Kasus Varian Delta Nol dalam Sebulan, Siasat 'Tanpa Ampun' China Berhasil?

Tim Editor

Tes usap oleh tenaga kesehatan di China. (Foto: Isitmewa)

ERA.id - Lonjakan wabah Covid-19 akibat varian Delta baru berlangsung selama sebulan, namun, pemerintah China, Senin, (23/8/2021), berdasarkan Bloomberg, telah melaporkan kasus infeksi corona lokal kembali nol.

Awalnya, masih memakai teknik kontrol wabah yang sama seperti pagebluk terdahulu di Wuhan - dan menjadi 'trademark' pemerintahan Partai Komunis China - siasat negeri berpopulasi terbesar di dunia ini dipertanyakan. Varian Delta diketahui lebih sulit dikendalikan. Sementara vaksinasi di China memakai produk yang tidak direkomendasikan pakar dalam negeri China sendiri. Masihkah pembatasan ketat dan pengetesan berfungsi seperti dulu?

Namun, toh, hasil tes Covid-19 menunjukkan bahwa teknik penelusuran masif dan surveilans kali ini kembali berhasil.


Efek domino varian Delta di China dimulai pada 20 Juli, ketika seorang pasien Covid-19 tanpa gejala berada di Bandara Internasional Nanjing Lukou dan menulari sejumlah staf kebersihan di situ.

Semula hanya ada satu kasus. Di hari kedua, kasus harian melonjak jadi belasan. Pada akhir pekan, varian Delta sudah menginfeksi hampir 50 orang per hari. Dalam waktu kurang dari tiga pekan, jumlah kasus harian menggelembung lebih dari 100 kasus dan tersebar di seluruh China.

Berita klaster bandara Nanjing memicu langkah pengetesan infeksi corona oleh pemerintah China, kali ini dalam level yang lebih masif dari sebelumnya. Fortune menulis bahwa otoritas setempat mengetes seluruh populasi Nanjing, di Provinsi Jiangsu, hingga belasan kali. Pada akhirnya, lebih dari 100 juta tes dilakukan untuk memastikan tak satu pun infeksi Covid-19 Delta lolos dari monitor.

Karantina menjadi faktor penting berikutnya. Ibu kota Beijing bahkan sempat mengisolasi diri ketika baru ditemui satu kasus Covid-19. Transportasi kereta dan pesawat ke ibu kota dihentikan.

Daerah-daerah lain di China juga mengambil peran lewat pembatasan akses masuk kawasan oleh warga yang berasal dari area risiko tinggi. Di tengah kondisi ini, lebih dari 200 perkampungan dilabeli risiko tinggi atau sedang Covid-19, memaksa banyak warga untuk tetap berada di rumah.

Semua itu berlangsung selama tiga pekan. Hingga, di pekan keempat, jumlah kasus anjlok drastis. Dari jumlah ratusan per hari jadi hanya satu digit saja.

Pada 23 Agustus, jumlah kasus Covid-19 di China dilaporkan berjumlah nol. Hal ini akan dikonfirmasi dengan hasil pengetesan di hari-hari ke depan.

Kecolongan

China mungkin terbilang kecolongan atas kasus Nanjing. Sebanyak hampir 50 kota di 17 provinsi China ikut kelabakan memasang 'barikade' terhadap infeksi varian Delta. Kota Wuhan - episentrum pertama Covid-19 sebelum terjadi pandemi - bahkan ikut merasakannya. Namun, semua ini bisa dikontrol hanya dalam waktu sebulan.

Lebih-lebih, dalam enam bulan terakhir belum ada kasus kematian Covid-19 di China. Jumlah kasus kritis pernah sampai di jumlah 18 pasien, seperti diberitakan Fortune, namun, gejala seluruh pasien membaik.

Sementara itu, Australia hingga kini masih 'mengurung' sebagian dari 26 juta populasinya lewat lockdown, namun, wabah masih tak terkendali. Di Amerika Serikat, virus jauh lebih tak terkendali, dan pemerintah berencana menggunakan vaksin dosis pemacu sebagai benteng proteksi warganya.

Di tengah munculnya varian-varian baru Covid-19, prospek mengenyahkan virus ini dari muka bumi semakin suram. Beberapa negara - seperti Australia dan Singapura - bahkan telah bersikap untuk mulai hidup berdampingan dengan Covid-19.

Namun, China berhasil membuktikan patogen satu ini mampu dikontrol secara efisien. Dan Beijing pun mengatakan mereka siap melanjutkan langkah surveilans ketat, seberapapun besar ongkos atau kerja yang harus dibayar. Xinhua pada 16 Agustus memberitakan Menteri Kesehatan China Ma Xiaowei yang menyebut otoritas setempat bahkan berniat memperketat monitoring masuknya virus Covid-19 dari luar negeri.

Dengan meluasnya wabah varian Delta secara global, China kini seorang diri dengan siasat 'tanpa ampun'. Sebulan terakhir mereka membuktikan keampuhan hal tersebut. Namun, pertanyaannya sampai kapan negara tersebut bisa bertahan di tengah gempuran wabah dari seluruh dunia.

Tag: china pandemi COVID-19 covid-19 varian delta

Bagikan: