Mengenal Penyebab, Gejala, Risiko, Cara Mengobati Hipospadia, Kondisi Kelamin Langka Seperti Aprilia Manganang

| 10 Mar 2021 18:15
Mengenal Penyebab, Gejala, Risiko, Cara Mengobati Hipospadia, Kondisi Kelamin Langka Seperti Aprilia Manganang
Aprilia Manganang (Instagram)

ERA.id - Mantan atlet Tim Nasional voli putri, Aprilia Manganang, ramai dibicarakan saat ini karena kini dirinya dipastikan adalah seorang pria. Ia telah menjalani pemeriksaan media sejak 3 Februari 2021 lalu, dan akhirnya diketahui bahwa dirinya memang lahir sebagai seorang laki-laki dengan memiliki kelainan yang disebut hipospadia.

Hipospadia merupakan kelainan yang terjadi pada anak laki-laki, di mana pembukaan uretra (saluran yang membawa urin) tidak berada di ujung penis. Di bawah ini sudah dirangkum beberapa fakta mengenai hipospadia yang perlu untuk diketahui.

1. Penyebab terjadinya hipospadia

Dilansir dari dari website CDC atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, menduga terjadinya hipospadia pada kebanyakan kasus dikarenakan kombinasi gen dan faktor lain, seperti lingkungan dari sang ibu, makanan dan minuman, serta obat-obatan yang konsumsi ibu ketika mengandung. 

Setelah diteliti lebih lanjut, CDC menerangkan beberapa penyebab pasti seorang bayi mengalami hipopasdia. Mulai dari ibu yang berusia 35 tahun dan memiliki kondisi obesitas memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melahirkan bayi menderita hipospasdia. Seorang wanita yang menggunakan teknologi reproduksi untuk meningkatkan kesuburan juga memiliki resiko untuk melahirkan bayi hipospadia. 

Oleh karena itu, disarankan bagi seseorang yang sedang hamil ataupun ingin hamil harus membicarakan hal mengenai peluang untuk memiliki bayi yang sehat dan tidak menderita kelainan.

2. Gejala hipospadia

Hipospadia merupakan kondisi kelainan yang terjadi pada anak laki-laki, di mana uretranya berada bagian bawah penis, bukan di ujung. Anak laki-laki yang menderita hipospadia cenderung memiliki penis yang berbentuk melengkung. 

Akibat dari bentuk alat kelamin yang tidak normal, seorang anak dengan hipospadia akan mengalami masalah pengeluaran urin yang juga tidak normal dan bahkan mengharuskan mereka untuk duduk ketika buang air kecil.

 

3. Risiko yang ditimbulkan dari hipospadia

Jika tidak segera diobati, anak dengan hipospadia tidak hanya mengalami masalah ketika buang air kecil namun akan mengalami kesulitan di kemudian hari. Salah satu kesulitan terbesar yang akan dialami adalah ketika nantinya ia akan melakukan hubungan seksual. Ia akan mengalami gangguan ketika seharusnya ereksi ataupun ejakulasi.

4. Cara mengobati hipospadia

Untuk pengobatan hipospadia disesuaikan dengan jenis kelainan yang dialami si anak. Pada sebagian besar kasus hipospadia memerlukan pembedahan untuk memperbaiki bagian dalam. Pembedahan pada kasus hipospadia biasanya dikhususkan hanya untuk anak laki-laki berusia 3 hingga 18 bulan saja. 

Pembedahan untuk menyembuhkan penyakit ini dilakukan secara bertahap. Mulai dari operasi untuk meletakkan kembali uretra di posisi yang seharusnya, memperbaiki lekukan penis, dan memperbaiki kulit di sekitar uretra. Hal ini membuat anak penderita hipospadia tidak diperbolehkan untuk disunat. 

Itulah beberapa hal mengenai kelainan hipospadia yang harus kamu ketahui.

Rekomendasi