB, tepat setelah Soeharto mendarat.

Baca Juga : 20 Tahun Reformasi: Keadilan untuk Korban Tragedi Trisakti

Dalam rapat itu, sejumlah tokoh diketahui hadir, mulai dari Wakil Presiden BJ Habibie, Mensesneg Saadilah Mursjid, Mendagri Hartono, Menko Polkam Feisal Tanung, Menteri Kehakiman Muladi, Kepala Bakin Moetojib, Jaksa Agung Soedjono, serta Wiranto yang ketika itu rangkap jabatan sebagai Menhankam sekaligus Panglima ABRI kala itu.

Selain bantahan mundur, kesepakatan yang dihasilkan rapat itu adalah bahwa Soeharto tidak akan mempertahankan kekuasaannya dengan senjata. Artinya, langkah-langkah politik akan lebih dikedepankan sebagai cara Soeharto mempertahankan kekuasaannya.

Tag: menolak lupa tragedi trisakti peringatan 20 tahun reformasi presiden soeharto

Bagikan: