Sekolah di Prancis Kembali Buka, Heningkan Cipta untuk Guru Korban Pembunuhan

| 02 Nov 2020 18:35
Sekolah di Prancis Kembali Buka, Heningkan Cipta untuk Guru Korban Pembunuhan
Ilustrasi: Setelah sempat ditutup selama dua pekan, sekolah-sekolah di Prancis kembali dibuka, Senin (2/11/2020). (Foto: Mwesigwa Joel/Unsplash)

ERA.id - Dua belas juta murid di Prancis kembali bersekolah, Senin (2/11/2020), setelah selama dua pekan sekolah libur menyusul terbunuhnya seorang guru sekolah menengah, Samuel Paty, akibat kontroversi kartun Nabi Muhammad.

Seluruh sekolah menghentingkan cipta selama satu menit pada pukul 11 siang, kemudian para guru menjelaskan ke murid-muridnya mengenai hak dan kewajiban mereka dalam "sistem demokrasi yang bebas".

Samuel Paty dibunuh di kawasan pemukiman Paris pada 16 Oktober 2020. Pembunuhan itu dianggap oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron sebagai serangan terhadap nilai-nilai yang dianut Prancis dan menjadi pondasi Republik.

Prancis saat ini mengerahkan penjagaan level tertinggi setelah terjadinya sejumlah serangan susulan, termasuk pembunuhan di Nice dan Lyon. Saat ini ribuan tentara disiagakan untuk menjaga tempat ibadah dan sekolah.

Berdasarkan laporan Reuters, Perdana Menteri Jean Castex dan menteri pendidikan Prancis akan hadir dalam upacara penghormatan di kolese Le Bois d'Aulne, tempat Paty dulu mengajar. Castex akan bergabung dengan para staf sementara sekolah tersebut masih akan ditutup hingga Selasa nanti.

Tentang Paty, Presiden Macron pada 21 Oktober berpendapat bahwa sang guru merupakan "wajah Republik Prancis" yang "mengekspresikan keinginan kita untuk melawan keinginan para teroris dan yang hidup sebagai komunitas warga yang penuh kebebasan."

Para guru di seluruh Prancis juga akan membaca surat yang dikirimkan oleh politisi abad ke-19 Jean Jaures kepada para guru. Dalam surat itu, Jaures merumuskan peran para guru dalam mendidik kaum muda Prancis.

"Mereka akan menjadi warga negara, dan mereka harus memahami apa itu sistem demokrasi yang penuh kebebasan, apa hak-hak yang mereka miliki, apa kewajiban yang diembankan negara kepada mereka," tulis Jaures.

Rekomendasi