Pertama di Dunia! Alat Deteksi COVID-19 Lewat Bau Ketiak i-nose c-19 dari ITS

Tim Editor

I-nose (Dok. Kemenristek)

ERA.id - Sebuah alat pendeteksi awal Covid-19 dikembangkan oleh Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, dan RS Ahmad Yani, Surabaya. 

Alat itu bernama i-nose c-19, yang merupakan alat screening Covid-19 melalui bau keringat ketiak (axillary sweat odor) hasil inovasi guru besar ITS, Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD. 

Dengan i-nose c-19, screening Covid-19 dapat dilakukan dengan mudah tanpa adanya rasa sakit. Masing-masing RS mendapatkan dua alat yang akan diletakkan di lobi RS dan di ruang perawatan.

i-nose c-19 (Kemenristek)

 

Ketua Yarsis, Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA mengatakan, i-nose c-19 tidak menggantikan tes PCR tapi sebagai screening atau deteksi awal.

"Sebagai RS berbasis pendidikan kami harus mendukung inovasi di bidang kesehatan. Untuk itu alat yang dikembangkan Prof Ryan ini akan menjadi deteksi awal Covid-19," ujar Prof Mohammad Nuh, Senin (22/2). 

Menurutnya, i-nose c-19 akan membantu bagi para penunggu pasien yang harus melakukan screening terlebih dahulu.

"Alat ini sangat terjangkau biayanya Rp10 ribu, bagi masyarakat alat dengan harga terjangkau ini akan sangat membantu," imbuhnya. 

Dia mengungkapkan, screening ini cukup aman karena tidak menular dan hasil bisa didapatkan dengan waktu 2 sampai 3 menit.

Mohammad Nuh menegaskan, i-nose c-19 bukan sebagai penganti PCR, tapi hanya untuk screening awal secara cepat.

"Alat ini tidak bisa mengantikan kalau memang diperlukan masih harus melakukan tes PCR," ungkapnya. 

i-nose c-19 adalah merupakan alat screening Covid-19 pertama di dunia yang mendeteksi melalui bau keringat ketiak (axillary sweat odor). 

Cara kerja i-nose c-19 ialah mengambil sampel dari bau keringat ketiak seseorang dan memprosesnya menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Alat i-nose c-19 sendiri menyerupai scanner yang dioperasikan dengan mudah. Opeator cukup menggunakan sarung tangan dan masker sebagai perlindungan dasar. 

Keringat ketiak merupakan non-infectious, yang berarti limbah maupun udara buangan i-nose c-19 tidak mengandung virus Covid-19. 

Setelah menjalani screening, pasien akan mendapatkan hasil dalam bentuk reaktif atau nonreaktif, yang dikirim ke alamat surel. 

Jika reaktif maka dianjurkan untuk melanjutkan tes swab PCR. Selain itu, alat ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknologi screening Covid-19 lainnya.

Sampling dan proses berada dalam satu alat, sehingga seseorang dapat langsung melihat hasil screening pada alat tersebut Hal ini tentunya menjamin proses yang lebih cepat.

Ryan memaparkan bahwa kecanggihan dari i-nose c-19 adalah cara kerjanya dengan memanfaatkan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk memproses sampel dari bau keringat ketiak.

“Bau keringat akan diubah menjadi sinyal listrik yang kemudian diklasifikasikan menggunakan AI,” terang Ryan.

Selain itu, adanya fitur near-field communication (NFC) memudahkan pengisian data yang cukup dengan menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat Covid-19. Penggunaan cloud computing sebagai penyimpan data juga mendukung i-nose c-19 agar dapat terintegrasi dengan publik, pasien, dokter, rumah sakit maupun laboratorium.

Sampai sekarang, sudah ada enam i-nose c-19 yang berhasil diproduksi. Namun diperlukan sekitar 10 – 20 alat untuk kebutuhan pengujian sampel yang lebih banyak ke depannya.

”Alhamdulillah dari kementerian (Kemenristek/BRIN, red) mendukung dalam pembuatan alat baru dan operasionalnya nanti,” ungkap Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD.

Tag: its i-nose deteksi corona alat deteksi covid-19 keringat ketiak

Bagikan:


REKOMENDASI