Setahun Setelah Pria Asal Hubei Menjadi Pasien COVID-19 Pertama di Dunia

Tim Editor

Beberapa poster yang terpasang di Hosier Lane, Melbourne VIC, Australia, mengenang meninggalnya Dr Li Weinliang, salah satu 'whistleblower', di awal merebaknya kasus COVID-19. (Foto: Adli Wahid)

ERA.id - Kasus pertama infeksi COVID-19 terjadi pada 17 November 2019 dan menginfeksi satu pria asal Provinsi Hubei, China, demikian disebutkan dokumen pemerintah China yang dipublikasikan koran South China Morning Post (13/3/2020). Setahun setelah terinfeksinya pasien tersebut, seperti yang kita tahu, COVID-19 telah menjadi wabah yang mengharu-biru di seluruh dunia.

Awalnya, para dokter heran dengan kemunculan penyakit 'misterius' di antara para pasien di rumah sakit Kota Wuhan. Koran SCMP melaporkan bahwa pada bulan Desember para 'whistleblower' di dunia kedokteran China sudah mulai berfirasat bahwa mereka sedang menghadapi suatu virus baru.

Akhirnya setelah proses pelacakan, pemetaan kasus infeksi yang tak terdokumentasikan, kesimpulan otoritas kesehatan China adalah demikian: pria berumur 55 tahun asal Provinsi Hubei bisa jadi merupakan pasien pertama COVID-19 dan ia terinfeksi pada tanggal 17 November 2019.

Sejak saat itu, seperti disebutkan dalam dokumen pemerintahan yang sama, satu hingga lima kasus COVID-19 mulai muncul setiap harinya. Pada 15 Desember, total kasus positif COVID-19 yang terlacak berjumlah 27 kasus, dan dua hari kemudian mulai didapati pertambahan kasus sebanyak dua digit. Pada tanggal 20 Desember, total kasus virus korona telah mencapai angka 60 kasus.

Pada 27 Desember, Zhang Jixian, dokter dari Hubei Provincial Hospital of Integrated Chines and Western Medicine menyampaikan pada otoritas kesehatan setempat bahwa penyakit yang mereka alami berasal dari virus korona baru. Pada hari itu, 180 orang telah terinfeksi, meski dokter memperkirakan angka itu belum mencakup semua kasus infeksi yang tengah terjadi di masyarakat.

Pada 31 Desember, total kasus telah merangkak naik ke angka 266. Satu hari kemudian, angka ini langsung melejit menjadi 381 kasus.

Dengan data jumlah pasien yang telah tersedia, peneliti virus dan wabah di China mulai berani melacak awal mula virus yang hingga saat ini ditengarai terjadi akibat loncatan infeksi dari hewan ke manusia. Mereka juga telah mendapati sembilan pasien yang masuk rumah sakit di bulan November. Usia mereka berkisar antara 39 hingga 79 tahun, namun, belum diketahui siapa dari mereka yang berasal dari Kota Wuhan. Dan belum diketahui siapa pasien yang pertama tertular di antara mereka, hingga akhirnya jejak pertama ditemukan di pria asal Hubei tadi.

Mengenai tanggal penemuan pertama kasus COVID-19 sendiri sempat terjadi kesimpangsiuran. Situs Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa kasus pertama korona muncul pada 8 Desember, namun, sayangnya WHO saat itu tidak melakukan pelacakan secara mandiri dan hanya menggunakan data yang disediakan sejumlah negara, seperti disampaikan SCMP.

Ada pula, seperti disebutkan beberapa dokter Jinyintan Hospital di Jurnal Lancet, asumsi bahwa rumah sakit pertama kali merawat pasien yang terinfeksi COVID-19 pada 1 Desember.

Dr Ai Fen, salah satu 'whistleblower', juga sempat menyatakan dalam wawancara dengan majalah People bahwa, berdasarkan hasil tes, pasien pertama COVID-19 muncul di tanggal 16 Desember.

Informasi yang simpang siur juga disebabkan oleh beberapa hal. Beberapa laporan menyatakan kesulitan mengonfirmasi sampel suspek COVID-19 di bulan Desember karena dipersulit birokrasi kesehatan setempat. Ketika itu para dokter harus mendapatkan persetujuan konfirmasi dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) China yang menghabiskan waktu beberapa hari per kasusnya. Mereka juga diminta untuk tidak membeberkan informasi kemunculan penyakit baru itu ke publik.

Hingga 11 Januari, otoritas kesehatan Wuhan masih mengklaim jumlah kasus korona baru di kota itu hanya sejumlah 41 kasus.

Dan sejarah pun akan mencatat bahwa transparansi yang buruk oleh pemerintah China saat itu berakibat pada meluasnya wabah COVID-19.

Sejak wabah korona baru dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO pada 11 Maret 2020, hanya sejumlah kecil negara yang masih terbebas dari COVID-19, seperti Marshall Island, Futuna, Solomon Islands yang ada di tengah Samudera Pasifik. Di negara-negara lain, pandemi korona telah menyebar dengan sangat cepat, misalnya seperti di Amerika Serikat yang mencatatkan 1 juta infeksi COVID-19 hanya dalam waktu delapan hari.

CSSE John Hopkins 18 november
Panel penghitungan kasus COVID-19 di dunia oleh Johns Hopkins University per 18 November 2020. (Sumber: CSSE Johns Hopkins University)

Berdasarkan pencatatan Johns Hopkins University, total kasus COVID-19 global telah menembus angka 55,5 juta di mana lebih dari 1,3 juta kasus tersebut berujung pada kematian.

Pandemi COVID-19 juga menghasilkan sejumlah dampak lanjutan seperti gelombang protes menolak pembatasan sosial dan lockdown, banyaknya manusia yang kehilangan pekerjaan, hingga resesi ekonomi. Indonesia sendiri pada tahun ini, untuk pertama kalinya selama 20 tahun terakhir, melaporkan tengah mengalami resesi ekonomi yang berakibat pada peristiwa PHK dalam skala besar-besaran.

Tag: sejarah china pandemi COVID-19

Bagikan: