Darurat ICU, Para Dokter di Paris Memohon Prancis Dikunci Total

Tim Editor

Ilustrasi: Seorang pria berjalan memakai masker di Prancis, selama wabah COVID-19. (Foto: Davyn Ben/Unsplash)

ERA.id - Para dokter di unit rawat intensif (ICU) di Paris mewanti-wanti bahwa gelombang infeksi virus corona dalam waktu dekat akan memenuhi rumah-rumah sakit di ibukota Prancis tersebut, memaksa mereka menolak merawat pasien kritis.

Melansir dari France24, peringatan ini ditandatangani oleh 41  dokter di Paris dan dipublikasikan lewat surat kabar Journal du Dimanche pada Minggu, (28/3/2021).

Pernyataan ini muncul ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan kukuh menolak melakukan penguncian total (lockdown) di seluruh Prancis. Sejak Januari lalu, pemerintahan Macron lebih memilih menerapkan jam malam secara nasional ditambah berbagai pembatasan sosial.

Para dokter sendiri, menimbang melonjaknya tingkat infeksi COVID-19 dan makin menipisnya kapasitas bangsal ICU di rumah sakit, berharap Macron menerapkan lockdown secara nasional di Prancis.

Para dokter tersebut menyatakan, "Kami belum pernah berada dalam situasi seperti ini, bahkan selama momen serangan teror." Mereka mengacu pada serangan oleh ekstremis Negara Islam di Paris pada November 2015, ketika 130 orang terbunuh di sebuah gedung konser di Batacland dan sejumlah lokasi lainnya. Kala itu bangsal-bangsal rumah sakit di Paris dipenuhi warga yang terluka.

Para dokter juga memperkirakan pembatasan sosial yang terlalu longgar tak akan bisa mengendalikan wabah corona. Selain itu, mereka khawatir rumah sakit tak mampu bergerak cepat memenuhi lonjakan kebutuhan sehingga mereka terpaksa menerapkan "kedokteran kebencanaan" (catastrophe medicine) ketika kondisi memuncak.

"Kami terpaksa menimbang-nimbang kondisi pasien demi menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Proses tersebut bakal diterapkan ke semua pasien, entah positif atau negatif COVID-19, dan terutama menyangkut pasien dewasa."

Sembilan orang dokter ICU lainnya, yang menulis di koran Le Monde, juga mengakui mereka bakal terpaksa menolak merawat pasien.

"Ketika hanya ada satu tempat tidur ICU yang tersisa, namun, ada dua pasien yang akan masuk, kami perlu memikirkan pasien mana yang bakal diterima (dan punya kesempatan selamat lebih tinggi) dan mana yang tidak akan diterima (dan kemungkinan besar akan meninggal dunia)," tulis para dokter.

Macron Masih Kukuh

Namun, seperti diberitakan France24, Macron masih tak bergeming soal kebijakan karantina di negaranya. Padahal, di Prancis sendiri 2.000 nyawa melayang karena COVID-19 setiap pekannya. Saat ini total angka kematian akibat corona di Prancis telah mencapai angka 94.400 jiwa.

Pada Sabtu lalu, Prancis mendapati 42.619 kasus infeksi corona baru dalam waktu sehari, sangat jauh dari target maksimal 5.000 kasus per hari, yang ia sampaikan pada akhir 2020.

Angka pasien di ICU juga bertambah, menjadi 4.791 pasien per Sabtu, hampir menyamai angka 4.903 pasien seperti terjadi di musim gugur tahun lalu.

"Kami sudah benar untuk tidak menerapkan lockdown di Prancis pada akhir Januari karena kita tidak melihat ada ledakan kasus seperti yang diprediksi sejumlah model prakiraan," kata Macron dua pekan lalu.

"Saya tidak akan menyesali ini. Saya tidak akan meminta maaf dan tidak melihat ini sebagai kegagalan."

Tag: prancis pandemi COVID-19 emmanuel macron lockdown paris

Bagikan: