Media Asing Sebut Menkes Terawan Paling Bertanggung Jawab Atas Pandemi COVID-19 di Indonesia

Tim Editor

Menkes Terawan Agus Putranto (Dok. Kemenkes)

ERA.id - Kinerja Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto disoroti media asing. Mereka heran mengapa Terawan masih dipercaya menjadi Menkes.

Media yang berbasis di Hong Kong, Asia Times menyebut dokter yang berasal dari militer ini awalnya berusaha untuk mengecilkan ancaman virus Corona itu, kini seperti ”menghilang” dari narasi publik dan dalam aksi memerangi pandemi Covid-19.

"Ini semakin membingungkan mengingat Kementerian Kesehatan adalah rumah bagi kelompok virus terbesar di Ibukota Jakarta dengan 252 kasus yang telah dikonfirmasi. Angka itu diikuti oleh Kementerian Perhubungan (175), Komisi Pemberantasan Korupsi (106) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (89), menurut data dari Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta," tulis Asia Times, Selasa (22/9).

Asia Times juga menyoroti soal pelibatan personel militer sebagai tenaga tambahan untuk memperkuat 50.000 petugas polisi yang dikerahkan di lingkungan pinggiran kota Jakarta.

"Tujuannya untuk memaksa orang-orang mematuhi protokol kesehatan, termasuk pemakaian masker dan menjaga jarak secara fisik," tulis Asia Times.

Terawan disebut tak paham mekanisme dan SOP dari sisi medis. “Ada perbedaan besar antara bekerja di rumah sakit dan di kementerian,” kata seorang pejabat yang enggan disebut namanya.

Menkes Terawan Agus Putranto (Dok. Kemenkes)

 

Terawan juga disebut pernah mengeluh kepada rekan sesama menteri bahwa dia tidak bisa bekerja sama dengan beberapa birokrat di Kemenkes.

Baru-baru ini, malah Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan, ditugaskan untuk menangani pandemi di delapan provinsi terparah di DKI Jakarta, Jawa Barat, Tengah dan Timur, Bali, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan. dan Papua.

Pendiri Koalisi Komunitas untuk COVID-19, Irma Hidayana menilai jika Terawan melakukan tugasnya dengan baik sejak awal, virus itu bisa dikendalikan. Ia ingat ketika COVID-19 menguasai kota Wuhan di China dan menyebar ke Asia Tenggara pada akhir Februari, Terawan hanya meminta orang Indonesia untuk berdoa.

"Jika ada negara lain yang memprotes cara kami, biarkan saja. Ini adalah hak bangsa kita untuk mengandalkan Yang Maha Kuasa," ucap Terawan kala itu.

Pakar epidemiologi menyarankan pemerintah mengubah strategi dan fokus dalam penanganan di sembilan provinsi zona merah yang menyumbang 177.000 kasus.

 

Tag: dokter terawan

Bagikan: