Los Tjihapit, Pasar Santa-nya Orang Bandung

Tim Editor

Los Tjihapit. (Dok. Los Tjihapit via Youtube)

Bandung, era.id - Beberapa tahun yang lalu, Pasar Santa di Jakarta Selatan sempat menjadi tempat nongkrong anak-anak Jakarta. Berbagai tempat kuliner dan ekonomi kreatif berjejer di pasar yang dikelola PD Pasar Jaya itu. Tempat serupa Pasar Santa ternyata juga ada di Bandung, namanya Los Tjihapit.

Sebagaimana namanya, Los Tjihapit menempati los di pasar tradisional Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung. Sepintas kios atau los ini tak jauh berbeda dengan warung kopi yang umumnya ada di dalam pasar, suasananya temaram, kadang tercium berbagai aroma dari komoditas yang dijual di pasar tradisional seperti sayuran hingga ikan asin.

Los Tjihapit dibuka oleh warga Bandung Bayu Wijanarko, mantan karyawan swasta sebuah perusahaan di Jakarta. Resign dari tempat kerjanya, ia kembali ke Bandung. Karena kegemarannya ngopi sambil diskusi, ia punya ide membuka kedai kopi dan kemudian memilih di Pasar Cihapit.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sore tadi Los Tjihapit kembali berdiskusi menyoal penghentian perangi narkoba! 3.8T per tahun digelontorkan pemerintah untuk memerangi narkoba. Hasilnya? Stigma terhadap pengguna narkoba semakin melekat dan penyebaran narkoba juga malah semakin marak. • 10by20, kami ajak teman-teman untuk menonton film dan berdiskusi bersama tentang kemungkinan pengelolaan 10% dana perang narkoba. Dana perang yang disisihkan dikelola lewat sektor kesehatan. • Kurangi pemenjaraan dan tingkatkan sektor kesehatan masyarakat. Diskusi bersama ini di inisiasi oleh @rumah_cemara dengan Bily M Sobirin sebagai produser Patri Handoyo @patrihandoyo dan Aditia Taslim @aditjah dan Zaky Yamani @omzakzak sebagai moderator foto oleh @adamrizkit

A post shared by Los Tjihapit (@los_tjihapit) on



Ia mulai membuka Los Tjihapit pada 2014. Dalam perjalanannya, ia bekerja sama dengan komunitas film Bandung, Layar Kita. Dengan komunitas ini ia rutin menggelar pemutaran film dan mengupas isi film tersebut. Sejak itu mulai banyak teman-teman komunitas yang ikut menggelar acara.

Tema diskusi pun beragam, mulai sastra atau novel, budaya, musik, dan masih banyak lagi. Ide acara muncul dari teman-teman Bayu sendiri. “Acaranya kadang spontan, hari ini dibicarakan tiga hari kemudian dimulai. Karena untuk acara ini kita tidak punya konsep. Jadi mengalir saja gaya pasar,” kata Bayu, saat berbincang dengan Era.id, pekan lalu.

Meski tak punya konsep, Bayu mengaku umumnya acara yang digelar di losnya lebih menekankan literasi dan edukasi. Tujuannya tidak lain untuk meningkatkan wawasan atau pengetahuan baru baik bagi penyelenggara maupun peserta. Termasuk untuk orang-orang pasar dan warga sekitar.

“Teman-teman pasar juga satu dua ada yang hadir, biasanya kalau acaranya yang berhubungan dengan hobi mereka. Misalnya kita pernah membahas pencak silat, ada teman pedagang yang suka silat ikut diskusi di sini,” katanya.

Acara di Los Tjihapit selalu dimulai pukul 15.00 ketika aktivitas pasar sudah tutup dan situasinya mulai sepi. Sore hari bagi sebagian orang menganggapnya waktu yang pas untuk santai sejenak sambil minum kopi dan ngobrol.

“Saya sendiri merasa sekolah kembali dengan kegiatan-kegiatan diskusi ini. Saya jadi belajar lagi, dapat wawasan sambil dapat duit (karena jualan kopinya laku),” kata pria berkacamata tersebut seraya tertawa.

Selain menjual kopi, Los Tjihapit juga menyediakan produk berupa kaos dan tas berlogo Los Tjihapit. 

Tag: kopi gayo

Bagikan: