Pertarungan antara Detektif Conan, Pencuri, dan Karateka

Tim Editor

Cuplikan Detective Conan (Youtube)

Jakarta, era.id - Mungkin Avengers: Endgame berhasil menguasai beberapa box office di hampir semua negara, termasuk di Indonesia. Tapi tidak untuk Jepang, karena peraih box office di negara itu bukanlah para superhero Marvel melainkan film anime Detective Conan: The Fist Of Blue Sapphire

Film yang diadaptasi dari komik Aoyama Gosho ini juga tayang di bioskop CGV tanah air sejak 24 Juli 2019 lalu. Film ini menjadi film adaptasi manga kedua yang masuk ke bioskop Indonesia setelah Dragon Ball Super: Broly pada pertengahan Februari lalu. 

Latar belakang film ini mengambil lokasi di negara tetangga terdekat Indonesia, yaitu Singapura. Dan Hotel Marina Bay Sands jadi lokasi pertarungan bagi pencuri Kaito Kid dengan Detective Conan untuk kesekian kalinya. 




Spoiler Alert

Ini jadi movie Detective Conan ke 23, yang berhasil menduduki peringkat box office di Jepang dengan film terdahulu berjudul Zero The Enforcer (2018). Kali ini Kid si pencuri akan disudutkan dengan kasus pembunuhan yang terjadi di Singapura. 

Agar terbebas dari masalah, ia pun bekerjasama dengan rivalnya detektif SMA Sinichi Kudo yang sedang berada dalam wujud Conan Edogawa. Sang pencuri pun menyelundupkan Conan ke Singapura dalam sebuah koper. Di sana mereka bertemu dengan rombongan Kogoro dan Ran Mouri yang lebih dulu datang untuk mendukung pacar Sonoko Suzuki, Makoto Kyogoku untuk mengikuti kejuaraan beladiri internasional dengan hadiah sabuk bertahta batu permata safir biru.

Bagi yang mengikuti kisah Detective Conan tentu akan menikmati menonton film berdurasi 109 menit tersebut. Apalagi hubungan antara Sinichi dan Ran atau Sonoko dan Makoto menjadi bumbu romance dan komikal di dalam film ini. 

Namun bagi kalian menikmati misteri, aksi, dan kesinambungan plot akan banyak hal yang patut dipertanyakan. Terutama mengenai motivasi dari para tokoh yang terlibat. Mulai dari motivasi Kid sampai motivasi para karakter antagonis dalam cerita ini. 

Contohnya adalah motivasi Kaito Kid. Ia dikenal sebagai pencuri, tentu tujuannya adalah mengincar permata biru. Namun, ketika ia difitnah tentunya motivasinya adalah untuk membersihkan namanya, sesuai dengan yang ia tuturkan kepada Conan. 

Motivasi berikutnya datang dari dalang kasus besar tersebut beserta para bajak laut. Motivasi para antagonis tersebut berubah-ubah. Bahkan ketika disebutkan alasan utamanya, penonton tiba-tiba dibuat bingung sehingga terpaksa mengingat ulang akan adegan-adegan yang mendukung motivasi tersebut dengan logika. 
 


Terlepas dari semua itu, penonton akan disuguhkan dengan trik alibi di pembunuhan pertama yang terlihat seperti impossible crime atau impossible disappereances. Sang pelaku menggunakan sudut psikologis manusia untuk membuat alibi. Hal ini berbeda dengan kebanyakan kasus Conan yang menggunakan trik mekanis.

Bila mau dibandingkan dengan film terdahulu berjudul Detective Conan: Zero The Enforcer (2018) yang juga menyalip Avengers: Infinity Wars, tentu sangat jauh. Beberapa penonton lebih mengungguli film terdahulunya tersebut dibandingkan film tahun ini. Buat kamu penikmat Detective Conan, maka film ini adalah tontonan wajib.

Tag: resensi film anime

Bagikan: