Presiden Macron: Prancis Tak Akan Tunduk oleh Teror

| 30 Oct 2020 17:33
Presiden Macron: Prancis Tak Akan Tunduk oleh Teror
Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu satuan polisi di depan Basilika Notre-Dame, Nice, Prancis. (Foto: Emmanuel Macron/Instagram)

ERA.id - Prancis tak akan tunduk oleh teror, kata Presiden Prancis Emmanuel Macron, sembari mendorong agar warganya bersatu dan saling menguatkan diri setelah sebuah serangan di Kota Nice menyebabkan tiga orang tewas, Kamis lalu.

Presiden Macron mengatakan bahwa peristiwa berdarah di gereja Basilika Notre-Dame di Nice sebenarnya sedang menyerang bangsa Prancis. "Tiga warga sebangsa kita meninggal di dalam basilika Nice hari ini, dan di saat yang sama satu orang diserang di konsulat Prancis di Arab Saudi," kata sang Presiden seperti dilansir koran The Guardian, Jumat (30/10/2020).

Dalam pernyataannya di kota Nice itu, Macron mengenang Pastor Jacques Hamel, seorang pemuka agama Katolik yang tewas dibunuh di dalam gereja kota Normandy, Prancis pada tahun 2016. Ia menyatakan dukungannya pada komunitas Katolik Prancis yang tengah berduka.

Macron juga berbicara untuk warga Nice yang sebelumnya pernah mengalami kejadian serangan teror yang memilukan.

Seperti diketahui, pada perayaan Bastille Daya tahun 2016, seorang pengendara bernama Mohamed Lahouaiej-Bouhlel mengendarai truk kargo dengan berat 19 ton ke arah kerumunan massa. Akibatnya, 86 orang tewas dan 458 orang luka-luka.

"Serangan atas kita kali ini disebabkan oleh nilai-nilai kita, keberpihakan kita pada kebebasan, yaitu kebebasan untuk bebas berkeyakinan dan tidak tunduk pada segala bentuk teror," kata sang presiden.

Berdasarkan pemaparannya, tentara Prancis saat ini sedang dikerahkan untuk melindungi berbagai tempat ibadah, khususnya gereja Katolik, karena pada Minggu nanti mereka akan merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus.

Jumlah tentara akan dinaikkan dari 3.000 menjadi 7.000 personil dan ditempatkan untuk menjaga sekolah-sekolah ketika aktivitas pelajaran dilanjutkan kembali hari Senin depan.

Dua jam pascakejadian di Nice, polisi di kawasan Avignon - yang berjarak 3 jam perjalanan kereta dari Nice - menembak mati satu orang yang menodongkan pistol ke para pedagang keturunan Afrika Utara.

Jaksa kota Avignon Philippe Guemas mengataman bahwa lelaki itu adalah anggota kelompok ekstrem-kanan Generation Identity dan ditengarai "berada dalam kondisi tidak stabil secara psikologis." Ia ditembak karena menolak meletakkan senjata dan tidak menghiraukan tembakan peringatan oleh polisi.

 

 

Rekomendasi