Fakta 'Lemari Es Penuh' yang Sadarkan Kemenkes Soal Distribusi Vaksin COVID-19

Dokumen: Vaksin COVID-19 buatan Sinovac didistribusikan dalam kotak pendingin. (Foto: BPMI)

ERA.id - Sebanyak tiga juta dosis vaksin COVID-19 buatan Sinovac telah didistribusikan dan sebagian telah disuntikan untuk vaksinasi tahap pertama bagi para tenaga kesehatan. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sempat terjadi kendala dalam proses pendistribusian 1,2 juta vaksin.

Budi mengatakan, beberapa fasilitas kesehatan tidak memiliki lemari pendingin atau cold chain yang mencukupi untuk menyimpan vaksin COVID-19. Padahal menurut laporan yang dia terima, disebutkan bahwa cold chain di fasilitas kesehatan baik rumah sakit maupun puskesmas bisa menampung jumlah vaksin yang dikirimkan.

"Waktu kita kirim yang 1,2 juta dosis ini tanggal 3 (Januari) malam. Kita pikir kan tiga hari sampai seluruh Indonesia, ternyata balik ke provinsi. Kenapa nih, katanya cukup nih cold chainnya, kan aku gak ngecek. Dicek (ternyata) penuh lemari esnya," ungkap Budi seperti dikutip dari acara diskusi 'Vaksin dan Kita' di kanal YouTube PRMN SuCi, Sabtu (23/1/2021).

Setelah dicek, Budi mengaku terjadi kesalahan penghitungan cold chain yang akan digunakan untuk menyimpakn vaksin COVID-19. Penyebabnya, banyak vaksin-vaksin lain, seperti Polio, TBS dan sebagainya, yang tidak terpakai selama tahun 2020 akibat terganggu pandemi COVID-19. Kondisi cold chain penuh ini utamanya terjadi di Puskesmas di kabupaten dan kota.

Akibatnya, vaksin COVID-19 yang sudah didistribusikan tidak bisa disimpan di cold chain yang sudah disediakan. Padahal, masih ada 1,8 juta dosis vaksin COVID-19 lainnya yang sedang dalam proses pendistribusian.

"Karena tahun kemarin COVID-19, jadi vaksinasi lainnya tuh kurang (di posyandu). Akibatnya vaksin ga pakai, ditaruh di lemari es di sana. Jadi begitu kita kirim, penuh, karena udah ada barangnya (vaksin lain) jadi chaotic," kata Budi.

Untuk mengatasi masalah distribusi vaksin tersebut, Budi mengaku telah  bekerja sama dengan PT Enseval Putera Megatrading, PT Kalbe, Biofarma, dan Kimia Farma.

Hal ini dilakukan agar proses pendistribusian dan penyimpanan vaksin COVID-19 dapat berjalan lancar. "Jadi kita enggak hanya pakai jalur government. Kita pakai yang swasta juga, biar terkejar (pendistribusian dan penyimpanannya)," ujar Budi.

Adapun untuk logistik vaksin COVID-19, Budi memastikan pemerintah telah mendapatkan 325 juta dosis vaksin hasil kerja sama dengan perusahaan internasional dan multilateral. Jumlah tersebut untuk memenuhi total kebutuhan 426 juta dosis vaksin.

Indonesia juga telah bekerja sama dengan afiliasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), GAVI, untuk pengadaan vaksin COVID-19. Namun belum dapat dipastikan berapa jumlah vaksin COVID-19 dari GAVI yang akan didistribusikan ke Indonesia. Budi memperkirakan pemerintah akan mendapatkan sekitar 18 juta hingga 100 juta dosis vaksin.

Tag: covid-19 di indonesia vaksin sinovac budi gunadi sadikin

Bagikan: