Cerita Asisten Pribadi Freddie Mercury tentang Hari Akhir Sang Legenda Musik Rock

Tim Editor

Freddie Mercury, tengah, bersama orang-orang terdekatnya di Munich, Jerman. (Foto: Twitter)

ERA.id - Nama Peter Freestone sudah dikenal di lingkaran dalam band musik Queen sebagai asisten pribadi mendiang Freddie Mercury. Ia bekerja selama 12 tahun menemani sang legenda musik rock, bahkan menjadi perawatnya ketika Freddie bergulat dengan sakit AIDS yang merenggut nyawanya pada 24 November 1991.

Kedekatan Peter "Phoebe" Freestone pada Freddie Mercury tak perlu ditanyakan lagi. Bertemu pertama kali dengan Freddie saat bekerja di departemen kostum kelompok the Royal Ballet pada tahun 1979, keduanya langsung berteman akrab. Insting Peter lantas menuntunnya untuk keluar dari pekerjaannya terdahulu setahun kemudian, dan mulai bekerja dalam tim Freddie Mercury secara penuh sejak 1980.

Peter, yang menjadi penasihat dalam biopik tentang Freddie Mercury berjudul "Bohemian Rhapsody" (2019), telah membeberkan banyak hal tentang kedekatannya dengan sang bintang via kanal siniar "Ask Phoebe" di situs web Freddie Mercury.

"Saya merupakan tukang masak, pencuci gelas, pelayan, sekretaris, tukang bersih kamar, dan orang yang menenangkan (Freddie). Saya ikut berkeliling dunia bersama dia. Saya bersama dia ketika ia sukses, dan ketika ia merasa terpuruk," kata Peter mengenai pengalamannya bekerja untuk Freddie selama 12 tahun sebelum kematian sang vokalis hampir tiga dekade lalu.

"Saya adalah bodyguard-nya, dan pada akhirnya, tentu saja, saya adalah salah satu perawatnya."

Tentu saja Peter bercerita tentang infeksi HIV/AIDS yang menjangkiti Freddie Mercury sejak pertengahan 1980an. Peter menyatakan, seperti dikutip Smooth Radio, bahwa di dekade itu banyak orang dibayangi ketakutan akan terinfeksi HIV, virus yang menghabisi sistem kekebalan tubuh seseorang. Namun, seperti banyak orang, Freddie kala itu "tidak menggubris" penyakit itu dan meyakini bahwa penyakit itu tak mungkin terjadi pada dirinya.

"Namun, pada awal tahun 1987 Freddie mulai yakin bahwa ia sakit, namun, ia terus menerus menunda mencari konfirmasi dokter," kata Peter.

Akhirnya, berkat bujukan dari mantan pacar Freddie, Mary Austin, sang vokalis band Queen itu pun pergi ke dokterpada akhir April 1987. Dan seperti kemudian diketahui: Freddie positif terinfeksi HIV.

"Dokter mencoba menelepon Freddie, namun tak ada jawaban," kata Peter. "Akhirnya sang dokter menelepon Mary dan mengatakan padanya bahwa ia harus segera berbicara dengan Freddie."

Peter mengingat bagaimana kondisi Freddie Mercury, yang enerjik di atas pangung dengan brengos tebal, baju putih kutang seperti terlihat dalam konser "Live Aid" (Juli 1985), pelan-pelan menurun. Freddie pun menyadari ajal kian dekat.

Tim Freddie dan band Queen berencana membuat pengumuman mengenai kondisi Freddie sebelum ia meninggal, dan hal itu hampir tidak kesampaian. Seperti disampaikan Peter, "Ketika Freddie, setelah pulang dari Swiss tanggal 10 November 1991, memutuskan menghentikan pengobatannya, ia tahu bahwa ia harus membuat pernyataan publik."

"Ia menyiapkan semuanya. Dan saya rasa ia tahu ajalnya sudah dekat," kata Peter.

Salah satu instruksi yang dibuat Freddie sebelum kematiannya adalah soal bagaimana ia harus dimakamkan. Seperti dilansir Los Angeles Times, ia meminta agar upacara pemakamannya dilakukan dalam tradisi Farsi dan upacara harus dipimpin dua orang imam Farsi.

Seperti diketahui, Freddie Mercury lahir dalam keluarga etnis Persia. Ia lahir pada 5 September 1946 di Zanzibar dan memiliki nama asli Farrokh Bulsara. Meski ia jarang dipandang sebagai seorang yang relijius, teman-teman Freddie selalu memandangnya penuh hormat terhadap akar iman ibunya, yaitu agama Zoroastrian, sebuah agama monoteistik Persia yang sudah berusia sangat tua.

Namun, agama Zoroastrian ini tidak menerima homoseksualitas karena dianggap sebagai sikap pemujaan pada sifat jahat. Dan seperti diketahui, Freddie sendiri secara terbuka mengakui diri sebagai seorang gay. Banyak yang melihat perubahan nama dari Farrokh Bulsara menjadi Freddie Mercury adalah cara sang penyanyi untuk memberi jarak dirinya dengan tradisi Parsi yang dianut keluarganya.

Freddie dan timnya membuat pengumuman mengenai sakit yang dialami Freddie pada Jumat, 22 November 1991 pukul 20.00.

Pada 24 November 1991, Freddie Mercury menghembuskan nafas terakhirnya di rumahnya sendiri di Kensington. Ia meninggal di umur 45 tahun karena mengidap pneumonia bronkial yang diperparah oleh komplikasi HIV/AIDS yang ia derita.

"Saat itu tak ada yang menyangka bahwa Freddie akan pergi begitu cepat," kata Peter.

Tentang apa yang dilakukan Freddie di hari-hari terakhir hidupnya, Peter bercerita demikian.

"Freddie ada di lantai bawah di rumahnya, Garden Lodge, pada tanggal 20 November, karena ia ingin melihat koleksi seninya untuk yang terakhir kali. Terry (bodyguard Freddie) memapahnya menuruni tangga, namun ia berjalan mengelilingi ruang tengah dan ruang bertema Jepang sambil dipapah oleh salah satu dari kami. Ia berkomentar tentang bagaimana dan kapan ia mendapatkan karya seni di rumahnya itu. Tentu saja saat itu suasana rumah hening, namun, di hari-hari terakhirnya, Freddie tetaplah seperti Freddie yang kami kenal."

Tubuh Freddie langsung dikremasi sesaat setelah ia meninggal dunia dan diletakkan di tempat yang tak diketahui banyak orang. Peter sendiri mengatakan bahwa Freddie Mercury tak begitu peduli tentang apa yang akan terjadi setelah ia wafat.

"Saya yakin ia tak ingin diingat sebagai sekadar manusia yang menemui ajalnya," kata Peter.

"Ia pernah berkata pada Jim Beach (pengacaranya), 'Kamu bebas menceritakan saya dan karya seperti apa. Tapi tolong jangan membuat kisah hidup saya membosankan.'"

Tag: hiv/aids Freddie Mercury Band Queen

Bagikan: