Kupeluk Diri Sendiri Sebelum Memeluk Mereka

Tim Editor

    Ilustrasi (Ilham/era.id)

    Jakarta, era.id - Terlalu lama para jomblo sembunyi di gua-gua gelap. Betapa bodoh mereka untuk menyadari berbagai keuntungan menjadi jomblo. Dan begitu tak bijaksananya mereka hingga menyesali keadaan tersebut. Padahal, sang bijaksana sendiri selalu berkata: Cintai dirimu sendiri, maka engkau akan menemukan cinta sejatimu di dalam diri orang lain, siapa pun kelak.

    Ya, sebenarnya tatanan sosial juga yang menyebabkan perasaan-perasaan itu tumbuh di dalam kepala dan dada para jomblo. Coba saja datangi pernikahan kerabatmu seorang diri, atau tampakkan dirimu tanpa gandengan di hadapan keluarga besar ketika momen-momen hari besar. Hampir pasti, celetukan-celetukan menyebalkan itu bakal menyerang para jomblo.

    Psikolog muda Karina Negara, menjelaskan apa yang terjadi di dalam diri seorang jomblo ketika tembakan-tembakan pertanyaan semacam itu menyerang dirinya. Kata Karina, pertanyaan macam begitu nyatanya bisa menimbulkan tekanan psikis bagi para jomblo, lho!

    "Enggak nyaman nomor satu. Dan itu wajar, kok. Wajar merasa enggak nyaman. Setelah itu tertekan, gitu ya," tutur Karina dalam pernyataan yang kami kutip dari program talkshow #OOTD (Obrolan of The Day) beberapa waktu lalu.

    Nah, untuk membentengi diri dari tekanan psikis, Karina menganjurkan setiap jomblo memanfaatkan waktu sendirinya sebaik mungkin. Caranya, ya dengan self improvement alias mematangkan diri sebagai pribadi yang oke punya.

    Konsepnya sederhana. Ketika dirimu sudah menemukan jati diri, maka kamu akan lebih mudah menerima apapun kondisi yang tengah terjadi pada dirimu, termasuk jika kamu sedang sendirian tanpa pasangan.


    Ilustrasi kesepian (Foto via Pixabay)

    "Make sure you're okay inside," kata Karina yang merupakan Co-Founder aplikasi konseling online, KALM.

    Yang lebih buruk, tekanan-tekanan tersebut bisa membuat seseorang mengingkari idealisme terkait kriteria pasangan hidup baginya. Ujungnya, seseorang akan menikah tanpa pertimbangan-pertimbangan matang.

    "Bahkan paling parah menurut aku itu kalau sampai nikah hanya karena menghindari tekanan itu ... Atau menikahnya ngasal. Ngasal itu maksud saya adalah menikah tanpa persiapan cukup atau memilih pasangan tanpa mikir," kata Karina.
     

    Autophobia

    Dalam dunia psikologi, rasa takut akan kesendirian biasa disebut dengan autophobia atau monophobia, yaitu sebuah gangguan psikologi untuk orang yang merasa takut sendirian atau kesepian.

    Seperti dinukil healthline.com, orang dengan kondisi ini dapat merasa kecemasan akut ketika ia sendiri tanpa teman di tengah keramaian. Orang dengan gangguan autophobia merasa sangat membutuhkan orang lain di sekitarnya untuk merasa aman.

    Adapun tanda-tanda dari autophobia adalah secara obsesif merasa sangat khawatir ketika sendirian. Ciri lain autophobia adalah ketika seseorang merasa terpisah dari tubuh sendiri ketika sendirian.

    Lebih jauh lagi, autophobia bisa berdampak lebih luas, dari alam pikiran hingga menimbulkan gangguan fisik seperti gemetar, berkeringat, nyeri dada, pusing, jantung berdebar tak karuan, hingga mual ketika sedang sendirian.
     

    Singleness vs Loneliness

    Nah, ini perkara lain yang harus dipahami para jomblo. Begini, ada perbedaan yang amat mendasar dari kesendirian dan kesepian. Intinya, sendiri dan sepi adalah dua hal yang amat berbeda. Dikau boleh saja sendiri, tapi jangan pernah merasa sepi, kawan. Kesepian menjadi sebuah diskursus yang tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Apalagi jika melihat faktor penyebab kesepian hanya dari satu variabel: pacaran/pernikahan.

    Dalam dunia psikologi, kesepian adalah sebuah pengalaman menyedihkan yang terjadi ketika hubungan sosial seseorang dianggap kurang dari segi kuantitas dan kualitas dari yang seharusnya. Jadi, bukan hanya soal punya pasangan atau tidak punya pasangan. Dan yang harus dipahami, nih. Tidak semua jomblo kesepian, kok.

    Seperti yang dikatakan Andrea Gunawan, seorang dating coach masyhur yang biasa dikenal di akun Instagram dengan @catwomanizer. Andrea bilang: Single tidak selalu berarti kesepian, dan sebuah hubungan tidak selalu berarti membuat kita bahagia.


    Ilustrasi via Pixabay

    Lagipula, banyak lho nyatanya keuntungan menjadi seorang jomblo. Majalah Time pernah membahas persoalan ini. Susan Winter, pengamat relasi romantis mengatakan, hidup melajang alias jomblo akan membuat pola pikir seseorang lebih terbuka.

    Kesempatan seseorang mengembangkan diri dalam kondisi melajang akan lebih luas ketimbang mereka yang berpasangan. Alasannya jelas, seorang jomblo bisa dengan leluasa menentukan jalan dan menyusun rencana-rencana untuk kehidupannya sendiri

    Selain itu, Psikolog dari New York Dardashti meyakini hidup melajang membuat seseorang lebih berani mengambil risiko dan tantangan dalam menjalani hal-hal yang belum pernah ia coba sebelumnya. Lebih jauh lagi, dari sisi kesehatan, ada juga yang menyebut bahwa melajang bisa meningkatkan kualitas tidur dan mampu memotivasi seseorang untuk melakukan lebih banyak aktivitas fisik.   

    Oleh karena itu, bagi para jomblowan dan jomblowati, ada pesan dari para pewarta jomblo di kantor era.id.

    Jika pelukan adalah lambang cinta kasih, maka aku akan memeluk diriku sendiri, sebelum memberi pelukan ini pada Bunga, Anton, Siti, Bobi, Santi, atau siapapun nama kekasihku kelak.

    Tag: valentine day

    Bagikan :