ERA.id - Viral Siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara bernama Fatih (8) meninggal diduga sehabis menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giri Kencana.
Kabar duka ini lantas membuat proyek penyediaan makanan tersebut diprotes lagi, setelah sebelumnya MBG membuat publik marah karena menu yang sampai ke penerima dianggap kemurahan dan minim gizi.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang pun mengaku kalau Fatih meninggal bukan karena keracunan MBG.
Nanik bilang, uji laboratorium yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan tidak ditemukan bakteri E. coli maupun indikasi cemaran lain seperti boraks, formalin, nitrit, arsen, sianida, ataupun temuan lain pada sampel makanan dari SPPG Giri Kencana.
"Informasi yang beredar dan mengaitkan kematian korban dengan dugaan keracunan MBG tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Fatih belum memakan menu MBG dari SPPG Giri Kencana ketika diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit," kata Nanik, Selasa kemarin.
BGN menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Fatih dan mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi serta menunggu informasi resmi berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan.
Nanik menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan medis, menunjukkan adanya pendarahan otak pada korban saat dilakukan pemindaian atau CT scan di Rumah Sakit Bhayangkara. Kondisi tersebut kemudian mengharuskan Fatih dirujuk ke Rumah Sakit Tiara Sella yang memiliki fasilitas dan peralatan untuk melakukan operasi bedah saraf.
Awalnya, Fatih mendapatkan penanganan di RS Lagita Ketahun. Namun, rumah sakit tersebut tidak melakukan perawatan intensif, tetapi hanya tindakan kegawatdaruratan karena kondisi kesadaran korban sudah menurun dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) 6, yang mengindikasikan cedera otak berat dan mengancam jiwa.
Setelah sejumlah rumah sakit di Bengkulu hingga Padang dihubungi namun fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) penuh, korban akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara. Hasil pemindaian otak (CT Scan) di rumah sakit tersebut menunjukkan adanya pendarahan otak.
Namun, Fatih membutuhkan tindakan lanjutan hingga akhirnya dirujuk ke RS Tiara Sella untuk menjalani operasi bedah saraf. Ia meninggal dunia sekitar 12 jam setelah operasi dilakukan.
Nanik menambahkan, dari sekitar 1.800 penerima manfaat MBG pada hari tersebut, hanya Fatih yang mengalami kondisi gangguan kesehatan. "Dari 1.800 penerima manfaat, tidak ada laporan kejadian serupa. Hanya satu kasus ini, dan secara medis ditemukan adanya pendarahan otak," ucap Nanik.