Gerindra Balas Pantun Sekjen PDIP: Prabowo Memang Mempesona, Kalau Difitnah Senyumin Saja

| 05 Nov 2023 21:15
Gerindra Balas Pantun Sekjen PDIP: Prabowo Memang Mempesona, Kalau Difitnah Senyumin Saja
Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra Habiburokhman (Antara)

ERA.id - Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra Habiburokhman membalas pantun dari Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto soal "rayuan" Prabowo ke Gibran Rakabuming. Ia mengaku senang dengan pantun yang dibuat Hasto.

"Kami senang dengan pantun pak Hasto, ini termasuk salah satu gaya politik yang elegan dan santai. Baiknya memang seperti ini, politik jangan dibawa tegang-tegang terus. Sersan kapten, serius santai tetap keren," kata Habiburokhman kepada wartawan, Minggu (5/11/2023).

Ia pun membalas pantun Hasto dengan pantun buatannya sendiri. Dalam pantun buatannya, ia menyebut meski sekarang partainya berbeda pilihan dengan PDIP, mereka tetaplah teman.

"Pergi ke solo lewat darat, ketemu Mas Gibran lagi makan tomat, Pak Hasto Yang Terhormat, kami doakan senantiasa sehat," katanya.

"Kembali ke Jakarta Naik Delman, kudanya putih dari Matraman, walau sekarang beda pilihan, PDIP tetaplah teman. Om Prabowo memang mempesona. Kalau difitnah senyumin  aja, berbalas pantun hal yang biasa, yang penting Pemilu riang gembira," lanjutnya.

Sebelumnya,Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyindir Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mampu merayu keluarga Presiden Joko Widodo hingga berpindah haluan.

Hal itu disampaikan dalam pantunnya saat menerima dukungan bagi Ganjar-Mahfud MD dari Forum Alumni Angkatan Muda Muhammadiyah Bali di kawasan Renon, Denpasar, Bali, Sabtu (4/11/2023).

"Pak Prabowo punya jurus menggoda. Bujuk rayunya pindahkan dukungan satu keluarga. Di sini kita memantapkan jiwa raga. Dukung Ganjar-Mahfud MD dengan semangat menyala-nyala," kata Hasto seperti dikutip dari keterangan tertulisnya.

Tak hanya itu, Hasto juga punya dua pantun lain dan disambut dengan tepuk tangan meriah. Pantun pertama menyindir soal penurunan baliho Ganjar-Mahfud MD di kawasan Gianyar, Bali beberapa waktu lalu. Insiden itu terjadi menjelang kehadiran Presiden Jokowi.

"Pulau Bali Pulau Dewata. Masyarakatnya ramah terbuka pada siapa saja. Namun ada yang tega merusak suasana. Melepas baliho dan bendera sebagai cermin ketidakadilan nyata," ungkapnya.

Rekomendasi