Menangkal Isu Ras Lewat Cawapres Kamala Harris

| 12 Aug 2020 12:45
Menangkal Isu Ras Lewat Cawapres Kamala Harris
Pasangan capres-cawapres dari Partai Demokrat, Joe Biden dan Kamala Harris.

ERA.id - Rekam jejak Kamala Harris dipenuhi rekor: ia menjadi wanita kulit hitam Amerika dengan identitas ras Asia Selatan pertama yang dipilih sebagai anggota Senat AS. Ia juga akan mencatatkan sejarah sebagai wakil presiden kulit hitam AS yang pertama jika kelak ia dan Biden berhasil mengalahkan Donald Trump di hari pemilihan presiden, 3 November.

Diumumkannya nama Kamala Harris sebagai tandem Joe Biden di pilpres Amerika 2020 menuai sanjungan dan dukungan dari banyak pihak. Harris sendiri merupakan penantang Biden saat kampanye Partai Demokrat, tahun lalu. Ia bahkan pernah mengecam mantan wakil presiden Barack Obama tersebut dalam sebuah debat.

Kala itu, Harris menuduh Biden "rasis" karena tidak setuju menggabungkan anak-anak dengan warna kulit berbeda ke dalam satu bus sekolah. Hal ini menyinggung perasaannya karena ia merupakan anak dari imigran India dan Jamaika. Tumbuh besar di California, Harris mengalami sendiri bagaimana rasisme mempengaruhi hidup orang-orang Amerika.

Sayangnya, karir Harris yang moncer di Senat AS belum cukup untuk meloloskannya dalam kaukus Partai Demokrat. Sempat naik daun karena ikut menyidik calon Hakim Mahkamah Konstitusi Brett Kavanaugh, hasil polling untuk Harris menurun di isu-isu reformasi hukum. Banyak aktivis menuduh Harris kurang sungguh-sungguh dalam menghentikan kekerasan dari institusi kepolisian Amerika Serikat.

Pasca kalah dalam kaukus Partai Demokrat, Kamala Harris tetap menjalin hubungan yang baik dengan Biden. Ia juga mendukung mantal rivalnya tersebut selama bulan Maret lalu.

Joe Biden menyebut bahwa Harris adalah 'petarung yang pemberani' bagi 'rakyat kecil'. Ini barangkali bukan sekadar silat lidah Biden, karena Harris dan Beau Biden, anak sulungnya, sama-sama menjadi jaksa agung dan menjalin kerja sama yang erat hingga Beau meninggal karena kanker otak di usia 46 tahun, pada 2015 lalu.

Menulis di koran The Guardian, Joan E Greeve berpendapat bahwa penunjukan Harris akan memperkuat basis massa mereka di kalangan warga kulit hitam. Peristiwa tewasnya George Floyd, seorang pria Afro-Amerika di Minneapolis, membekas di memori publik Amerika dan memicu gelombang demonstrasi di seantero Amerika Serikat.

Publik Amerika Serikat, dan dunia, akan meliaht bagaimana sosok Harris yang berlatar belakang multi-etnis dan semakin menyuarakan reformasi terhadap hukum di Amerika sejak kematian George Floyd akan menghadapi pasangan Donald Trump dan Mike Pence.

Joe Biden dan Kamala Harris dijadwalkan akan muncul bersama untuk pertama kalinya di kota Wilmington, Delaware, Rabu (13/8/2020).

Rekomendasi