Trik Marketing Album SuperM yang Kontroversial

Tim Editor

Boyband SuperM (Allkpop)

Jakarta, era.id - Meningkatnya perkembangan teknologi saat ini mungkin menyurutkan produksi musik dalam bentuk fisik. Tetapi, hal ini tidak terjadi pada industri musik Korea Selatan yang sukses meningkatkan penjualan musik secara fisik.

Hallyu wave yang beberapa tahun belakangan kembali naik pesat memang mendatangkan keuntungan dari segi hiburan itu sendiri maupun ekonomi. Penggemar musik K-pop berhasil “disihir” dengan treatment yang diberikan idola mereka. Meskipun perlu merogoh kantong lebih, pun itu tidak masalah demi sebuah prestasi idola. Para agensi juga terus melakukan inovasi dalam marketing artisnya sehingga penjualan tetap terus meningkat.

Adalah SuperM, grup terbaru hasil kerjasama agensi SM Entertainment dan Capitol Records. Membernya terdiri dari anggota-anggota yang sudah lebih dahulu debut di bawah label SM Entertainment seperti Baekhyun dan Kai dari EXO, Taemin dari SHINee, Ten dan Lucas dari WayV serta Taeyong dan Mark dari grup NCT. Melihat formasi awalnya yang diisi dengan orang-orang yang profesional membuat SM Entertainment dengan berani menyebut SuperM adalah Avengers of Kpop.

Atas nama memperkenalkan K-pop ke negeri paman sam, tujuan ini dilirik sebelah mata oleh para penggemar. Pasalnya, banyak grup-grup K-pop yang sudah lebih dulu melakukan invasi ke Amerika Serikat. Lagipula, perkembangan internet yang semakin canggih juga membuat akses untuk musik Korea bisa lebih mudah dilakukan.



Grup proyek ini sempat ditentang oleh masing-masing penggemar dengan membuat trending tagar #BOYCOTTSUPERM. Para penggemar percaya proyek ini hanya membuat kesehatan para member berkurang, belum lagi baik SHINee, EXO, dan NCT masih aktif merilis lagu dan tur. Tetapi Baekhyun, salah satu member EXO yang juga menjadi SuperM percaya bahwa mereka akan menampilkan yang terbaik untuk grup ini.

Kemudian SuperM merilis album serta melakukan promosi secara masif di Amerika Serikat. Mulai dari membuat showcase perdana di Capitol Records, menghadiri acara televisi The Ellen Show, wawancara dengan media Amerika, mendatangi acara radio dan yang terbaru, mereka sedang menjalani tur Amerika Utara.

Pada hari Jumat (4/10) lalu, SuperM resmi debut dengan merilis musik video untuk lagu pertama bertajuk Jopping bersamaan dengan album fisik yang diberi judul SuperM The 1st Mini Album. Berisi tujuh lagu, album tersebut berhasil debut nomor satu di tangga musik Billboard Amerika Serikat. Prestasi ini juga menobatkan SuperM sebagai grup Kpop pertama yang debut di Billboard 200 Albums.

Album pertama SuperM berhasil menjual 168.000 unit album di minggu pertama penjualan. Dikutip dari Billboard, 164.000 adalah jumlah penjualan album sedangkan 4.000 adalah total streaming. Di era saat ini dimana streaming yang mendominasi, rasanya terdengar aneh jika penjualan album fisik lebih besar dibanding angka streaming. Apalagi menurut peraturan Billboard, 1500 jumlah putar terhitung sama dengan satu penjualan. Yang berarti total pemutaran satu album SuperM hanya 4 juta lebih dalam satu minggu.

Hal ini berbeda dengan musisi yang menempati urutan ke dua di tangga tersebut, Summer Walker. Penyanyi asal Amerika ini berhasil menempatkan album debutnya, Over It ke dalam tangga Billboard. Dengan penjualan 134.000 dimana 14.000-nya adalah jumlah penjualan album sedangkan lebih dari 155 juta total streaming untuk album tersebut.

Banyak sumber mengatakan penjualan SuperM didominasi pembelian dari Korea dibandingkan Amerika, kemungkinan besar penggemar dari masing-masing grup. Sejak awal memang tertulis bahwa penjualan dari luar Amerika juga terhitung dalam tangga musik Billboard. SuperM merilis album pertama mereka dalam sembilan versi yaitu versi member dan versi grup. Uniknya, selain menjual album fisik, mereka juga menjual bundling berupa album dan baju augmented reality (AR). Baju AR ini akan membuat grafik dalam baju bisa bergerak. Bundling itu dijual seharga 35 dollar AS.
 

Seorang sumber mengatakan kepada The Kpop Herald, “Banyak album yang terjual di Korea. Kantor saya mengimpor banyak sekali album.” kata importer lokal yang menolak memberitahu jumlah secara detil.

Agensi SM Entertainment sendiri mengatakan bahwa strategi marketing ini dibuat oleh Capitol Records tanpa menjelaskan lebih lanjut. Korea Music Content Association (KOMCA) tidak ingin menjelaskan panjang tetapi ini kasus yang tidak biasa untuk sebuah grup Kpop yang debut di luar Korea tanpa merilis lisensi Korea untuk memaksimalkan penjualan album.

Sebenarnya, penjualan bundling seperti ini bukanlah hal baru bagi idola Kpop. Mereka selalu merilis sebuah album dengan berbagai benefit. Ada grup Red Velvet yang menjual bundling album dilengkapi foto polaroid, penanda koper, serta poster.. Tren ini juga belakangan diikuti oleh musisi dari Amerika Serikat, sebut saja ada Taylor Swift yang menjual empat versi berbeda untuk albumnya Lover dimana masing-masing album memiliki isi yang berbeda. Selain itu ada Ariana Grande yang menjual bundling album bersama sweater dan kode presale untuk memesan tiket konser tur Ariana eksklusif bagi pemesan pre-order.

Kasus berbeda dialami oleh DJ Khaled. Pada perilisan The Father of Asahd yang dirilis tahun ini harus masuk di urutan ke dua tangga musik Billboard dengan penjualan 136.000 unit setelah sempat menjadi nomor satu. Alasannya, Billboard mendiskualifikasi DJ Khaled yang menjual bundling albumnya dengan minuman berenergi.

Para penggemar yang mengetahui hal ini sempat menaikkan tagar kalimat Merch Is Not Music ke barisan trending topik. Menurut mereka, hal ini sama saja dengan kecurangan karena tidak memperhatikan kualitas musik yang dirilis dan lebih berfokus dengan angka penjualan saja. Menurut kalian, bagaimana?

Tag: kpop korea selatan album musik

Bagikan: