Cabin Fever di Indonesia Lebih karena 'Parno' Korona

Tim Editor

Ilustrasi (Free-Photos/Pixabay)

Bandung, era.id – Pandemi virus korona baru bikin semua orang harus tetap berada di dalam rumah dan paranoid penularan virus korona baru. Akan tetapi 'keparnoan' ini bisa berubah menjadi ketakutan dan kepanikan jika tidak dibarengi pengetahuan memadai tentang standar pencegahan COVID-19. 

Sehingga ada orang yang melakukan isolasi secara ketat di rumahnya masing-masing, mereka jadi panik, hingga tidak mau bertemu orang lain.

Kondisi takut atau panik tersebut justru bisa memicu masalah kesehatan mental, salah satunya cabin fever, yakni suatu gangguan mental yang muncul akibat isolasi ketat. Menurut dr Elvine Gunawan Sp.KJ, orang-orang tertentu di musim pandemi ini memang berisiko mengalami cabin fever.

"Ada orang yang mengalami kecemasan karena pandemi kemudian melakukan isolasi total punya riesiko cabin fever. Mereka yang cemas dengan isu korona jadi over clean, setiap masuk rumah disemprot pakai disinfektan, pegang benda atau uang disemprot dulu. Cabin fever itu resiko dari mengurung diri secara total di rumah," terang Elvine, saat dihubungi era.id, Kamis (7/5/2020).

Psikiater di RS Melinda 2 Bandung tersebut bilang, cabin fever bukan kondisi gangguan jiwa jenis baru. Gejala ini sudah lama dikeluhkan masyarakat di negara beriklim subtropis yang punya empat musim salah satunya musim dingin atau winter. Pada saat musim dingin dan salju turun, orang-orang harus melakukan isolasi di rumah masing-masing sampai musim berganti.

Layaknya isolasi di musim COVID-19, saat musim salju orang di negeri subtropis harus menyetok makanan, hanya saja varian makanan menjadi terbatas. Padahal asupan makanan sangat penting selama menjalani isolasi. Lalu, interaksi mereka dengan orang lain terbatas, begiru juga aktivitas kerja di luar rumah. Mereka terisolasi dan merasa kesepian lalu menghadapi tekanan psikologis atau emosi yang disebut cabin fever.

Namun untuk di Indonesia, Elvine melihat fenomena cabin fever lebih disebabkan kecemasan terhadap COVID-19 yang berlebih sehingga menimbulkan stres. Indonesia juga tidak memberlakukan lockdown atau isolasi wilayah secara total, sehingga masih ada masyarakat yang dikecualikan untuk bisa beraktivitas di luar rumah.

Di sisi lain, kata Elvine, Indonesia diuntungan dengan iklim dan kultur masyarakatnya. Iklim tropis Indonesia membuat negeri ini tidak mengenal musim salju, sehingga cabin fever masih menjadi kasus langka di masyarakat. Sedangkan kultur masyarakat Indonesia umumnya kekeluargaan, anggota keluarga masih solid, dan interaksi sosial juga kental. Beda dengan di luar negeri di mana anggota keluarga bersifat terbatas dan individual, sehingga ketika terjadi isolasi, dampak psikologisnya lebih berat.

"Banyak cara bisa mencegah cabin fever. Di kita masih bisa keluar rumah misalnya untuk berjemur karena kita punya budaya berjemur, olagraga ringan, berbicara dengan anggota keluarga, pola makan juga masih bisa bervariasi. Dengan tetangga juga masih bisa berinteraksi meski ngobrolnya kadang biasa berteriak-teriak untuk jaga jarak.

"Jadi walau menjalani isolasi kita tetap tidak boleh putus silaturahmi, bisa ngobrol via WA atau dengan tetangga juga tidak apa-apa yang penting jaga jarak. Beda dengan di luar negeri ketika winter ada badai salju, makanan terbatas, member keluarga juga terbatas," papar Elvine.

Gejala cabin fever di Indonesia terutama akan mengancam pada orang-orang yang dilanda cemas berlebih dan melakukan isolasi secara ketat. Kendati demikian, gangguan cabin fever maupun stres akibat pembatasan sosial bisa dicegah. Gejala atau keluhan cabin fever mirip dengan depresi ringan, cemas dan panik.

Namun jika tak dikelola, cabin fever bisa meningkatkan gangguan emosi cukup berat, misalnya mudah tersinggung, mudah marah atau jadi sering mengeluarkan kata-kata agresif ke orang lain. Bahkan cabin fever bisa mendorong munculnya kebiasaan buruk seperti mengonsumsi alkohol dan obat batan terlarang.

Karena itu cabin fever maupun stres dan depresi akibat pandemi korona harus dicegah. Beberapa langkah untuk mengatasinya antara lain dengan meditasi atau relaksasi mandiri. Untuk mengetahui langkah meditasi dan relaksasi mandiri, Elvine dan timnya menyediakan situs ruangempati, situs yang dibuka untuk mengantisipasi gangguan mental akibat pandemi COVID-19. Dalam situs ini diulas beragam tips meminimalkan stres selama di rumah.

"Jadi kita harus bikin pola aktivitas yang bisa membahagiakan diri sendiri selama di rumah, bisa dengan memasak, bercocok tanam, merajut atau olah otak lainnya seperti mengisi TTS, Sidoku dan lainnya. Sehingga di rumah tidak menjadi hal yang membosankan," katanya.


dr Elvine Gunawan Sp.KJ. (Iman Herdiana/era.id)

Langkah lainnya yang bisa ditempuh untuk menghindari cabin fever ialah menyaring berita-berita ekstrem baik di televisi, internet, maupun media sosial. 

"Virus korona ini membuat aktivitas kita berubah dan kita dituntut harus beradaptasi. Kemudian kita harus sering tinggal di rumah, terpapar berita ekstrem dari luar. Hal ini menjadi stres. Jadi kita harus memfilter informasi dari luar," katanya.

Kabar baiknya, secara umum cabin fever bukan gangguan mental permanen. Penyakit ini akan hilang seketika saat pembatasan sosial ataupun isolasi sudah kelar.

 

Tag: kesehatan mental

Bagikan: