Mengukur Kadar Kemurnian Drama Khabib Vs McGregor

| 09 Oct 2018 16:46
Mengukur Kadar Kemurnian Drama Khabib Vs McGregor
Khabib Nurmagomedov dan Conor McGregor (Twitter @MMAFighting)
Jakarta, era.id - Pertarungan antara Khabib Nurmagomedov dan Conor McGregor di ajang Ultimate Fighting Championship (UFC), Minggu (7/10/2018) benar-benar menyita perhatian dunia. Tapi, sejumlah pertanyaan muncul ke permukaan. Apakah drama-drama yang muncul dalam pertarungan itu benar-benar murni?

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang 'kemasan' pertarungan berdarah-darah tersebut, ada baiknya kita memahami dulu apa itu thrash talk (bicara sampah). Soalnya, semua yang terjadi dalam pertarungan Khabib dengan McGregor berawal dari thrash talk ini.

McGregor mengeluarkan banyak kata-kata sampah pada sesi konferensi pers yang menghadirkan ia dan Khabib pada 20 September lalu. Ia sesumbar, membual dan menghina Khabib begitu intens di hadapan wartawan yang hadir di Radio City Hall New York.

Tapi ini memang sudah menjadi gaya dari McGregor. Ia kerap melontarkan trash talk sebagai bagian dari strateginya untuk menjatuhkan mental atau membuat lawan emosi sebelum laga. Tapi, Khabib tak sedikitpun terpancing dengan hinaan McGregor meski lawannya itu menghina ayahnya, negaranya dan bahkan agamanya. Khabib merupakan muslim taat asal Rusia keturunan Avar, yang berasal dari Dagestan yang bertetangga dengan Chechnya dan Georgia. 

Thrash talk, tidak ada yang benar-benar tahu kapan tepatnya strategi jenis ini kali pertama diciptakan. Tapi, thrash talk sering digunakan oleh juara tinju kelas berat Muhammad Ali di tahun 1960-an dan 1970-an. Bukan cuma di sesi konferensi pers tapi juga di atas ring. Dan nyaris tak ada lawan yang berani membalas thrash talk yang dilontarkan Ali.

Saat konferensi pers menjelang pertarungan melawan Ernie Terrell, 6 Februari 1967, Terrell menolak memanggil Ali dengan nama barunya yang saat itu sudah menjadi seorang muslim. Ia malah memanggilnya dengan nama Clay yang menurut Ali adalah nama zaman perbudakan. Ali lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay.

Saat pertandingan, Ali menghajar Terrell 15 ronde tanpa ampun, padahal dia bisa saja meng-KO Terrell di ronde-ronde awal. Ya, dia mampu melakukan itu. Tapi, Ali memilih melampiaskan amarahnya di atas ring sepuas-puasnya terhadap Terrell.

Kasus ini mirip dengan apa yang terjadi dalam pertarungan Khabib dan McGregor. Bedanya, emosi Ali tidak diumbar di luar ring. Dan yang paling diingat, setiap pukulan yang bersemayam di wajah Terrell selalu diiringi salah satu kalimat tanya Ali yang paling terkenal di dunia tinju: "What's my name?" (apa nama saya?).

Satu-satunya petinju yang berani membalas thrash talk Ali adalah Joe Frazier. Ini terjadi ketika Ali kalah untuk kali pertama dalam karier profesionalnya pada 8 Maret 1971.

Pertarungan ini berjalan cukup seru. Awalnya, Ali mendaratkan lebih banyak pukulan ke arah Frazier. Tapi sejumlah pukulan Frazier mengakibatkan dampak buruk terhadap Ali. Pada ronde kedelapan, Frazier memimpin enam ronde berbanding dua. Di ronde 11, Ali terhuyung-huyung namun tetap melawan, memaksa pertarungan dilanjutkan ke ronde 12 dan 13. 

"Frazier mendapatkan pukulan yang telak tapi tidak jatuh-jatuh. Saya bilang, 'Apa kamu gila?! Kamu pasti gila!'. Lalu saya bilang, 'Iya, saya gila. Saya gila, ayo pukul'. Dia terus mendekati saya," kata Ali.

Pada ronde 15 Frazier mendaratkan hook kiri ke dagu kanan Ali sekaligus menjatuhkan sang juara untuk pertama kalinya. Ali bangkit, tapi Frazier memenangkan pertarungan dengan keputusan mutlak dari juri sekaligus mempertahankan gelar dan memberikan Ali kekalahan pertama dalam karier profesionalnya.

Dalam pertarungan itu, Ali berbalik terpancing dengan melancarkan pukulan sebanyak 90 kali. Ali kelelahan hingga akhirnya kalah. 

Murni atau rekayasa?

Thrash talk memang diciptakan untuk mengintimidasi lawan. Dan McGregor dikenal sangat identik dengan gaya provokatif ini. Karena jika lawan terpancing, maka kemasan pertandingan akan semakin menarik. 

UFC adalah hiburan semata. Kemasan, mungkin saja dibuat agar pertarungan menjadi menarik. Sejumlah bumbum diracik agar rasa dari pertarungan lebih berwarna. Tapi nampaknya, McGregor bertindak terlalu jauh dengan menghina ranah pribadi Khabib.

Jika kita lihat, pada 2014, kedua petarung ini terkesan akrab. Keduanya saling beradu kicauan di Twitter:

 

 

Namun ketika wartawan menanyakan hal ini di sesi konferensi pers yang berujung pada hinaan McGregor atas Khabib tadi, petarung asal Republik Irlandia langsung memotong pertanyaan wartawan tersebut.

"Orang ini (Khabib) adalah fans kecil saya. Kau ingat itu jalang. Kau datang dengan kaus. Itulah dia, memulai sebagai fan boy," semburnya.

Yang jadi masalah, presiden UFC Dana White bilang, gelar juara kelas ringan Khabib yang baru saja diraihnya dengan mengalahkan McGregor terancam dicopot Komisi Atletik Nevada akibat tindakan Khabib yang melompati pagar oktagon dan menyerang salah satu rekan latih tanding McGregor, Dillon Danis.  

Tapi untungnya, hal tersebut lantas dibantah pengamat UFC sekaligus jurnalis senior asal Kanada, Ariel Helwani. Ia menilai, jika gelar juara kelas ringan Khabib dicabut, itu sama saja dengan mempertaruhkan kepentingan dari bisnis Dana White di olahraga Mix Martial Arts. 

"(Banyak orang) mengandalkan Dana (White) untuk melakukan hal yang benar dan (meminta) mencabut sabuk juara Khabib. Saya dapat meyakinkan kamu, semua itu tidak akan terjadi. Dana adalah pemiliknya dan dia akan melakukan apa yang terbaik bisnisnya" tandas Helwani, seperti dilansir dari Express.co.uk, Selasa (9/10).

Helwani juga menilai, skorsing kepada Khabib tak akan efektif karena jika diskorsing selama enam sampai sembilan bulan, hal itu tak berguna lantaran jeda bertarung Khabib adalah enam sampai sembilan bulan. 

Kini, McGregor menginginkan pertarungan ulang dengan Khabib. Dengan segala drama yang telah terjadi, waktu 6-9 bulan sepertinya lebih dari cukup untuk mempersiapkan tanding ulang tersebut. Hype-nya sudah dapat dan dijamin bakal lebih meledak-ledak.

Baca Juga : Menerka Hukuman Paling Pantas Buat Khabib Nurmagomedov

Rekomendasi