Danny: Sosok yang Merobohkan Kekuatan 4 "Raksasa" Politik di Sulsel

Tim Editor

Danny Pomanto (Antara)

ERA.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar sudah mengumumkan hasil akhir rekapitulasi Pilkada. Dalam hitungannya, Danny Pomanto-Fatmawati Rusdi menjadi pemenang, mengalahkan tiga calon yang disokong empat "raksasa" politik di Sulsel sekaligus Makassar.

Danny patut menangis haru saat melihat hasil lembaga survei yang menempatkannya sebagai pemenang dalam versi hitung cepat. Dalam sebuah video yang viral, matanya berair kemudian dipeluk banyak orang.

Bagaimana tidak, dirinya pada Pilkada Makassar 2018 terdiskualifikasi akibat melanggar aturan KPU. Dia sempat sedih, tapi tidak patah semangat untuk kembali ke trek Pilkada Makassar 2020. Pada 2018 lalu, ia berhadapan dengan ponakan Jusuf Kalla, Munafri Arifuddin, suami dari Melinda Aksa, putri Aksa Mahmud dan Ramlah Kalla. Namun kenyataan berkata lain sebelum pemilihan dilangsungkan.

Danny kini patut berbangga, bersama Fatmawati Rusdi, ia berhasil menghentikan langkah tiga "raksasa" politik di Sulsel dan Makassar. Siapa saja mereka?

Pertama adalah mantan Wali Kota Makassar dua periode, Ilham Arif Sirajuddin (IAS) atau kerap disapa Aco. Ilham yang punya magnet besar di Makassar, bersepakat untuk mendampingi anak didiknya, Syamsu Rizal alias Deng Ical.

Ical dan IAS/IST

 

Ya, Deng Ical memang selalu percaya kalau IAS adalah guru politiknya. Itu ia katakan dalam debat terakhir, saat diberi kesempatan menutup debat. Kedekatan Ical dan IAS tak perlu diragukan lagi. Saat rezim Danny berkuasa pada periode pertama, turut andil kekuatan IAS lewat sosok Ical yang mendampingi Danny selama 5 tahun.

Belakangan, karena sudah tidak sevisi dan semisi, hubungan Ical dengan Danny kurang harmonis sebelum menutup pemerintahan. Meski begitu, Ical berkali-kali menjelaskan, kalau mereka tidak bermusuhan, hanya berbeda pandangan.

Melihat kondisi itu, IAS berinisiatif untuk mendorong Ical maju dalam pesta lima tahunan untuk melawan Danny. Akhirnya, setelah menghalau kesulitan, Ical memilih Fadli Ananda, pengusaha dan dokter yang punya nama di Makassar.

Ilham Arif/IST

 

Kedua yakni Aksa Mahmud. Orang yang dituakan di Sulsel dan Makassar ini, cukup berpengaruh. Aksa Mahmud adalah pengusaha yang sudah go nasional. Ia cerdik dalam berbisnis. Politik? Tentu saja. Perannya dalam membawa SBY-JK, Jokowi-JK, serta Anies-Sandi memenangi pilkada jangan ditutupi. Bersama anaknya, Erwin, ia berhasil menancapkan pengaruhnya sampai di Ibu Kota dan Indonesia.

Beberapa tahun yang lalu, sahabat Aksa Mahmud, mendiang Malik Rum, mengaku kalau Aksa seorang pebisnis yang rajin belajar dan pandai membaca peluang. "Aksa merintis Bosowa dari awal. Susah payah dia jalankan. Gigihnya dia dalam berusaha itu patut dicontoh. Saya ingat waktu dia ketemu Ramlah, saya turut menghubungkan mereka berdua," terangnya beberapa tahun silam.

Nurdin Halid, Aksa Mahmud, dan Jusuf Kalla/IST

 

Kecakapan Aksa dalam berbisnis ingin dipadukan untuk membangun Makassar serta klub sepak bola tertua Indonesia, PSM. Akhirnya, Appi didorong untuk maju melawan Danny sembari mengurus klub bola tersebut.

Ketiga dan keempat yakni Nurdin Halid dan Syahrul Yasin Limpo. Dua orang ini, meski saat Syahrul masih menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, sering gontok-gontokan dalam Golkar, akhirnya kepentingan mereka menyatu dalam Pilkada Makassar.

Nurdin Halid adalah sosok yang fenomenal memang. Lewat sepak bola, ia dikenal cerdik dan sempat membawa PSM juara. Nurdin menjabat manajer PSM mulai tahun 1995/1996. Sejak saat itu, beberapa transformasi dilakukan oleh Nurdin untuk membuat PSM jadi klub papan atas. Prestasi PSM terus menanjak. Pemain-pemain terbaik pun berdatangan.

Puncak kesuksesan kemudian terjadi pada tahun 2000 saat PSM menjadi juara Liga Indonesia. Selain itu, PSM juga pernah jadi kampiun dalam Ho Chi Minh Cup dan menembus babak 8 Besar Liga Champions Asia.

Karier politiknya ya di Golkar. Siapa saja yang menjadi Ketua Umum, namanya selalu bisa masuk dalam formatur. Ini bukti kalau memang dirinya bukan "kaleng-kaleng" dalam kerasnya dunia politik apalagi dalam partai sebesar Golkar.

Syahrul? Sosok satu ini apalagi. Ia memulai kariernya sebagai birokrat dari Kepala Desa Karabasse, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa. Setelah itu dipercaya jadi Lurah Karabasse dan Camat Bontonompo pada tahun 1984.

Syahrul Yasin Limpo (Era.id)

 

Kemudian ia ditempatkan di sejumlah jabatan penting, baik itu di Kabupaten Gowa, Kota Makassar sampai menjabat di beberapa posisi di Pemerintahan Provinsi Sulsel.

Pada 1980, SYL diterima sebagai PNS, kemudian memimpin Kepala Seksi Tata Kota Makassar 1982. Kepala Sub Bagian Perangkat IV dan V Biro Pemerintah Makassar 1983.

Anak dari pasangan Haji Muhammad Yasin Limpo dan Nurhayati Yasin Limpo ini terpilih sebagai Bupati Gowa sejak 1994-2002. Setelah itu terpilih sebagai Wakil Gubernur Sulsel 2003-2008 dan Gubernur Sulsel 2007-2018. Selanjutnya, lihat saja, ia menjadi Menteri Pertanian sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan Ad Interim era Jokowi-Ma'ruf.

Walau begitu, Irman Yasin Limpo yang notabene adik Syahrul dan Zunnuh Halid, anak dari Nurdin Halid, tak mampu membawa pengaruh kakak dan ayahnya. Ia akhirnya harus mengakui kemenangan Danny-Fatma.

Danny-Fatma/IST

 

Kini, Danny menjadi lelaki bak David. Ia menyetop langkah Goliath atau "raksasa" dalam perpolitikan di Makassar. Dalam hitungan suara dari KPU, pasangan Danny-Fatma memperoleh jumlah suara total sebanyak 218908 (41.3 persen), Appi-Rahman 184094 (34.7 persen), Ical-Fadli 100869 (19.0 persen) dan Irman-Zunnun 25817 (4.9 persen).

Tag: makassar Pilkada Makassar Danny Pomanto

Bagikan: