Diet Sehat Pegulat Sumo dan Kisah Kompetisi di Masa Pandemi

Tim Editor

Sebuah kompetisi gulat di Jepang (Flickr/Davidgsteadman)

ERA.id - Sumo. Olahraga gulat kelas berat asal Jepang in identik dengan bobot masif para pegulat - rata-rata 160,2 kilogram - akibat pola diet dan tuntutan kompetisi. Namun, menyusul meninggalnya satu pesumo muda akibat komplikasi COVID-19, banyak pihak kini mendorong pesumo untuk lebih berhati-hati dalam melayani selera makan mereka.

Namun, siapa lagi yang lebih pantas mewanti-wanti soal diet selain Ōrora, pegulat sumo profesional, atau rikishi, dengan bobot 292 kilogram, yang praktis memiliki badan paling masif di dalam sejarah olahraga sumo di Jepang.

"Sulit rasanya untuk hidup sehat selama Anda hidup sebagai seorang pegulat sumo," kata Ōrora dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Asahi Shimbun. "Kesehatan Anda bergantung pada diri Anda sendiri. Tak satupun orang dalam padepokan sumo yang akan mempedulikan Anda."

Hal ini diucapkan Ōrora pascameninggalnya Shobushi, seorang pegulat sumo profesional berusia 28 tahun, yang meninggal karena terinfeksi COVID-19. Dokter menemukan bahwa infeksi pada Shobushi menjadi fatal akibat ia memiliki problem kesehatan kronis.

Pola makan harian para sumo mencakup chanko nabe, rebusan daging, ikan, dan sayuran, yang kaya protein dan rendah lemak. Namun, tekanan untuk tetap kompetitif membuat para pesumo melahap makanan melebihi kebutuhan 4.000 kalori yang diperlukan untuk mengembalikan energi pascalatihan di pagi hari.

Ōrora paham betul mengenai kondisi tersebut. Pegulat yang pensiun dari dunia sumo pada tahun 2018 dan kini memakai nama Mikhakhanov, sudah berbobot 190 kilogram ketika menjadi pesumo profesional. Namun, sebelum pensiun, ia sudah berbobot 292,6 kilogram. Ia bahkan mencapai bobot 288 kilogram pada tahun 2017, sehingga menjadi rikishi paling 'berbobot' dalam sejarah olahraga sumo. Rekor sebelumnya dipegang oleh pesumo kelahiran Hawaii Konishiki yang memiliki berat badan 285 kilogram.

Tiap hari, Mikhakhanov bisa melahap 200 lembar daging sushi dan satu krat bir, dan itupun masih akan ditambah beberapa mangkuk nasi yang kadang diberikan oleh sesama pesumo. Akibatnya, ia menderita tekanan darah tinggi dan merasa mudah lelah.

"Setelah makan, saya akan berbaring. Ini bukan kebiasaan yang baik," katanya pada koran yang sama. "Bahkan untuk sekadar berjalan atau bergerak saja saya kesusahan."

Pertandingan sumo di Jepang
Pertandingan sumo di Jepang (Flickr/Wilhelm J. Andersen)

Makin Masif, Makin Kompetitif

Mikhakhanov bukan satu-satunya orang yang kesulitan mengatur pola makan.

"Para pegulat di kelas tertinggi makuuchi memiliki berat rata-rata 160,2 kilogram, atau 15 kilogram lebih berat dari puluhan tahun lalu. Indeks massa tubuh mereka lebih dari 47, padahal para dokter menilai indeks di atas 30 menandakan obesitas," katanya.

Memiliki ukuran tubuh masif dianggap sebagai suatu keuntungan dalam olahraga sumo, hal ini seperti dikatakan oleh John Gunning, mantan pesumo amatir asal Irlandia yang kini bekerja sebagai komentator olahraga sumo di Jepang.

"Semakin besar dan berat Anda, lebih baik. Ini bukan olahraga aerobik. Jika mau karir Anda bagus, maka tubuh Anda harus besar, dan dengan itu Anda mungkin harus mengorbankan kesehatan Anda sendiri," kata Gunning, seperti dilansir The Guardian.

Namun, berbeda dengan olahraga kontak fisik yang intens, misalnya rugby atau American football, yang telah mengubah pola latihan, sumo sampai saat ini masih melakukan pola latihan dan pola latihan "yang dilakukan 20 tahun bahkan 200 tahun yang lalu."

Baru-baru ini Asosiasi Sumo Jepang telah mempublikasikan 10 panduan kesehatan yang meliputi diet kaya ikan dan sayuran, selain juga asupan daging. Pesumo harus menghindari keripik, kue, dan makanan kecil lainnya. Mereka juga dianjurkan untuk mengunyah makanan dengan benar. Namun, meski Asosiasi tersebut rutin mengecek kesehatan para pesumo, mereka tak bisa mengendalikan pola makan dan gaya hidup di padepokan sumo yang tersebar di Jepang.

"Kebanyakan pegulat mulai berlaga di umur 20an dan mereka berada di lingkungan yang kompetitif," kata Gunning.

"Tekanan terus meningkat dan tak ada cara untuk melepaskannya. Hobi makan bisa mengurangi stres semacam itu, lagipula badan kami pun bertambah besar."

Pada Kamis, (10/9/2020), Asosiasi Sumo Jepang mengatakan bahwa turnamen utama sumo tetap akan digelar di Tokyo hari Minggu depan, meski 27 pesumo dari kelompok Tamanoi, termasuk kepala padepokannya, positif terjangkit COVID-19.

Pandemi COVID-19 sempat memaksa otoritas sumo Jepang untuk menyelenggarakan turnamen sumo di bulan Maret tanpa penonton. Namun, dalam turnamen di bulan Juli lalu, penonton dipersilakan hadir dengan jumlah dibatasi maksimal 2.500 orang dan mereka diharuskan memakai masker, serta tidak diperbolehkan bersorak-sorai.

Tag: diet olahraga jepang pandemi COVID-19 sumo

Bagikan :