Bikin Haru, Kisah Preman Berpenghasilan Rp100 Juta yang Hijrah dari Dunia Malam Berkat Gus Miftah

Tim Editor

Gus Miftah. (Instagram/Gus Miftah)

ERA.id - Miftah Maulana Habiburrahman atau akrab disapa Gus Miftah dikenal sebagai ulama yang unik dalam berdakwah. Pendiri Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta, itu sering melakukan ceramah di tempat-tempat tak biasa, seperti klub malam dan tempat prostitusi.

Meskipun sering menerima hujatan dan dibilang cari sensasi, Gus Miftah memiliki alasan tersendiri melakukan dakwah di tempat hiburan malam. Menurutnya, orang-orang yang masih berada di dunia gelap harus dibantu untuk menemukan jalan keluar dan memberikan solusi.

"Yang kontra mengatakan ini tidak pantas, ini tempat maksiat kok untuk tempat berselawat. Ada lagi yang mengatakan ini memalukan. Jawaban saya sederhana, lebih memalukan mana ketika melihat keadaan ini tidak memberikan solusi sama sekali," kata Gus Miftah saat dirinya hadir di acara Hitam Putih di Trans7.

Menurut Gus Miftah, semua orang berhak untuk kembali ke jalan yang benar, dan sudah menjadi tugasnya untuk membantu. Jika dirinya dicibir itu suatu hal yang gak masalah, asalkan mereka tidak mencibir orang-orang yang ingin bertobat.

"Semua orang butuh bermesraan dengan Tuhan. Maka ketika saya dimaki, dicaci, dicibir, saya mengatakan kalian boleh menghinaku, kalian boleh menghujatku. Tapi ingat ini caraku, ini metodelogiku. Kalian boleh menghinaku, tapi jangan pernah ganggu anak-anak itu untuk kembali bermesraan dengan Tuhannya," kata Gus Miftah.

Gus Miftah juga menyatakan bahwa dalam berdakwah di klub malam ia selalu melakukannya dengan cara perlahan. Ia tidak menghakimi orang-orang yang berada di tempat itu, melainkan membiarkan mereka melakukan yang mereka mau hingga akhirnya mereka merasa malu akan dirinya sendiri.

Seperti halnya salah satu santri Gus Miftah, Indra Eka, yang merupakan seorang preman berpenghasilan Rp100 juta setiap malamnya. Indra menghasilkan uang itu dari pencuri, mendirikan rumah bordil, menjadi bandar judi, hingga menjadi seorang mucikari. 

Ia mengatakan awalnya membenci kehadiran Gus di lokasinya bekerja karena mengganggu kelancaran usahanya menghasilkan uang.

Namun, semua rasa benci itu berubah setelah ia mendengar dakwah Gus dan berteman dengannya. Ia mengungkapkan bahwa ketika berteman dengan Gus, sang kiai itu tak pernah melarangnya untuk minum ataupun mabuk, hingga akhirnya dirinya sendiri yang merasa malu.

"Gus itu kalo dakwah itu nggak pernah melarang untuk nggak usah minum, diam aja dia, yang penting Gus nggak minum. Lama-lama saya kan seperti Gus nggak minum, saya minum saya jadi nggak enak gitu. Malu, makanya setelah itu saya coba berhenti minum dan ikut nyantri ke Gus sampai hari ini," kata Indra Eka.

Meskipun harus kehilangan penghasilannya, Indra mengaku tetap kuat bertahan di jalan pertobatan dengan bantuan Gus Miftah. Ia bahkan diberikan Gus Miftah solusi pekerjaan untuk bisa membiayai hidupnya.

Lebih lanjut, Gus Miftah menambahkan bahwa Tuhan hadir untuk tempat berpulang orang-orang yang berdosa, sehingga siapa pun berhak untuk kembali ke jalan yang benar.

"Tuhan itu hadir untuk mereka yang berdosa, bukan untuk mereka yang sok suci. Pada akhirnya surga itu akan ditempati oleh ahli maksiat yang mau tobat, bukan orang yang sok baik tapi pada akhirnya tersesat," kata Gus Miftah.

Tag: eramadan ramadan hijrah gus miftah preman pensiun preman preman hijrah

Bagikan: