Malala, Pijar Ilmu yang Kembali ke Negeri Seribu Cahaya

Tim Editor

Malala (kerudung merah jambu) dalam salah satu kampanye pendidikan (Sumber: Twitter/@Malala)

Islamabad, era.id - Enam tahun lalu, Malala Yousafzai hampir tewas di usia 14 tahun, dalam perjalanan pulang dari sekolah, ketika sekelompok orang menghentikan bus yang ia tumpangi dan merangsek masuk untuk menyerang. Malala tertembak di leher. Pelurunya menembus hingga kepala.

Taliban kemudian mengklaim berada di balik serangan. Serangan tersebut, dikatakan Taliban adalah reaksi atas kampanye Malala memperjuangkan hak bersekolah dan pendidikan bagi anak-anak dan perempuan di tempat kelahirannya, Pakistan.

Perjuangan Malala untuk pendidikan di Taliban dimulai sejak usia 11 tahun. Saat itu, Malala yang menggunakan nama samaran Gul Makai --atau bunga jagung dalam bahasa Urdu-- mulai menulis blog untuk BBC.

Lewat tulisannya, Malala menceritakan ketakutannya terhadap Taliban yang melarang perempuan-perempuan sebayanya bersekolah. Malala yang memiliki impian besar untuk mengenyam pendidikan pun bersuara lewat BBC soal keinginannya membantu menghadirkan pendidikan di Pakistan.

Tulisan Malala itu berhasil menyita perhatian dunia, hingga New York Times membuat film dokumenter tentang perjuangannya.

Setelah berhasil diselamatkan dari kondisi kritis akibat serangan itu, Malala diterbangkan ke luar Pakistan untuk menjalani serangkaian operasi. Sejak saat itu, Malala tak pernah lagi menyentuh tanah Pakistan.

Kini, di usianya yang ke-20 tahun, Malala kembali ke Pakistan. Pekan lalu, lewat akun Twitter @Malala, aktivis muda itu mengungkap kerinduan pada tanah airnya.

"Pada hari ini, aku merayakan kenangan indah tentang rumah, memainkan kriket di atas atap dan menyanyikan lagu kebangsaan di sekolah. Selamat Hari Pakistan!" tulisnya, sebagaimana dilansir Antara, Kamis (23/3).
 


Raih Nobel

Sejak meninggalkan Pakistan, Malala meneruskan perjuangannya dari luar Pakistan. Malala kesulitan buat pulang. Di kampung halamannya di Distrik Swat, intimidasi dan kekerasan terus terjadi.

Selain itu, Malala telah menjelma menjadi public enemy buat sejumlah golongan. Malala kerap diserang oleh masyarakat konservatif di Pakistan karena seringnya ia menggambarkan kemerosotan dan citra buruk yang tengah terjadi di Pakistan.

Usai menjalani operasi dan pulih dari peristiwa penembakan itu, Malala menetap di Inggris. Di sana, ia mendirikan Malala Fund, sebuah badan amal yang dibentuk untuk mengatasi berbagai masalah pendidikan di sejumlah negara konflik seperti Pakistan, Nigeria, Yordania, Suriah, hingga Kenya.

Berbagai perjuangan Malala untuk pendidikan membawa Malala pada reputasi yang amat tinggi di mata dunia. Di usia 17 tahun, Malala dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian untuk perjuangannya pada pendidikan.

Awal bulan ini, Malala akan membuka sekolah khusus gadis di kawasan Shangla, di dekat rumahnya di Distrik Swat. Sekolah itu dibangun Malala dengan uang hadiah Nobelnya.

Sang pijar kini telah kembali untuk menerangi Negeri Seribu Cahaya yang masih temaram dalam minimnya akses pendidikan.


Kutipan Malala (Sumber: Facebook/Malala Fund)

Tag: malala yousafzai nobel

Bagikan: